karsha 2019 87585684sgsgsgswtwtw

Let it flow!

Karsha, band asal Yogyakarta yang terbentuk di awal tahun 2017 ini perlahan mulai mencuri perhatian lewat sederet lagu yang sudah mereka ciptakan. Band yang beranggotakan Agustina Lestari (vokal), Alfin (gitar, vokal), Yusdhy Prakoso (gitar), Ari Armanda (gitar), Yuri Ramadhan (bass), Syarif Hidayattulah (keyboard), dan Yordannata Rindhi (drum) tersebut mencoba menawarkan musik chamber pop. Saat Karsha berkunjung ke kantor Provoke!, P! pun mencoba mengenal lebih jauh mengenai Karsha. Langsung aja yuk simak!

P!: Ceritain dong soal awal mula terbentuknya Karsha?

Yusdhy: Jadi dari akhir tahun 2016 aku sudah ada wacana untuk membentuk sebuah band, kebetulan aku kenal sama Sasi Kirono udah lama banget. Dia adalah salah satu orang di balik terbentuknya Karsha. Jadi dari dulu Sasi punya cita-cita pengen jadi produser musik. Lalu dia bilang ke aku, "Ayo kamu bikin proyek, nanti aku yang jadi produsernya." Singkat cerita aku membentuk band dan mencari personelnya di awal tahun 2017. Aku langsung sounding ke anak-anak, gimana kalau kita bikin proyek? Basic-nya kita memang satu kampus dan satu organisasi, jadi udah kenal banget. Di bulan Mei 2017, kita masuk studio untuk pertama kali dan coba ngejam. Lalu aku diminta Sasi untuk mulai bikin materi. Di tahun 2017, kami sempat beberapa kali main, sampai akhirnya aku stop. Kami sempat nggak manggung kurang lebih setahun untuk fokus ke materi sejak akhir tahun 2017. Kami fokus ke materi, workshop, dan latihan.

P!: Kenapa memilih nama Karsha?

Yusdhy: Dulu namanya bukan Karsha, tapi Kacang Kulit Terasa. Waktu itu aku diprotes beberapa teman, "Ngasih nama tuh yang bener gitu lho, kamu bikin musik kayak gini, tapi kok nama band-mu nyeleneh banget." Akhirnya aku menemukan nama Karsha tuh gara-gara melamun dan bingung. Nama Karsa aku pilih karena enak juga sih, artinya bagus, yaitu kehendak. Aku kemudian coba cari di Instagram, kok udah banyak yang pakai, akhirnya aku tambahin 'h' jadi Karsha. Nah, ini ada sedikit cerita lagi, kenapa kok nama Instagram kami adalah @mahakarsha? Itu karena kami terinspirasi Robbrs yang memakai nama akun @gudrobbrs. Robbrs aja di-Tuhan-kan, kenapa kami nggak sekalian diagungkan gitu? Hahaha. Aku sendiri mengikuti dan suka sama Robbrs, vokalisku juga suka banget sama Lintang (vokalis Robbrs). Cuma kenapa akhirnya aku ambil nama Karsha karena basic-nya Kacang Kulit Terasa tadi. Pernah aku singkat jadi KKR kok kayak merek speaker. Hahaha.

P!: Apa yang membuat Karsha memutuskan untuk mengusung genre chamber pop?

Yusdhy: Genre kami lebih ke chamber pop ya. Jadi kami untuk musik kiblatnya lebih ke Islandia. Untuk konsep materi, aku arahkan ke band Hillsong karena aku memang suka banget. Pastinya, masalah referensi musik, aku memang punya banyak referensi untuk mengemas musik yang kami buat.

P!: Gimana sih proses kreatif kalian dalam menciptakan lagu? Ada resep khusus nggak?

Yusdhy: Kebetulan dari lagu-lagunya Karsha, untuk masalah lirik yang nulis vokalis kami, Tari. Karena aku pengen, apa yang dinyanyikan vokalis itu dia paham dengan apa yang dia tulis. Aku benar-benar kasih kebebasan ke dia. Paling batasannya soal notasi supaya nggak keluar jalur dari musiknya Karsha. Sedangkan kalau musik biasanya lebih ke aku pribadi, jadi ketika aku udah enak, aku share ke anak-anak. Nah untuk aransemen biasanya kami kerjakan bareng-bareng. Setelah aransemen, bikin demo, workshop, dan lain-lain baru setelah itu kami ketemu Sasi untuk pengemasan produksi.

P!: Dari sekian banyak lagu yang udah diciptakan, apa sih lagu favorit kalian?

Yusdhy: Ada lagu Karsha yang keempat yang paling aku suka dan memang belum kami rilis. Rencana bulan November akan rilis. Menurutku lagu itu cocok banget sama vokalis Karsha, judulnya "Sign". Materinya ringan juga.

karsha 2019 87585684

P!: Apakah kalian punya strategi khusus untuk terus eksis di dunia musik?

Yusdhy: Kalau aku lebih fokus ke karyanya. Panggung memang tempat promosi terbaik, tapi aku harus memikirkan lagi berbagai cara terbaik yang bisa dilakukan Karsha ketika nggak ada panggung, apa yang harus kami lakukan? Di situ kami lebih fokus ke karya. Kebetulan di era sekarang fasilitas di era digital sudah banyak dan bisa kami manfaatkan sebaik mungkin berbagai platform yang ada. Jadi, baik ada maupun nggak ada panggung, kami tetap mengeluarkan materi karena yang aku pikirkan adalah bagaimana kami mendapatkan income pasif ketika kami nggak ada panggung, baik melalui Spotify, YouTube, JOOX, dan sejenisnya.

P!: Apa misi Karsha ke depan?

Yusdhy: Di Karsha, kami natural aja. Kalau memang rejekinya main di mana, ya kita main. Lagian juga kami secara personal punya dunianya masing-masing, tapi tetep Karsha jalan. Cita-citanya Karsha sih pengen bikin intimate concert, mungkin tahun depan.

photo via Karsha

Komentar