senandika tanpa khotbah 0263666363636

Nikmati prosesnya!

Dunianudia tak pernah berhenti menghasilkan karya terbaiknya. Setelah melalui berbagai proses, proyek solo garapan Nudia Muntaza tiba di satu titik yang membuat ia semakin menikmati perjalanan kariernya. Saat berkunjung ke kantor Provoke!, musisi asal Yogyakarta ini pun tak ragu untuk menceritakan sedikit banyak tentang dunianya. Simak yuk!

P!: Ceritain dong soal awal mula terbentuknya Dunianudia.

Dulu sebenernya sama kayak orang banyak yang suka musik terus kayak, manggung enak kali ya. Awal-awal di kampus kan kayak pengen eksis gitu. Di kampusku ada komunitas sastra budaya, tapi aku yang di musik. Di situ aku belajar dan sampai sekarang pun masih belajar. Aku udah ngeluarin beberapa single dan satu EP, nah itu tuh kayak sebuah proses gitu. Ngomongin soal keseriusan sih mungkin buat aku lebih serem, harusnya masih investasi segala macam ya. Cuma aku kan masih karyawan gitu, mungkin harusnya resign dan segala macam gitu.

P!: Genre apa yang ingin diusung Dunianudia?

Mungkin semua ini melalui proses ya. Dulu waktu SMA aku suka yang lagi tren aja. Terus aku dikenalin pop punk sama temen, kayak Pee Wee Gaskins yang awal-awal. Tulit-tulitnya masih banyak. Haha. Setelah itu, pas kuliah kenal sama jazz, yang awalnya aku sempat nggak suka. Tapi lama-lama enak juga ternyata, kayak Jason Mraz dan MALIQ & D'Essentials itu. Terus waktu aku punya band, namanya Noemi, itu bayangannya punya musik kayak Mocca gitu. Tapi setelah waktu berjalan, aku nemu Radiohead yang sangat meracuniku. Lalu aku bikin single dan EP masih dengan ambient ala Radiohead itu. Lalu aku pernah merasa, kayaknya aku nggak cocok atau belum menguasainya. Terus akhirnya, di single terakhir yang "Senandika Tanpa Khotbah", aku mencoba cenderung ke pop punk. Mungkin ke depannya bakal bikin lagu yang kayak single terakhir, jadi lebih banyak nada mayor dan lebih ke pop punk.

P!: Gimana sih proses kreatif Dunianudia dalam menciptakan lagu? Ada resep khusus nggak?

Kalau resep khusus nggak ada. Paling biasanya tergantung ide. Misal di jalan aku menemukan nada, nah biar nggak lupa langsung aku catat. Atau kalau lagi nonton film terus ada kata-kata yang bagus nih, walaupun belum ada liriknya secara utuh, kadang aku catat kata-kata inspirasinya dulu. Kalau notasi tergantung datangnya ilham sih. Tapi memang aku kayaknya harus melakukan sesuatu dulu, baru ngerasa, wah ternyata ini enak nih.

P!: Dari sekian banyak lagu yang udah diciptakan, apa lagu favorit Dunianudia?

Aku suka "Senandika Tanpa Khotbah" karena prosesnya ya. Walau aku memang belum terlalu puas juga, tapi itu salah satu yang paling cocok karena setelah melewati banyak proses, jadi aku ngerti perkembangannya.

P!: Apakah Dunianudia punya strategi khusus untuk terus eksis di dunia musik?

Aku masih mencari-cari formulanya sih. Tapi, aku nggak terlalu banyak berekspektasi karena mungkin aku harus mengeluarkan upaya yang sangat banyak, dari segi dana dan segala macam. Aku dengar-dengar harus investasi di band, media sosial, dan segala macam. Cuma, kalau saat ini sih aku lakukan yang bisa aku lakukan aja dulu. Aku juga harus memperbanyak jaringan karena kalau cuma di dalam rumah kayaknya susah ya.

P!: Apa misi Dunianudia ke depan?

Salah satu kendalaku adalah untuk membuat lagu yang nggak terlalu jauh dengan single terakhir ini. Kemarin sih udah punya gambaran, tapi aku baru ngetik verse sama reff. Jadi untuk keseluruhan masih harus workshop lagi untuk merilis single.

Komentar