nadin amizah jog 366

"Nggak perlu kamu yang berusaha, nanti akan ada waktunya kamu pulang."

Sore itu, tepatnya pada hari Minggu (13/10), jalanan di sekitar Plaza Ambarrukmo Mall Yogyakarta benar-benar macet. Bisa dibilang, keramaian ini nggak lepas dari adanya sebuah selebrasi besar bernama Land of Leisures 2019 yang digelar sejak hari Jumat sampai Minggu. Acara ini memang benar-benar menarik antusiasme masyarakat karena menghadirkan sederet musisi ternama, mulai dari Kunto Aji, Danilla, Barasuara, Fourtwnty, Pamungkas, sampai Nadin Amizah. Nama terakhir inilah yang paling menyita perhatian di Minggu sore itu.

Kita tahu, Nadin baru saja mendapatkan tiga nominasi di AMI Awards 2019, yaitu Nomine Pendatang Baru Terbaik Terbaik, Karya Produksi Folk/Country/Balada Terbaik, dan Karya Produksi Kolaborasi Terbaik. Penampilannya di sore itu pun menunjukkan betapa Nadin sudah bertumbuh begitu pesat. Solois berusia 19 tahun itu tampil membawakan "Rumpang", "Sorai", hingga "Seperti Tulang" dengan aransemen yang grande. Suasana di sore itu semakin indah tatkala sekumpulan burung muncul beterbangan di atas taman, bergabung dengan para penonton untuk menikmati alunan merdu Nadin Amizah. Seusai penampilannya, Nadin pun menyempatkan diri untuk berbincang dengan Provoke! mengenai banyak hal yang terjadi dalam perjalanan kariernya. Langsung aja yuk simak! (Yohanes/Prita Trivena/Avila Arlintang)

Hai Nadin! Selamat ya atas keberhasilannya meraih tiga nominasi di AMI Awards 2019. Selamat juga untuk lagu terbaru Nadin “Seperti Tulang”, ceritain dong gimana perasaan Nadin saat ini?

Yeaay terima kasih banyak, aku seneng banget pastinya. Sebenernya "Rumpang" itu udah rilis dari setahun yang lalu, cuma aku apply untuk nominasi pendatang terbaru. Aku mikirnya, ah nggak mungkin lah bisa, soalnya kan udah setahun yang lalu juga, tapi ternyata masuk, dan bahkan masuknya di nominasi pendatang terbaru terbaik terbaik pula. Aku bersyukur banget ini semua berkat dukungan orang-orang juga, ini semua rezeki dari Tuhan dan semesta. Tidak bisa aku sebut karena kehebatan aku sendiri, ini karena kita semua.

Bicara tentang lagu “Seperti Tulang”, gimana sih proses kreatifnya?

"Seperti Tulang" tuh waktu itu aku tulis pas lagi patah hati. Aku langsung telepon temen aku, Natania Karin, 'Rin, bisa ke rumah nggak, nginep tiga hari, yuk kita produktif, kita tulis, aku banyak banget cerita yang bisa ditulis.' Habis itu dia dateng, berawal dari aku cerita-cerita ke dia banyak banget, terus akhirnya ketulis semuanya. Setelah itu kami pendam dulu beberapa lama. Setelah beberapa bulan kemudian, kami produksi bareng sama Dissa Kamajaya, produser aku di Bandung. Sampai akhirnya kami bisa merilisnya di bulan lalu, tanggal 27 September.

Banyak orang yang sangat mengagumi penulisan Nadin. Sebenarnya apa yang ada di pemikiran Nadin saat menulis lagu dalam berbagai analogi dan kata-kata yang indah? Inspirasinya dari mana dan apakah sejak kecil memang sudah begitu mendalami sastra atau hobi baca buku?

Jujur aku sebenernya anaknya nggak terlalu suka baca buku, aku juga anaknya nggak terlalu mendalami sastra. Cuma, aku suka cerita kayak gini ke temen, bahwa aku kalau misalnya dimarahin sama bunda, biasanya tuh bunda pakai bahasa baku dan bunda suka menganalogikan sesuatu. Bener-bener analogi. Aku bahkan baru tahu setelah aku dewasa bahwa, oh selama ini bunda pakai perumpamaan tuh namanya analogi. Aku selama ini ngiranya, oh bunda emang mau nunjukkin bahwa kesalahan aku ini ada kasus lainnya yang bisa aku pelajarin dari hal lain. Menurut aku itu membantu banget. Oya, aku emang suka baca, tapi aku nggak punya konsentrasi sampai menghabiskan satu novel. Aku biasanya baca buku-buku kumpulan puisi.

Saat menulis lagu, ada nggak sih formula khusus atau rumusan yang bisa dipelajari supaya karya berikutnya bisa lebih baik dari yang sebelumnya?

Emmm apa yaa. Hati sama dengan hati sih, kalau aku rumusnya kayak gitu. Apapun yang aku keluarin dari hati pasti bisa memikat dan bisa memanggil hati orang lain juga. Jadi apapun yang aku pengen sampaikan ke orang, harus bener-bener aku ramu dalam hati dulu. Tapi nggak ada yang kayak, oh kalau misalnya verse satu harus kayak gini, verse dua harus kayak gini, nggak ada. Semua proses kreatif itu sangat kreatif dan nggak ada batasnya.

Karya Nadin ini kan nggak jauh dari situasi inferior, trauma, patah hati. Gimana sih cara Nadin untuk berdamai dan memutarbalikkan semua itu menjadi sebuah karya?

Oh, that's a nice question. Aku biasanya membiarkan rasa sedih aku untuk take control of me dulu. Jadi kalau misalnya aku lagi sedih, aku tidak berusaha meredam perasaan itu. Aku berusaha membiarkan dia (rasa patah hati), kalau misalnya emang dia harus mengambil seluruh tubuhku, ambillah pada saat itu. Cuma, aku minta tolong ke patah hati aku, 'Kalau misal tangan aku harus kamu kontrol, kalau misalnya otak aku harus kamu ambil, ayo kita tulis sesuatu, jangan sakiti diri sendiri.' Cara berdamainya ya itu sih, kesedihan nggak akan bisa kamu usir, jadiin temen aja. Toh, nanti ujung-ujungnya akan bisa menjadi temen yang baik untuk kamu. Jadikan kesedihan sebagai temen baik nggak papa, asal jangan jadi sahabat.

Apakah Nadin punya satu momen yang paling disesali dalam hidup? Pengen nggak sih kembali ke masa itu untuk memperbaikinya?

Jujur nggak ada. Aku pengen bilang, aku nyesel waktu itu aku matahin tangan aku. Cuma kalau misal aku nggak matahin tangan aku, kalau tangan aku waktu itu nggak patah dan aku mungkin sedikit lebih nggak ceroboh, aku nggak akan bisa nulis "Seperti Tulang". Jadi kayak, apapun tragedi yang udah terjadi untuk aku, semuanya adalah pelajaran, dan semuanya bisa aku jadikan hal yang lebih baik ke depannya.

Di momen apa Nadin merasa, wah ternyata karyaku bisa sebesar ini ya, kayaknya aku bisa nih jadi penyanyi yang berpengaruh, aku bisa bercerita di depan banyak orang dan banyak yang mau mendengarkan?

Setiap aku nyanyi dan ada yang menangis, itu selalu menyentuh hati aku, soalnya kayak, wah gila mana kepikiran dulu aku nangis dan bikin orang lain nangis. Tapi, in a good way, di mana aku berani untuk menunjukkan bahwa, aku tuh bisa patah juga loh, dan kalian juga nggak salah kalau misalnya patah. Ketika aku bisa menjadi teman kalian, itu adalah sesuatu yang menurut aku, membuat aku bangga. Cuma itu semua karena Tuhan.

Sampai sekarang, masih suka grogi kalau mau manggung?

Wah masih banget, masih banget! Jadi gini, kemarin tuh aku sempet sakit tenggorokan, lama, batuk berkepanjangan. Aku awalnya ngira karena aku emang bernyanyi dengan teknik yang salah. Ternyata pas aku cek ke dokter, tenggorokan aku tuh terkikis sama asam lambung yang naik. Aku mikir, aku selama ini lagi nggak ada stres, aku nggak mag. Tapi emang setiap aku mau nyanyi tuh rasanya perut aku tuh emang keputer balik gitu loh. Setiap mau nyanyi, aku pasti keringet dingin, yang kayak bener-bener, arrgh kepikiran terus dan rasanya kayak mau muntah! Nah, yang pasti grogi sih masih, cuma aku lagi berusaha melatih diri sendiri untuk nenangin diri aja sebenernya. Aku juga belum nemu cara ngatasinnya, tapi setiap aku naik ke panggung, ngelihat penonton, mendengar mereka bernyanyi, rasa grogi itu hilang sih.

Spirit apa yang diwariskan orang tua yang selalu dipegang Nadin sampai hari ini? Gimana caranya untuk menjaga spirit atau semangat itu, mengingat kebanyakan orang bisa terlena dengan ketenaran yang ada?

Yang aku pegang dari bunda adalah ini, kalau misalkan kamu dijadikan pintu rezeki sama Tuhan, jangan pelit ke orang lain soalnya aku tahu bahwa aku mengemban banyak tugas. Seiring dengan banyaknya tugas ini, aku juga menemukan banyak kenikmatan, tapi kenikmatan aku ini nggak bisa dinikmatin sendiri. Jadi kemarin tuh aku sempet, apa ya, namanya juga anak labil, masih muda, aku rasanya nggak mau nyanyi lagi, soalnya aku selalu ada ketakutan, kayak, I'm not going to make it, I'm not going to be able to do this.

Aku selalu bilang ke bunda, 'Kayaknya udahan aja nyanyinya.' Cuma bunda bilang, 'Kalau kamu udahan, lihat anggota band kamu akan dikemanain.' Dan aku ngerti, soalnya mereka tuh sudah berpegang sama aku, pintu rezeki mereka tuh aku. Itu bukan suatu kesombongan, itu adalah suatu tanggung jawab yang harus aku emban dalam waktu lama dan aku nggak boleh lalai. Jadi semangat aku di situ, kalau misalnya aku berhenti, maka banyak orang yang harus berhenti dan aku merugikan orang lain.

Kalau sedang berada di titik terendah, apa motivasi terbesar Nadin untuk bangkit?

Motivasi terbesar untuk bangkit adalah saat aku melihat bunda aku sedih sih. Soalnya waktu itu pernah aku lagi sedih banget, terus bunda juga ikut nangis, dan aku merasa kayak, masalah aku tidak sebesar itu, sampai-sampai aku mau membuat bunda aku sendiri nangis. Waktu itu aku cuma lagi patah hati sedikit, tapi aku mungkin nangisnya terlalu berkepanjangan. Bunda juga akhirnya ikut-ikutan sedih, dan aku nggak mau gitu, nggak sebanding. Patah hatinya cuma sedikit, tapi kok emak saya ikutan nangis, itu nggak penting dan nggak sebanding.

Untuk saat ini, apakah Nadin punya kegiatan favorit atau hobi tertentu?

Aku lagi suka ngampus, jujur, sumpah hahaha. Dulu tuh SD, SMP, SMA, aku benci banget sekolah. Benci banget. Bencinya tuh sampai, aku nggak mau lagi balik ke SMA sekarang. Kalau ada reuni, aku nggak mau ikut-ikutan. Cuma, kuliah tu rasanya sedikit lebih menyenangkan karena mungkin orangnya nggak se-judgemental anak-anak SMA gitu loh. Sekarang juga temen-temennya tuh beragam banget. Kalau dulu kan SMA ya udah, anaknya berseragam, terus ya mindset-nya juga sama-sama aja. Kalau di kuliah tuh aku menemukan sesuatu yang baru, aku menemukan orang-orang yang juga nyaman aku ajak berbicara. Jujur aku seneng berangkat ke kampus. Dulu aku ke SMA rasanya tiap pagi mau 'bunuh diri' aja gitu, NGGAK MAU SEKOLAH, hahaha. Kalau sekarang, bela-belain, aku pulang nyanyi malem, besok paginya aku langsung ngampus nggak papa, aku seneng ke kampus.

Nadin sempat menyinggung tentang menyakiti diri sendiri. Jadi sebenernya ada beberapa orang di sekitar kita yang memang menyakiti diri sendiri. Ada nggak beberapa kata buat mereka, supaya setidaknya mereka sadar, it's not a good way buat mengekspresikan diri.

Yang biasa menahan aku untuk kembali ke lubang yang dalem banget itu adalah, aku selalu berusaha mengingat. Pertama, ini badan aku tuh dikasih sama Tuhan, ibaratnya kamu lagi pinjam barang, maka harus dikembalikan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kamu nanti akan mati suatu saat juga, nggak perlu kamu yang berusaha, nanti akan ada waktunya kamu pulang. Saat kamu pulang itu, badan kamu kalau bisa masih utuh sebaik-baiknya kamu waktu diciptakan, kembalikan dalam versi paling baik, malah kalau bisa udah tumbuh jadi jauh lebih baik dari sebelumnya.

Kedua, orang tua kamu udah jaga kamu dari kecil banget. Kamu jatuh, mereka beliin betadine. Kamu jatuh, mereka beliin hansaplast. Mereka selalu menjaga kamu, mereka selalu jadi yang terbaik. Kamu merasa punya hak apa untuk menyakiti diri sendiri? Itu kayak, kamu nggak punya hak deh untuk menyakiti diri kamu, soalnya itu bukan diri kamu. It's not your worst, it's not really your worst. Ini punya alam semesta, ini semua punya Tuhan. Jadi tolong, jaga badan kamu baik-baik. Jaga diri kamu baik-baik. Soalnya, akan ada suatu hari kamu harus pulang, dan itu harus dikembalikan dalam bentuk seutuh-utuhnya.

Terakhir nih, gimana cara Nadin supaya ke depannya bisa tetap eksis berkarya di tengah derasnya persaingan industri musik di era digital?

That's a nice question. Aku sebenernya juga selalu merasa, apa ya, perasaan-perasaan yang kayak, gila musisi tu sekarang banyak banget. Orang-orang musisi indie, itu udah makin didenger juga. Jadi kayak nggak ada yang bisa, 'Oh di musik indie yang paling terkenal dia.' Itu nggak bisa, soalnya semua udah punya jatah masing-masing, pasarnya juga beda-beda. Tapi, waktu dari awal aku masuk ke industri itu aku kenalnya sama orang yang genuine hatinya tuh memang sangat baik. Aku ketemu Dipha Barus, aku ketemu Gamal. Mereka selalu mendorong aku, memberi semangat ke aku untuk, berkarya tuh selalu emang modalnya hati aja. Jadi nggak perlu dipeduliin industri musik bentuknya lagi seperti apa. Kamu nggak perlu ada pressure untuk mengikuti mereka, kamu lakukan apa yang kamu mau, lakukan terbaik yang kamu bisa, Insya Allah akan diterima kalau misalnya emang dari hati.

Okay, terima kasih banyak Nadin. Sehat selalu yah, kami tunggu album dan karya-karya berikutnya!

Kembali kasih ya!

Komentar