hivi jogja wawancara ceritera 457477

Sebuah wawancara eksklusif.

HIVI! baru saja merilis album ketiga yang bertajuk "Ceritera". Sembilan lagu disajikan dengan beragam genre yang menyegarkan dan penuh kisah akan kehidupan manusia. Energi dari album ini terasa sangat apik sehingga sangat layak untuk dinikmati dalam berbagai situasi. Penasaran dengan apa yang terjadi di baliknya, kami mengajak Ezra, Neida, Febri, dan Ilham untuk bercengkrama. Langsung aja simak obrolannya! (Yohanes, Benito)

Selamat merayakan ulang tahun ke-10, selamat untuk pencapaiannya di Line Indonesia Awards 2019, dan selamat untuk dirilisnya album "Ceritera".

HIVI!: Yeay, terima kasih!

Langsung aja yuk ngobrolin soal album. Jujur, aku sempat was-was HIVI! bakal berubah mengingat tren musik sekarang udah bergeser ke EDM, nggak banyak suara melodi gitar dan band, progresi chord minimalis, pokoknya trennya beda banget dengan apa yg kalian punya di "Kereta Kencan". Nah, kalian sempat mengalami pertentangan batin nggak saat mau bikin "Ceritera"? Seperti: Wah kali ini kita harus begini nih. Apalagi mengingat pasar HIVI! adalah remaja.

Ezra: Sejujurnya saat kami bikin lagu itu, kami nggak mikirin market-nya dulu. Kami lebih memikirkan inti dari lagunya seperti apa, ceritanya kayak gimana. Nah, mengenai lagu itu nanti akan dikemas seperti apa, itu sebenernya bisa menyesuaikan. Kebetulan memang yang kami kejar di album ketiga ini adalah kami mau musiknya lebih Indonesia lagi. Kami eksplor ke arah yang lebih grande karena memakai orkestra. Kami juga lebih dewasa karena kami merasa di umur yang sekarang ini kayaknya kami mau mencoba sesuatu yang baru. Akhirnya, kami ketemu produsernya yaitu mas Tohpati. Kami berharap, kerja sama dengan mas Tohpati bisa menambah value dari lagu-lagunya itu sendiri, mulai dari musiknya sampai berbagai pelajaran yang kami dapat dari mas Tohpati.

Ngomongin soal pendewasaan, apakah HIVI! sudah merasa semakin dewasa di album "Ceritera"? Mengingat kalian sudah berhasil melalui masa sulit, melalui berbagai proses, dan sukses dengan "Kereta Kencan".

Ilham: Bener seperti yang dibilang Ezra, kami berkarya sesuai umur aja. Mungkin di umur 19 tahun, lalu di umur 23, 24 tahun, dan di umur 27, 28 tahun yang ada di kepala kami tentu referensinya berbeda. Nggak ada yang kami atur, nggak dipikirin terlalu ribet. Secara natural kami bikinnya seperti itu. Jadi kalau balik lagi ke pertanyaan pertama, kami sama sekali nggak ada pertentangan batin.

HIVI! juga mengajak anak-anak masa kini untuk bernostalgia ya?

Ilham: Yaps, kami mencoba untuk original aja, nggak mau mengikuti pasar.

Kenapa HIVI! masih kepikiran untuk bikin lagu-lagu yang temanya klasik atau retro dan semacamnya. Padahal anak-anak muda zaman sekarang sukanya dengerin lagu-lagu yang simpel, sementara HIVI! masih bikin karya yang seperti ini.

Ezra: Pada dasarnya, sebenernya anak-anak HIVI! itu selain mendengarkan lagu-lagu sekarang yang lagi didengerin banyak orang, kami juga mendengarkan lagu-lagu Indonesia zaman dulu. Itu kan jadi referensi kami juga. Kami sempet mikir sih, kenapa lagu-lagu lama itu bisa didengarkan sampai sekarang? Maksudnya ada lagu-lagu lama yang long-lasting gitu loh. Ini tuh formulanya apa? Sedangkan kami mikir, kalau misalnya memaksakan diri untuk mengikuti tren pun kami nggak mau. Jadi kami natural aja. Kami coba bikin lagu yang intinya Indonesia aja karena kalau dilihat dari sekarang ini, memang banyak yang ke barat-baratan. Bukan berarti itu nggak lebih baik. Maksudnya itu punya porsi dan pendengarnya masing-masing juga. Cuma, aku ngelihatnya kalau misalkan kami bikin musik yang kayak gini, mungkin musik yang dulu jadi didengerin sama orang banyak. Istilahnya, kami bikin musik ini pun untuk mengapresiasi musik Indonesia zaman dulu. Ini tuh sebenernya musik yang bagus juga loh, kalian harus dengerin juga. Jadi kami kayak perpanjangan tangan juga. Lagu "Pemuda" kami recycle kan. Itu lagu lama yang bagus banget pesannya.

Anak-anak zaman sekarang juga harus tahu itu ya?

Ezra: Itu dia! Harapannya sebenernya dengan HIVI! bikin lagu yang kamu bilang retro klasik segala macam sebenernya itu juga nggak retro klasik. Kami membawakannya juga secara modern, seenteng mungkin, sesimpel mungkin supaya juga bisa didengarkan banyak orang. Kami juga mau kasih tahu kalau referensi musik Indonesia itu bagus-bagus banget.

Dan kaya banget ya.

Ezra: Dan kaya. Musik Indonesia itu kaya banget. Makanya, salah satu alasan kenapa kami kerja sama dengan mas Tohpati karena kami mengejar itu juga. Selain musikalitas yang, dia Indonesia banget. Dari zamannya almarhum Chrisye, Guruh Soekarnoputra, Candra Darusman, dan macem-macem. Nah, mas Tohpati ada di era itu. Mas Tohpati mengisi banyak musik-musik Indonesia yang dipopulerkan oleh orang-orang yang tadi aku bilang. Jadi HIVI! pengen bikin musik Indonesia supaya ada yang meneruskan era tersebut. Semakin banyak yang mendengarkan musik Indonesia yang dulu-dulu, maka semakin berkembang juga industrinya.

Di album "Ceritera", HIVI! tidak bergabung dengan major label. Apakah itu masih menjadi sebuah kesulitan tersendiri? Apa aja sih tantangan terbesarnya saat membuat album "Ceritera"?

Ezra: Tantangannya paling karena kami menjalani sendiri apa yang kami rencanakan, jadi kami maksimalkan dari masing-masing. Mulai dari tim dan segala macam yang mencoba membantu gimana caranya supaya album ini bisa menjadi sesuatu yang sesuai dengan yang sudah kami rencanakan. Lalu dari segi produksinya pun, kalau kami mengejar target ingin rilis di tahun 2019, berarti kami harus kejar bareng-bareng semua tahap demi tahap. Nggak bisa seperti ketika kami berada di major label yang dibantuin banget. Kalau di major label kan pokoknya kami cuma ngurusin proses kreatifnya aja, setelah itu manajerialnya mereka yang urus. Sedangkan kalau ini kami semua yang mengurus. Kami mengurus kreatifnya, kami mikirin nanti rilisnya seperti apa, bekerja dengan siapa aja, berapa lagu, pastinya segala macam keperluan itu kami yang mengurus.

Apa sih suka duka kalian dalam membuat album "Ceritera"?

Ilham: Banyakan sukanya sih, karena kami bekerja dengan mas Tohpati yang mengajarkan kami untuk disiplin waktu dan dewasa dalam bermusik.

"Tersenyum, Untuk Siapa?" itu seperti lagu sindiran bukan sih? Lagu muram atau lagu amarah yg disampaikan dengan musik yang manis.

Febri: Ya, lagu itu memang tepat seperti yang kamu gambarkan. Memang ada sindiran terhadap apa yang sering terjadi di hubungan antar manusia. Sering berkelit, sering berdebat, sering berantem hanya untuk membela egonya masing-masing. Padahal manusia kan makhluk sosial, nggak bisa hidup sendiri. Nah, seandainya kita bisa semakin menjauhi ego dan semakin berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk sekeliling, maka seharusnya semua bisa semakin damai. Dikemasnya juga secara manis karena supaya semua tetap ringan dan nyaman didengar banyak orang. Itu lagu pertama yang kami bikin di album Ceritera, makanya nggak terlalu banyak pertimbangan.

Susah nggak bikinnya?

Febri: Nggak sih, tapi bikin musiknya yang paling terakhir.

Ezra: Soalnya kami belum kepikiran, sampai terakhir kami mau rekaman pun, ini musik mau dijadiin apa ya? Yaudah kami take drum dulu. Musiknya dikembangkan seiring berjalannya waktu. Natural sih.

Ngomongin lagu "Bahagia" nih, pernah suatu saat saya play di YouTube, bagian 'up next' itu isinya lagu-lagu kartun. Happiness banget deh. Sebahagia apa sih saat kalian bikin "Bahagia"?

Neida: Hahahaha. Mungkin pesan yang mau diangkat dari lagu "Bahagia" itu sebenarnya bahagia yang nggak neko-neko. Kayak bahagia yang pada saat kamu pertama kali bahagia in relationship, itu kan pasti kayak belum tahu pahit-pahitnya, jadi masih pure bahagia aja. Jadi digambarkan dengan musik yang up beat.

Ezra: Kalau dengerin musiknya juga kayak lebih berdendang, banyak referensi dari musik 80-an juga.

Album ini bisa dibilang kaya musikalitas, ada ballad, rock, sampai bossanova. Apakah "Ceritera" bisa dibilang album yang ideal? Bagaimana eksekusi kreatif album ini?

Febri: Sebenernya nggak tau yang ideal seperti apa, yang jelas kami bersyukur dengan adanya album "Ceritera" ini, katalog jenis musiknya HIVI! jadi lebih luas. Ada yang rock, bossanova, pop ala Chrisye. Kalau proses kreatif, pasti itu dibantu sama pak produser. Jadi kami kumpulin semua referensi-referensi menjadi satu, nanti pak produser yang menjadi penengah.

Artinya nggak ada kesulitan ya buat menggabungkan isi empat kepala?

Febri: Nggak kesulitan, cuma itu aja sih prosesnya supaya efektif.

Setiap orang punya waktunya masing-masing, nggak terkecuali musisi. Apakah HIVI! sudah merasakan kalau ini adalah momen yang baik buat kalian seiring dengan rilisnya "Ceritera"?

Febri: Mungkin karena kami sudah 10 tahun ya. Nggak disengaja, tapi momennya pas untuk mengaktualisasi diri, mengaktualisasi proses berkesenian kami, yang bermuara pada album.

Sebagai pecinta rilisan fisik, aku lega HIVI! masih mau merilis CD. Apakah kalian merasakan kelegaan yang sama? Di sisi lain, kalian merasa khawatir nggak kalau nantinya bakal ada lagu di album kalian yang ‘nggak terpakai’ atau nggak terlalu dikenal mengingat sekarang ‘new music daily’. Setiap hari, setiap minggu ada musik baru. Bikin stres nggak?

Ilham: Kenapa musti stres, karena kan industrinya berkembang, musiknya bermunculan terus, ya referensi musik kami justru semakin banyak.

Febri: Justru kalau aku lihat, karena internet dan platform digital membuat perkembangan musik semakin pesat, justru orang-orang jadi lebih bisa dan mau mendengarkan satu album. Orang-orang punya lagu favoritnya masing-masing. Kayak kamu, bisa dengerin "Bahagia", "Tersenyum, Untuk Siapa?". Kalau zaman dulu kan kita kayak dicekokin.

Apa pesan dan harapan yang pengen kalian sampaikan lewat album ini?

Ezra: Pertama, semoga album "Ceritera" ini bisa diterima masyarakat yang lebih luas lagi karena kami eksplorasi materinya pun nggak terbatas untuk remaja aja dan semoga apa yang ingin kami sampaikan di album "Ceritera" bisa tersampaikan. Kedua, semoga dengan album Ceritera ini bisa jadi pembelajaran bagi HIVI! untuk bisa lebih berkembang lagi ke depannya dan untuk menjadi lebih baik lagi dari segi apapun.

Febri: Intinya, album Ceritera kami harapkan lagu-lagunya bisa menjadi teman buat orang-orang yang mendengarkan di berbagai macam tema. Sesuai judulnya, banyak sekali ceritera-ceritera yang sepertinya mewakilkan banyak kejadian-kejadian di kehidupan manusia.

photo via Provoke!/Yohanes

Komentar