calvin jeremy kangennya di rumah aja whatsapp image 2020 05 05 at 16.10.23 1

Sebuah terobosan anyar untuk berdonasi.

Penyanyi Calvin Jeremy merilis sebuah lagu baru berjudul "Kangennya di Rumah Aja". Tak seorang diri, Calvin melakukan kolaborasi lintas disiplin bersama teman-temannya untuk menghasilkan sebuah lagu yang sekaligus menjadi gerakan sosial. Para pendengar pun akan menemukan banyak hal baru dari lagu ini. Dalam sebuah perbincangan bersama P! yang dilakukan via telepon pada siang hari ini, Selasa (5/5), pelantun lagu "Nostalgia" itu menceritakan proses pengerjaan lagunya yang terbilang unik. Langsung aja disimak!

P!: Halo Calvin, gimana kabarnya nih?

Calvin: Halo juga, kabar baik nih.

P!: Siap! Langsung aja yuk kita ngobrol-ngobrol soal lagu terbarumu.

Calvin: Oke! Sebelum cerita soal lagunya, aku cerita soal prosesnya dulu ya. Jadi, ada treatment yang berbeda pada lagu terbaru ini dibanding single yang sebelumnya. Aku udah lama nggak merilis lagu, terakhir aku rilis album itu Maret 2018. Sudah dua tahun aku nggak bikin single lagi. Aku emang sengaja sih, kayaknya nanti dulu deh bikin single-single, karena tahun 2018 aku baru rilis album. Entah kenapa, saat itu aku punya ekspektasi tinggi banget, sampai akhirnya ketika albumku rilis, ternyata aku malah nggak dapat job selama sekitar tiga bulan. Bulan Maret 2018 rilis album, tapi April sampai Juni 2018 ternyata sepi job banget nih, nggak ada apa-apa. Jujur semacam agak down juga gitu. Sampai akhirnya ya sudah deh aku akhirnya rehat dulu, sambil cari-cari sekolah mungkin ya. Dari situ, aku memang mau mundur beberapa langkah karena industri musik sepertinya berbeda dengan yang dulu aku kenal.

Waktu itu rasanya udah mau pergi ke negara paling jauh deh kalau bisa. Aku cari beasiswa ke Belanda segala macam, sampai akhirnya saat aku sudah mempersiapkan segala sesuatu, tiba-tiba aku dapat tawaran main film "Terlalu Tampan". Akhirnya aku meditasi lagi. Aku memikirkan lagi tujuanku di industri ini, mengingat awal karier, dan semua perasaanku. Jadi seperti mengatur ulang pola pikir karena kan sepuluh tahun berkarier tuh pasti mindset-nya akan terbentuk sejak awal bikin album sampai paham dengan semua kesulitannya. Jadi kayak udah nggak pure lagi. Sampai akhirnya yaudah deh main film "Terlalu Tampan". Aku juga dapat sekolah yang memungkinkan aku untuk pulang pergi. Jadi aku meditasi sambil mempelajari industrinya karena untuk beradaptasi juga nggak mudah pastinya. Istilahnya dari yang dulu artis tv, kayak harus ke Inbox dan Dahsyat, lalu sekarang semua jadi berubah gitu loh.

P!: Iya, industrinya sudah berubah banget. Kalau dulu kita cuma bisa melihat satu atau dua acara musik di TV dengan bintang tamu yang itu-itu aja, sekarang sudah banyak sekali media dan platform untuk mewadahi dan menyalurkan kreativitas musisi.

Calvin: Bener, exactly. Nah, ngomong-ngomong soal media, akhirnya aku jadi mencari tahu banyak hal tentang industri ini, baiknya seperti apa sih. Akhirnya aku melakukan beberapa hal, salah satunya dengan mengembangkan channel YouTube. Sejauh ini, channel YouTube aku personanya adalah mengedepankan sisi Calvin Jeremy di luar musik. Misal, orang tahunya Calvin Jeremy bermusik seperti yang sudah-sudah, tapi di channel ini aku lebih banyak bikin vlog, menceritakan keseharian, dan ada juga wawancara dengan artis. Sampai akhirnya tercetuslah ide untuk bikin "#OneHourSongChallenge".

Jadi "#OneHourSongChallenge" adalah program untuk mengajak kolaborasi para musisi. Intinya adalah aku mau bikin lagu baru bersama musisi yang memang bersedia untuk berkolaborasi, tapi begitu program ini akan dimulai, pandemi bergulir dan kita semua sebisa mungkin work from home. Lalu aku berpikir, "Ah aku nggak boleh berhenti untuk berkreasi, tetep harus mempunyai sesuatu." Sampai akhirnya, gimana ya kalau aku bikin lagu tapi secara virtual. Dan di "#OneHourSongChallenge" itu, aku mengajak temanku, Abdul (dari Abdul and the Coffee Theory) karena dia juga suka bikin konten-konten. Aku bilang ke Abdul, "Yuk mas kita bikin konten YouTube, namanya "#OneHourSongChallenge", jadi kita challenge diri kita, kira-kira bisa nggak ya kita bikin lagu dari nol sampai selesai dalam waktu satu jam?" Mas Abdul juga langsung antusias untuk bergabung. Akhirnya kita meeting, "Eh kayaknya keren yah. Gue ajak satu temen lagi deh untuk memproduseri lagunya, namanya Kevin Pahlevi." Dia bassist yang juga pernah memproduseri beberapa artis. Nggak pakai lama, langsung gue ajakin, "Kev gue punya lagu nih, lo bisa produce nggak?"

Pas dengerin lagunya, "Oh iya seru-seru nih, kayaknya bisa tambah seru nih kalau ada sound gitarnya, lead gitarnya. Kita ajak siapa yah yang ala-ala George Benson gitu?" Terus aku kepikiran, "Eh ajak Ari Pramundito yuk." Akhirnya Ari mau untuk mengisi gitarnya. Lalu, untuk mixing masteringnya aku mengajak Opung Irwan Simanjuntak. Dari situ kepikiran lagi, "Eh aku ajakin Pandji Pragiwaksono kolaborasi juga kali yah."

Akhirnya kami memutuskan "#OneHourSongChallenge" ini sebagai media untuk berdonasi. Kami musisi kan juga sedang bingung ini, kami lagi nggak ada job nih, konser di-cancel segala macam. Gimana kita bisa berdonasi? Sekarang sih aku seneng, teman-teman udah mulai berdonasi untuk crew. Cuma aku kadang mempertanyakan, bukannya mengecilkan ya, tapi aku bertanya-tanya, sebenernya sistem donasinya kayak gimana? Apalagi untuk musisi seperti aku yang masih muda, masih struggle, gimana ya caranya? Akhirnya tercetuslah ide, "Satu Lagu Bisa Makan".

calvin jeremy kangennya di rumah aja whatsapp image 2020 05 05 at 16.10.23 5

P!: Kalau judul lagunya?

Calvin: Judul lagunya "Kangennya di Rumah Aja". Kemudian kami kerja sama dengan Kitabisa.com. Kami bikin nama donasinya "Satu Lagu Bisa Makan". Nah, nanti teman-teman yang mau berdonasi bisa menyaksikan konten YouTube aku "#OneHourSongChallenge", yang akan memperlihatkan dokumentasi berupa proses pembuatan lagunya, mulai saat aku telepon Abdul sampai akhirnya menjadi sebuah kesatuan lagu yang utuh. Konten "#OneHourSongChallenge" ini dirilis mulai hari ini, Selasa (5/5/2020) jam 4 sore WIB. Nah, di situ semua orang bisa menonton proses pembuatan lagunya sejak awal sampai lagunya di-preview, tapi lagunya nggak diperdengarkan secara penuh, cuma sampai reff pertama aja. Kalau mau denger lagunya secara full, teman-teman bisa berdonasi lewat Kitabisa.com minimal 10 ribu Rupiah. Setelah membuat akun dan berdonasi, nanti teman-teman akan dikirimkan link untuk men-download lagunya.

Dari sini aku belajar banyak hal. Aku merasa bahwa setelah 10 tahun berkarier hanya untuk memikirkan bagaimana caranya supaya bisa mencapai titik tertentu, sekarang di tengah pandemi seperti ini aku jadi belajar bahwa ini sudah saatnya aku give back ke society. Aku membantu orang-orang. Akhirnya kolaborator di lagu ini banyak juga kan. Ibaratnya, Opung kan seorang produser, gimana caranya Opung bisa ikut membantu? Kenyataannya bisa kan, Opung membantu mixing lagunya, kemudian lagu itu dikonversi menjadi uang donasi, dan kelak uang donasi itu bisa dikonversi menjadi sembako.

Aku juga merasa bahwa gerakan ini kan butuh graphic designer, maka aku mengajak seseorang yang awalnya bisa dikatakan adalah fans, tapi aku berusaha untuk menjadikannya teman. Namanya Sharon Angela. Dia pun bersedia membantu dengan senang hati. Akhirnya seorang graphic designer pun bisa ikut berdonasi untuk sesama.

calvin jeremy kangennya di rumah aja whatsapp image 2020 05 05 at 16.10.23 4

P!: Wow, ini berarti menjadi sebuah kolaborasi lintas disiplin ya.

Calvin: Yaps. Bahkan dari obrolan kita ini pun, Provoke! juga ikut membantu berdonasi dengan membantu menyebarkan kabar baik ini. Benar-benar semua orang bisa ikut berdonasi. Aku juga nggak sendirian ngerjain ini sejak awal. Ide awalnya juga datang dari kawanku yang kerja sama di managementku, namanya Tendra Leonard. Dia sebagai produser dan writer dari program ini. Jujur nggak gampang untuk membuat kolaborasi seperti ini.

P!: Apalagi situasinya lagi seperti ini ya.

Calvin: Iya bener. Jujur aja, aku kan jarang manggung, paling sebulan sekali atau dua kali, berbeda dengan musisi lainnya. Jadi bahkan sebelum pandemi ini aku sudah terbiasa berjuang, seperti, "Aku harus mengerjakan apa lagi ya setelah ini?" Aku mungkin sudah selangkah lebih paham mengenai flow digital, bagaimana sistem edit content dan semacamnya. Nah kalau temen-temen yang lain kan mungkin belum tentu melek ke situ karena sudah terbiasa mendapatkan penghasilan dari off air. Di situlah tantangannya. Nanti bagaimana videonya dan segala macam. Dua minggu ini aku benar-benar jadi kurang tidur untuk tektokan kayak gitu, tapi aku happy banget menjalaninya. Akhirnya semalam aku udah bisa berdonasi, senang banget sih.

P!: Menyenangkan ya bisa berbuat sesuatu untuk kebaikan.

Calvin: Yes! Sebenernya sih pas cerita ke teman-teman, ngobrol sama HIVI!, mereka bilang, "Oh ternyata bisa ya melakukan movement seperti itu." Jadi harapanku sih, semoga aku bisa berdonasi melalui karya baru, terutama setelah lama nggak mengeluarkan karya selama dua tahun. Aku juga bersyukur dengan segala kekurangan yang aku punya ternyata masih banyak teman di sekeliling aku yang mau terlibat dalam proyek ini, mau membantu Calvin Jeremy, membantu membuat lagu, dan berdonasi. Semoga aku juga bisa menginspirasi teman-teman musisi supaya di tengah pandemi ini tetap bisa semangat berkarya. Aku juga teringat sebuah ungkapan, "Untuk mengetahui personality seseorang, kita bisa melihat dari sikapnya saat mempunyai segalanya dan dari attitude-nya saat sedang tidak punya apa-apa." Buat aku, meski aku sudah dua tahun nggak berkarya, tapi karena musik sudah jadi bagian hidupku, sekalipun situasinya kayak gini, aku justru balik lagi sama musik dan bisa berkontribusi buat banyak orang. Jadi ibaratnya seperti, cinta yang tak pernah salah.

Oya, ada cerita di balik lagu baru ini dan akan ada kelanjutan setelah rilis. Rencananya campaign ini berlangsung selama 30 hari. Nah, selama 30 hari itu teman-teman nggak bisa dengar lagunya di platform seperti Spotify, JOOX, dan semacamnya, selain lewat berdonasi itu.

P!: Jadi lagu ini bakal jadi sesuatu yang spesial bagi teman-teman yang mau berdonasi ya.

Calvin: Yes betul. Nanti, dua minggu setelah campaign ini selesai, baru kami sediakan lagunya di platform music digital. Bicara soal flow, bagaimana dari talenta bisa menjadi sebuah lagu, kemudian lagu bisa dikonversi menjadi sebuah Rupiah dengan melakukan kolaborasi dengan beragam disiplin yang mendukung campaign ini, dan Rupiah menjadi sembako untuk nantinya bisa dinikmati oleh orang-orang yang membutuhkan, semua ini bisa menjadi sesuatu yang baru karena aku lihat belum ada yang melakukan seperti ini. Harapannya ini bisa menjadi pioneer supaya digital movement ini bisa diterapkan oleh teman-teman, baik itu mereka yang akan membuat program sendiri atau mereka yang akan berkolaborasi di "#OneHourSongChallenge". Ini adalah sesuatu yang aku harapkan. Ibaratnya ini adalah kolaborasi digital pertama.

P!: Rispek untuk Calvin dan teman-teman. Semoga sukses dan sehat-sehat untuk semuanya yah!

Calvin: Terima kasih Provoke!

Link donasi: https://kitabisa.com/onehoursongchallenge

Periode donasi: 05 Mei 2020 - 2 Juni 2020

Foto-foto: Calvin Jeremy/Sharon Angela

Komentar