Ichitan Photo Competition

timeless1

Sampai ngaku susah bikin lirik bahasa Indonesia.

Setelah ngerilis EP We Believe for What We Do is Timeless 2014 lalu, band asal Surabaya, Timeless akhirnya ngerilis album Between and Beyond tahun ini. Beberapa waktu lalu, kuartet beranggotakan vokal/gitar Bimantara, gitar Fajri, bass Anggra dan drum Ferry ini mampir ke kantor Provoke! untuk bincang-bincang seputar album terbaru mereka. Simak obrolannya di bawah ini.

Kenapa kalian milih ‘Between and Beyond’ buat nama album?

Between and Beyond diangkat jadi nama album untuk ngejelasin posisi ketika kita dihadapkan beberapa pilihan dan gimana kita bikin keputusan dan nentuin sikap

Di EP We Believe for What We Do is Timeless musik kalian bernuansa Hardcore Punk, tapi di album ini musik kalian justru bernuansa beda, kenapa bisa begitu?

Alasannya sih karena kami masih ingin explore Punk. Sebenarnya kami berangkat dari Punk Rock, tapi seiring berjalannya waktu, kami nyoba explore jenis lain yang masih dalam ranah musik Punk Rock.

Jadi gak menutup kemungkinan kalo musik kalian bakal bernuansa beda lagi di rilisan selanjutnya?

Benang merahnya sih masih di ranah Punk. Buat kami Punk Rock itu bukan sekedar genre musik, tapi juga attitude.

Pesan apa yang kalian ingin coba sampein lewat album ini?

Kami mau sampein perspektif kami tentang suatu masalah dan gimana kami bersikap ketika kami ada di posisi yang kurang enak. Kami mau cerita tentang gimana kami menghadapi masalah dengan santai, tapi tetep bijak juga.

Bener gak sih album ini dibuat buru-buru?

Lumayan buru-buru sih, soalnya kami udah pasang target, kami ngerasa udah terlalu lama engga rilis apa-apa, tapi buru-buru itu justru bikin proses pembuatan album terasa seru.

Kenapa Timeless lebih milih untuk bikin lagu berbahasa Inggris di di EP dan 'Between and Beyond'?

Sebelumnya kami pernah bikin lagu berbahasa Indonesia tapi ternyata susah, kami masih butuh banyak belajar. Lain kali mungkin kami bakal buat, soalnya kami juga punya target untuk bikin lagu berbahasa Indonesia.

Lagu favorit kalian masing-masing di album 'Between and Beyond apa?

Bima: Ride Into The Sun, Golden Age dan Genuine Heart.

Ferry: Golden Age, soalnya yang paling santai dan yang paling ngena.

Anggra: Motown Crush dan Golden Age.

Apa sih filosofi lagu 'Golden Age'?

Golden Age nyeritain tentang perbedaan kehidupan dulu dan sekarang. Kalo sekarang udah terlalu banyak manipulasi, kalo dulu justru lebih santai dan lebih apa adanya.

Scene musik punk di kota-kota besar Indonesia menurut Timeless?

Kalo sekarang udah berkembang jauh, terutama karena ada media sosial. Sekarang semua bisa menyuarakan pesan berkat media sosial.

Pertanyaan terakhir nih, kira-kira setelah album 'Between and Beyond', Timeless bakal ngapain? Bocoran dong!

Kami pengennya setiap setahun sekali kami bikin rilisan, entah EP atau album, mumpung kami masih produktif. Doain aja terwujud.

Eits, jangan kemana-mana dulu. Setelah ngobrol singkat bareng Timeless, P! ngasih tantangan nih buat Timeless untuk ngebuktiin karyanya di Provoke Natural Reverb. Kayak apa penampilannya? Simak di bawah ini:

 

 

 

Komentar