Tikus adalah hewan yang penuh kontroversi. Ada yang takut bahkan phobia tikus, ada yang memelihara karena dianggap hewan peliharaan yang imoetz dan banyak juga yang mengorbankan tikus sebagai santapan ular peliharaan demi  keseimbangan ekosistem dan kelangsungan rantai makanan.
 
Di luar suka atau tidaknya dengan tikus, hewan mamalia kecil ini ada banyak jenisnya, antara lain Mencit (mamalia terbanyak di dunia setelah manusia), tikus rumah, tikus got, tikus sawah, tikus wirok, celurut, dan juga “tikus rakyat” yang suka korupsi.
 
Dari berbagai jenis tikus tersebut, sebetulnya ada kebiasaan tikus yang janggal. Kalau kita perhatikan, sering sekali ada bangkai tikus yang tergeletak di tengah jalan. Bangkai tikus yang masih berbentuk bulat dan segar baru tergilas, bahkan ada yang dalam kondisi sudah gepeng dan rata dengan aspal.
 
Asumsi gue tadinya mungkin karena tikus adalah binatang yang sangat payah ketika menyeberang jalan, makanya sering ketabrak dan mati. Tapi usut punya usut, ternyata oh ternyata, hanya segelintir tikus saja yang memang mati secara alami ketika menyeberang jalan.
 
Sebagiannya lagi, ternyata tikus-tikus tersebut sudah mati terlebih dahulu sebelum bahkan menyeberang jalan. Semua itu akibat manusia yang berusaha membasmi tikus-tikus hama di rumah mereka. Salah satu caranya adalah dengan memasang racun tikus, atau lem tikus, supaya tikus-tikus tersebut terjerat dan rumah pun bersih dari hama tikus.
 
Setelah tikus tersebut mati, problemanya adalah dimanakah mayat-mayat tikus ini akan disemayamkan? Ada beberapa opsi yang kurang bijaksana untuk dilakukan, yaitu:
 
Dikubur dengan upacara resmi
Sedikit sekali manusia dengan niat menggali tanah untuk mengubur bangkai tikus, apalagi dengan upacara khusus dan pasang bendera setengah tiang.
 
Menyerahkan pada kucing-kucing kampung
Kucing biarpun kampung ternyata punya standart selera. Kucing-kucing itu tidak mungkin tertarik, mengendus, atau bahkan mengoleksi bangkai tikus.
 
Meletakkan mayat tikus di got halaman rumah
Ini merupakan tindakan yang super bodoh dan merugikan. Rata-rata got di Jakarta airnya tidak mengalir sehingga mayat tikus akan menetap di sana, mengeluarkan aroma busuk sebagai pembalasan arwah tikus yang mati penasaran. Tetangga pun akan komplain dan silahturahmi tidak akan terjalin dengan baik.
 
Dibakar atau kremasi
Kendalanya adalah sulit mencari tempat pembakaran yang layak. Proses ini beresiko terjadi kebakaran apabila apinya menggila dan merajalela. Lagipula kegiatan ini harus dilakukan di “outdoor” yang artinya bergantung pada cuaca, tidak bisa kapan saja.
 
Dilempar ke genteng tetangga
Seandainya yang dilempar adalah celana dalam, masih masuk akal, dengan alibi mau menangkal hujan. Tapi kalau melempar bangkai tikus, apa alibinya? Nihil.
 
Satu-satunya cara yang paling bijaksana adalah menggeletakkannya di tengah jalan, dengan harapan segera rata dengan alam setelah digilas banyak sekali kendaraan yang lalu lalang. Tikus yang tergeletak di tengah jalan juga akan mengurai lebih cepat karena dibantu hewan lainnya seperti lalat, belatung, piranha, dan teman-temannya.
 
Jadi akhirnya terpecahkan sudah pertanyaan Kenapa Banyak Tikus Mati di Jalan (KBTMDJ). Semoga hasil penelusuran gue mengurangi rasa penasaran para pembaca :) 
 
Namun ada misteri tentang tikus yang sampai sekarang belum dapat gue pecahkan. Yaitu Kenapa Tikus Makan Sabun? (KTMS) yang diambil dari lagu anak-anak berikut ini>
 
Tolong bantu banget jelaskan pada gue!
 

Komentar