Alkisah, seorang Ibu mencoba berbincang serius dengan putranya si semata wayang:
"Wahai anakku tercinta.. usia kamu sudah beranjak sangat dewasa.. mengapa hingga saat ini Ibu belum pernah sekalipun melihatmu berpacaran? Apakah kamu tidak memiliki ketertarikan akan hal itu?"
 
..Sang anak berkata:
"..ooh, Ibuku yang kusayangi sepenuh hati.. Aku tidak begitu paham tentang maksud pertanyaan Ibu.. Apakah Ibu mau melihat aku berpacaran, ataukah aku harus memiliki ketertarikan untuk berpacaran, ataukah..? ..ooh, Ibuku tersayang.. Mengapa baru kali ini ibu menanyakan hal tersebut kepadaku?"
 
..sang Ibu hanya terdiam. Beliau nampak bingung untuk menjelaskan inti dari pertanyaan ini..
 
===
 
Dialog tadi nampak seperti entahlah, apakah mungkin pernah ada yang berdialog seperti itu, ataukah terlihat wajar-wajar saja dan banyak terjadi di sekitar kita? ..Andaikan "ya", dimanakah letak keanehan situasi yang terjadi tersebut? ..Dan andaikan "tidak", apakah kita mewajarkan hal tersebut sebagai sesuatu yang normal dan tidak perlu diperdebatkan? Serta, bagaimana jadinya jika dialog seperti itu terjadi di saat sang putra menginjak usia 60 tahun, dan usia sang Ibu.. yah, kira-kira 85 tahun, laah.. (?)
 
Pacaran adalah salah satu tonggak utama peradaban umat manusia. Tanpa pacaran, mustahil terbentuk sebuah jenjang lain yang bernama perkawinan (yah, mungkin saja dua sejoli bisa langsung beranak-pinak tanpa memerlukan proses pengenalan situasi satu-sama-lain. Namun, apalah jadinya?). Tanpa perkawinan, tidak mungkin terjadi re-generasi umat manusia, sehingga hancur berantakan-lah struktur kehidupan di muka bumi ini. Lalu, di saat "pacaran" memiliki kendali penting semacam itu, ..Kita masih mewajarkan dialog yang terjadi di awal tulisan tadi? ..Benar-benar entahlah..
 
Kalau boleh jujur, "pacaran" merupakan hal yang seharusnya mendapat tempat paling utama dalam prinsip "semenjak dini". Pendapat bahwa "pendidikan" adalah hal yang paling utama, adalah sesuatu yang "salah total".. (Adam dan Hawa adalah bukti yang lumayan kongkrit. Mereka berdua "disuruh" pacaran terlebih dahulu, dan tidak dirancang untuk disuruh bersekolah sejak awal). Keadaan nampak bergeser ketika prinsip "knowledge is king" muncul di kemudian hari. Seorang anak telah dicipta-karya-kan untuk cerdas-kelak. Tipis kemungkinan jika orangtua merancang pasangan hidup untuk sang anak di saat balita. Fokus mereka berada di seputar wilayah pendidikan dan masa depan. Tabungan-pun berjenis "pendidikan". Ditambahkan pula sebuah kata pamungkas bernama "kesehatan". Intinya, seorang anak akan tumbuh menjadi sosok yang cerdas-pintar dan sehat -sehingga kelak akan sukses, bugar, makmur dan kaya-raya-. tidak sedikitpun terlintas untuk menerapkan kata "pacaran" pada rancangan awal tadi. tidak ada jenis "tabungan pacaran" (yunow, laah.. pacaran juga butuh biaya..) yang pada akhirnya nanti menjadi sumber segala permasalahan yang terjadi di awal tulisan ini.. (begitulah kira-kira maksud saya..).
 
Jika kita bisa mensistematiskan sesuatu bernama masa depan, seharusnya dialog di atas tidak akan pernah menjadi seserius ini. Pola pikir orangtua kadang-kadang sangat mudah diaransemen menjadi se-santai "kamu hanya perlu belajar, sekolah dan menjadi orang yang sukses.. nanti, jodoh akan datang dengan sendirinya..". Hah? apa benar begitu adanya? ..Salah seorang sahabat -usianya sudah sangat dewasa-, belum pernah samasekali mengenal situasi dan kondisi "pacaran". Beliau pintar dan sukes, juga tampan serta bersahaja. Namun untuk hal yang satu itu, sangat jauh dari poin "plus". Insting-pun tak punya, apalagi hasrat dan keinginan. Sangat jauh sekali. Apakah ini merupakan hal yang wajar? Bisa jadi. Namun, apakah ini merupakan sesuatu yang tidak wajar? (Sangat) bisa jadi.
 
Pacaran memang tidak bisa disandingkan dengan apapun. Keadaan ini -sekali lagi- merupakan hal yang absurd dan sukar dilukiskan dengan sebuah "kata" yang -hingga kini- tidak mampu secara spesifik terwakilkan. Tidak terlalu penting mungkin; sehingga tidak perlu muncul sebuah kata baku untuk masuk ke dalam sebuah kamus bahasa sekalipun (kita mengenal kata "kawin", "tunang", "nikah", "cerai", ..namun untuk "pacaran"?). ..Sangat di-anaktirikan! ..Notabene, terpaksa harus menambahkan akhiran "an" untuk menjelaskan situasinya (terbentuk dari kata dasar: "pacar", yang mendapat akhiran "an"). Jika demikian, -sekali lagi dan sekali lagi- dialog di awal memang nampak seperti "wajar-wajar saja" dan memang tidak perlu diperdebatkan lebih lanjut.
 
---
 
 
..Perkenalkan: nama saya "oomleo".. Selanjutnya, saya akan rutin berada di artikel dan kolom ini untuk membahas segala sesuatu yang yaitu tersebut..
 

Komentar