"ketika sebagian orang menganggap bahwa pacaran hanyalah sebuah proses, ..sebagian orang yang lain menganggap bahwa pacaran adalah inti dari segalanya..!"
 
***
 
Terdapat sebuah kisah super-klasik tentang seorang pemuda yang baru saja menikahi pemudi pilihannya. Sang pemuda, tidak memerlukan metode apapun untuk menentukan siapa yang cocok untuk mendampinginya dalam berumahtangga. kebetulan ada seorang pemudi nganggur, atau mungkin rekan masa kanak-kanak yang tanpa sengaja bertemu kembali di masa sekarang.. atau, bahkan hasil perjodohan dari orangtua masing-masing.. ..baginya tidak jadi soal! Menikah adalah salah satu tahapan dalam hidup. Lahir, menikah, dan mati. Titik.
 
..Hingga tiba saatnya gempuran bertubi-tubi itu datang menghampiri..
 
Sang pemudi (yang kini adalah istrinya) ternyata memiliki hobi mengunyah kulit ayam mentah. Tidak hanya itu: sang pasangan-hidup-nya tersebut juga memiliki keanehan-keanehan lain yang tidak masuk di akal: air matanya berwarna hitam, tidak bisa membedakan antara siang dan malam, tidak mampu menyebutkan huruf vokal "A", "U", dan "I", tidak bisa berdiri lebih dari 5 menit (harus duduk 5 menit, berdiri lagi 5 menit, .. dan duduk lagi) pusing dan muntah setiap kali melihat rumput, mudah terjatuh ke kolam ikan, hobi minum air laut, dan masih banyak lagi..
 
Sang pemuda hanya mampu bertahan selama 3 hari menghadapi semua gempuran tersebut. Di hari ke 4, ..beliau bunuh diri.
 
***
 
Kisah ini berhasil menginspirasi sebagian orang untuk selalu berhati-hati dan waspada dalam memilih pasangan hidup. Bukan hanya sekedar menganggap bahwa ketidakberuntungan adalah inti dari permasalahan ini. Namun, terkait dengan kasus "bukan jodoh", "nasib buruk", "apes" (dan lain sebagainya..) kisah ini merupakan lebih dari itu. Kita dihadapkan pada situasi "memilih kucing dalam karung", yang pada saat yang bersamaan dituntut pula untuk bersikap "tak kenal maka tak sayang". Hal ini mengingatkan kita akan sebuah ungkapan romantis dari pujangga masa lalu:
 
"Humanity of fair and civilized, the second sequence of five base.."
 
..Kalimat yang mampu mengajak kita untuk menelaah kembali kesalahan-kesalahan kita di masa yang akan datang. (..?? ..elu lagi ngomong-in apa'an sih, mas?)
 
Kembali ke soal pentingnya sebuah momen bernama "pacaran"; proses mengenal lawan jenis, melakukan pendekatan, berbagi hati dan perasaan, mengetahui kekurangan serta kelebihan masing-masing, dan lain sebagainya.. adalah mutlak diperlukan bagi seseorang yang membutuhkan pendamping hidup. Kita diharuskan untuk memilih: kesempurnaan, ataukah ke-menerima-apa-adanya-an. Cukup pilih salah satu di antara kedua hal tersebut, ..dan tidak perlu lagi mempertimbangkan untuk mencampur, menggabungkan, bahkan mencoba keduanya. bersiaplah untuk menerima resiko dari apa yang akan kita pilih; walaupun terkadang kita tidak mengerti terhadap apa yang kita pilih, namun pada akhirnya, hati nurani kita yang akan menentukan segalanya: mana yang akan kita pilih, partai mana yang akan kita pilih, sehingga pada pemilu nanti, kita harus yakin untuk memilih partai yang mana.
 
(..Mas? ..bisa langsung ke maksud to-the-point-nya aja nggak, mas?)
 
..Baiklah, ..jadi, intinya adalah bahwa pacaran memang diperlukan untuk mengenal satu-sama-lain. Titik.
 
---
 
Membahas "pacaran" memang tidak bisa ditentukan dari satu sudut pandang saja. pacaran juga bukan sesuatu yang berkaitan dengan situasi kebutuhan, iseng, rutinitas, bisnis, dan sebagainya. Tidak jua membahasnya melalui aspek taktik, teknis, tip, trik, tipu-daya, logika, dan sekitarnya. Terlebih jika membahas aspek sunarya.. (Hah? dalang wayang golek?).
 
---
 
Silahkan melayangkan segala jenis pertanyaan tentang "pacaran" kepada saya.. lewat surat, atau lewat apapun.. (asalkan jangan lewat kuburan.. karena saya tidak berani lewat situ..)
 
..Kirimkan e-mail, atau mention-lah twitter @ProvokeMagazine + @oomleo ..dan saya akan berusaha sebaik mungkin untuk menjawab segala keluh-kesah anda sekalian mengenai fenomena ini..
 
===
 
 

Komentar