labschool 020217

Belajar berdiplomasi juga ketemu temen baru dari berbagai negara.

 


Apa rasanya berada di tengah sidang PBB di umur lo yang masih muda? Apa rasanya ngomongin isu-isu dunia barengan anak-anak dari negara lain? Nggak mungkin? Eitsss jangan salah!!

Karena 31 siswa dari SMA Labschool Jakarta ini ngerasain hal-hal yang disebutin di atas. Yass mereka terpilih mewakili Indonesia untuk mengikuti Harvard Model United Nations di Boston, Amerika Serikat.

Model United Nations merupakan simulasi sidang PBB yang menjadi ajang pelajar tingkat SMA hingga mahasiswa untuk mengasah kemampuan diplomasi dengan membuat resolusi mengenai isu-isu dunia.

img 9891

Model United Nations ini diadakan pada 26 - 29 Januari 2017 lalu. Sejumlah 31 siswa dari SMA Labschool Jakarta menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia bahkan Asia Tenggara untuk mengikuti ajang ini. Dan dalam kegiatan ini, mereka terpilih untuk mewakili negara Angola dan Yaman dalam berbagai badan PBB.

Untuk lolos seleksi, mereka harus mengirimkan esai mengenai isu-isu dunia yang disajikan. Kemudian esai diseleksi langsung oleh pihak Harvard University. Dari berikut nama-nama yang terpilih:

Angola: Syafa Sakina Noer dan Andhika Mayangsari untuk Disarmament and International Security Committee, Hanni Hafsari Putri dan Diedra Nabila Adriansyah untuk Social, Humanitarian, and Cultural Committee, Carissa Nuryasmin Putri dan Jessica Fathin Humairah untuk Special Political and Decolonization Committee, Muhammad Syahreza Ishak dan Raden Abdullah Dimas untuk Legal Committee, Aurel Nafiz Johansyah untuk World Health Organization, Fatia Aisyah untuk World Trade Organization, Kamila Nurmafira Kusumaningdyah untuk Special Session on Terrorism, Gabriela Zurliana Said untuk World Conference on Women, Muhammad Athar Iswandi dan Yudhistira Ghifari Adlani untuk United Nations Environment Assembly, Rayhan Hanif Oetomo untuk African Union, Brigitta Gisbertha Samosir untuk World Bank, serta Salsabila Rizal Tarigan dan Satria Mahendra Brunner untuk Security Council.

Yemen: Muhammad Edra Adrian Prasetio dan Muhammad Saiful Adhim untuk Disarmament and International Security Committee, Mushaffa Huda dan Oliver Muhammad Fadhlurrahman untuk Social, Humanitarian, and Cultural Committee, Muthia Fadhila Khairunnisa dan Medina Auradanty untuk Special Political and Decolonization Committee, Natasya Nabila dan Padma Danti Umayi untuk Legal Committee, David Erick Christian untuk World Health Organization, Nashita Indira Susanto untuk World Trade Organization, Azzahra Motik Adisuryo untuk Special Session on Terrorism, Ariqo Mutiara Hairudin untuk World Conference on Women, serta Laila Azzahra untuk United Nations Development Programme.

Setelah terpilih, mereka juga harus membuat position paper yakni paper yang berisi pandangan negara yang mereka wakili mengenai topik yang akan dibahas sesuai komite mereka. Setiap minggu pun diadakan latihan persiapan seperti latihan pidato, bernegosiasi hingga membuat resolusi. Pokoknya persiapan matang sebelum terbang ke Boston.

Begitu acara, semua anak SMA dari berbagai negara menyampaikan pendapat mereka, membuat blok-blok sesuai posisi negara. Dan kemudian membuat resolusi untuk isu yang dibahas.

Sebelum mulai sidang, negara-negara harus mengangkat placard untuk menyatakan kehadiran mereka dan berbicara lantang, “Present!”. Di ruangan dengan lebih dari seratus lebih perwakilan negara, tentu para peserta harus bisa terlihat unik agar ditunjuk oleh Board of Directorsnya.

img 9903

Nggak cuma soal berdiplomasi, dengan mengikuti Harvard Model United Nations bisa berkenalan dengan teman baru dari berbagai negara. Seru kan?

Tapi nggak cuma sampai di sana. Teman-teman dari SMA Labschool Jakarta yang menetap selama dua minggu ini juga melakukan wisata edukasi di empat negara bagian. Di New York, mereka mengunjungi United Nations Headquarter. Memasuki ruangan sidang asli yang dipakai perwakilan-perwakilan negara untuk merumuskan resolusi.

img 9005

Di Boston, usai Harvard Model United Nations, mereka berkunjung ke Harvard University, Massachussets Institute of Technology, juga Georgetown University di Washington DC untuk mendapat penjelasan dari tour guide yang merupakan mahasiswa di sana.

Perjalanan berhenti di Washington DC. Selain dapat berdialog dengan para staf duta besar di bagian pendidikan dan kebudayaan serta perdagangan, Bapak Budi Bowoleksono, Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, juga ikut menjamu dan memperlihatkan kantornya.

Nah kebayangkan serunya perjalanan temen-temen dari SMA Labschool Jakarta ini. Buat lo yang tertarik untuk jadi diplomat, ajang kayak gini jangan sampe lolos. Yuk, mulai ikut “Present!” di Model United Nations!

Komentar

Login to P!