Udah pada tau belum?

Jurnalisme telah lama memiliki jenis dan variasi. Salah satunya adalah jurnalisme sastra. Sastra sendiri memiliki pengertian yang berbeda dengan jurnalisme.

Menurut Wikipedia, sastra (Sanskerta: shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta “Sastra”, yang berarti teks yang mengandung instruksi atau pedoman, dari kata dasar sas yang berarti instruksi atau ajaran dan tra yang berarti alat atau sarana. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.

Jurnalisme sastra adalah jenis tulisan jurnalistik yang teknik dan gaya penulisannya menggunakan cara yang biasa dipakai dalam karya sastra, misalnya seperti dalam cerpen atau novel. Jurnalistik sastra menyajikan jurnalisme yang lebih menarik dibaca, menyentuh emosi pembaca, dan memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai daerah atau tokoh tertentu. Kemunculan jurnalisme sastra ditandai dengan dimulainya gerakan New Journalism di Amerika Serikat. Gerakan ini populer di Amerika Serikat pada tahun 1960 sampai 1970-an. Tulisan-tulisan bercorak jurnalistik sastra mudah ditemukan di media daring, koran, dan majalah.

Meski menggunakan gaya penulisan fiksi di dalamnya, namun jurnalisme sastra bukanlah fiksi. Isi laporannya tetap berdasarkan fakta, bukan fiksi. Jadi, jurnalisme sastra bukanlah penulisan berita yang berdasarkan fiksi, melainkan penulisan berita yang menggunakan teknik kesusastraan.

Pada intinya, jurnaslisme sastra ditulis dengan keintiman dan gaya yang artistik atau unik, dengan teknik pengisahan yang membawa “omongan” orang-orang secara riil, deskriptif, bisa menggugah emosi pembaca, naratif, simbolis, ekperimental, dan kadang puitis. Waktu penulisan dan reportasenya bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sehingga pelaporan yang ditulis pun memiliki kedalaman.

Sejarah Jurnalisme Sastra di Indonesia

Jurnalistik Sastra di Indonesia baru mulai dikenal pada tahun 1990-an. Majalah Tempo disebut-sebut sebagai salah satu media yang menjadi inisiator dalam penerapan jurnalistik sastra di Indonesia. Saat berdiri, Tempo merupakan satu-satunya media yang menggunakan teknik bercerita dalam menulis kontennya.

Selain dari jurnalis-sastrawan Tempo, banyak jurnalis-sastrawan yang ikut turut andil dalam dinamika jurnalistik sastra di Indonesia, di antaranya Remy Syldo dari majalah Aktuil, Korrie Layun Rampan dari majalah Sarinah, Titie Said dari majalah Kartini, dan banyak jurnalis-sastrawan lain.

Manfaat Jurnalisme Sastra

Jurnalistik yang erat dengan sastra sangatlah memiliki manfaat yang besar. Salah satunya adalah keindahan sebuah tulisan fakta. Dengan balutan nuansa sastra, sebuah berita akan menjadi sangat indah dan enak untuk dibaca.

Pembaca seolah-olah akan diajak untuk berimajinasi membayangkan kejadian yang ditulis dalam berita tersebut. Dengan penulisan deskriptif yang bisa menggambarkan setting atau latar pada peristiwa tersebut, tulisan tersebut akan lebih hidup.

Manfaat lain dari jurnalisme sastra adalah jiwa seni dari penulis maupun pembaca akan terasah. Jarang bagi kita untuk dekat dengan kesusastraan. Kita lebih sering memakan informasi secara lurus dan lempeng. Dengan adanya bumbu sastra dalam tulisan itu, jiwa seni dan kesusastraan akan lebih hidup dan dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Komentar