header-suara-hati-anak-sma-tentang-rkuhp-indonesia_1.jpg

"Karena kami juga bagian penerus bangsa yang memiliki suara tuk didengar"

Beberapa hari ini, jutaan masyarakat Indonesia geram dengan rancangan undang-undang (RUU) yang dianggap ngaco. Mulai dari RKUHP (Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana), RUU Pertahanan, RUU Permasyarakatan, RUU Ketenagakerjaan, RUU PKS, RUU Minerba, dan UU KPK membuat resah dan geram masyarakat. Atas hal ini, mahasiswa pun melakukan demo untuk menuntut rancangan undang-undang atau RUU yang bermasalah tersebut.

Demo mahasiswa nggak cuma terjadi di Ibu Kota Jakarta, berbagai kota di Indonesia ikut serta melayangkan #mositidakpercaya dan turun ke lapangan untuk menuntut. Sebut saja Bandung, Malang, Purwokerto, Surabaya, Balikpapan, Samarinda, dan lain-lain turut mengadakan aksi turun ke lapangan. Wajar saja jika mahasiswa melakukan sebuah tuntutan, karena mereka adalah generasi penerus bangsa dari negara ini yang memiliki hak untuk mendapatkan yang terbaik untuk masa depannya kelak di negeri kita tercinta, Indonesia. 

Namun, nggak cuma mahasiswa aja ternyata yang ingin bersuara mengenai rancangan undang-undang (RUU) Indonesia kali ini. Generasi di bawah mereka yakni anak SMA (Sekolah Menengah Atas) rupanya juga memiliki hak untuk menyuarakan pendapat dan apa yang mereka rasakan mengenai RUU. Provoke! mengumpulkan beberapa anak SMA dari Kota Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta untuk mendengarkan pendapat mereka tentang RUU Indonesia. Berikut pendapat mereka, sang generasi penerus bangsa...

 

Jakarta

1. Alifa - 15 Tahun

"Kontra banget. Dari awal aja udah kesel RUU-PKS nggak di-sahkan sampai sekarang. Malah muncul beginian, yang isinya nggak masuk akal. Seolah-olah keliatan banget kalau pemerintah tuh makan duit rakyatnya (bukan seolah-olah lagi kali, ya) lewat sanksi-sanksi yang dimuat di RKUHP. Plis lah, panca indra mereka lengkap tapi nggak ada yang dipakai. Matanya ada nggak dipake buat ngeliat kalo RKUHP ini udah kelewat batas. Buta kondisi, main ngatur aja perempuan nggak boleh keluar lewat jam 10 malem, mereka nggak liat bahwa banyak dari mereka anak kuliahan, ibu yang kerja untuk anaknya. Menurut saya siapapun dan apapun mereka, pemerintah bukan siapa-siapa buat ngatur jam pulang kita. Punya telinga, nggak dipake buat mendengar pendapat sama aspirasi rakyatnya. Malah minta kita buat ‘calm down’ karena RKUHP sudah DITUNDA (doang). Untuk sekarang saya cuma bisa mendukung lewat tanda tangan petisi, nunggu, dan berbagai pendapat saja".

2. Sabrina - 16 Tahun

"Miris, cuma itu. Sudah terlalu banyak kata-kata yang dikeluarkan kita (masyarakat) dan teman-teman di jalan (demonstran) bahkan sebelum terjadi demo. Mungkin kepada bapak-bapak dan ibu-ibu petinggi kita yang sedang sibuk tidur di ruang rapat, rasanya ingin bertanya ke salah satu dari mereka, "pak, kekuasaan tertinggi bukannya di tangan rakyat? Mengapa kami tidak didengar?". Saat ini yang saya lakukan untuk mendukung adalah ikut beraspirasi, kalau tidak di jalan ya melalui medsos (media sosial). Biar dunia tahu kalau negeri kita sedang lucu-lucunya. Kalau medsos down atau diputus? Baru turun ke jalan".

3. Fatih - 17 Tahun

"Jujur setelah tau semuanya, jadi kontra parah. Sedikit kecewa juga karena yang seharusnya hak pribadi eh malah diatur. Padahal kan setiap manusia memiliki hak masing-masing :( Pengen pake banget ikutan ke DPR, ikut menyuarakan terus ngasih tahu ke DPR kalau bisa jangan cuma direvisi melainkan dihapus karena bener-bener no akhlak".

 

Bandung

1. Chika - 17 Tahun

"Kontra banget sama RKUHP. Karena terlalu berlebihan sedangkan fakta demokrasi saat ini, bukannya kampanye cari rakyat, tapi kenapa bikin aturan tanpa rakyat. Sekarang rasanya pengen banget Pak Presiden turun tangan karena rakyat butuh bukti nyata. Kalau memang negeri ini demokrasi mengapa hukum didekorasi?"

2. Adi - 17 Tahun

"Tentunya kontra, karena banyak yang nggak masuk akal dan hukumnya tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Pengen banget ikutan demo dan pengen aku aja deh yang jadi anggota DRP-nya, hehe".

3. Anwar - 17 Tahun

"Nggak setuju dengan RKUHP, karena kayak lebay aja gitu. Sekarang kan udah pada demo-demo tuh, lagi pengen lihat DPR dan mahasiswa duduk bareng ngobrol di Mata Najwa".

 

Surabaya

1. Ferry - 17 Tahun

"Kecewa sama isi sejumlah rancangan yang sudah dibahas pemerintah dan DPR. Seperti RUU KUHP dan UU KPK hasil revisi. Di dalam RUU KUHP, pasal-pasal yang dianggap kontroversial seperti tindakan pidana bagi pelaku perzinaan atau kumpul kebo. Hal inilah yang kemudian dianggap sebagian besar masyarakat: negara sudah terlalu over dan kurang kerjaan mengurusi wilayah privat rakyatnya. Saya juga berpikir, bahwa seyogianya di dalam kultur masyarakat Indonesia yang majemuk ini masing-masing punya pandangan hidup dan keajekan sosial yang  tumbuh di tengah masyarakat sebagai self-control. Jadi negara tidak perlu genit dan kebablasan dalam hal ini".

2. Adela - 16 Tahun

"Saya rasa peran pemerintah yang seharusnya mengayomi masyarakat dan sebagai wakil rakyat sudah tidak diemban lagi dengan munculnya tidak hanya RKUHP dengan pasal-pasalnya yang berkonotasi tidak manusiawi, tetapi juga RUU lainnya, seperti RUUPKS, RUU Minerba, dan masih banyak lagi. Sebagai pelajar dan penerus bangsa, yang dapat kita lakukan adalah kita harus pandai menganalisa keadaan serta tidak mengulangi tindakan para wakil rakyat saat ini; dengan menyuarakan pendapat kita, maka kita turut berperan dalam tidak menjerumuskan Indonesia ke dalam keruntuhan dan tirani. Kita juga harus menjadi manusia yang berempati dengan sesama manusia lainnya agar kita dapat membangun persatuan yang kokoh untuk keutuhan NKRI kita semua"

3. Dinda - 16 Tahun

"Saya bicara dari keseluruhan RUU KUHP yang sudah ramai dibicarakan. Sepintas aturan-aturan yang dibuat memang bertujuan memperbaiki keadaan. Tetapi dengan hal- hal detail yang dilarang dalam bentuk pembuatan undang-undang baru, menurut saya membuat hukum Indonesia semakin rumit. Jujur saya masih ragu dengan kemampuan pemerintah untuk menjalankan aturan ini di masyarakat. Karena undang-undang baru yang dibuat berhubungan dengan masalah-masalah kecil dan rinci di masyarakat. Pikirkan saja, undang-undang yang sudah lama dibuat saja belum bisa terlaksana sepenuhnya bahkan ada banyak kasus yang belum bisa terselesaikan, bagaimana cara pemerintah untuk menjalankan undang-undang yang baru ini secara penuh? Saya merasa suara masyarakat Indonesia sebagai negara demokrasi lambat laun mulai tidak dianggap. Hal ini terbukti dengan disahkannya 5 RUU oleh DPR di tengah ramainya penolakan yang dilakukan masyarakat".

 

Yogyakarta

1. Marchell - 17 Tahun

"Aku sebenernya setuju aja sama rancangan UU KUHP yang baru ini soalnya UU kita kan udah jadoel, butuh pembaruan mengikuti perkembangan zaman. Sepanjang nggak banyak pelanggaran terutama HAM, lagipula pasti para pemimpin negara kita beliau-belia ini udah memikirkan matangmatang  tentang bagaimana ke depannya kalo UU ditetapkan. Sebagai pelajar ya kita belajar aja biar masa depan Indonesia lebih lagi, hehe".

2. Amanda - 16 Tahun

"Pendapat saya kontra dengan RKUHP, kenapa? Karena memang isinya yang tidak jelas, contohnya nih kalau kalian punya ayam, ayamnya main ke halaman tetangga dan matok tananan milik tetangga. Nah kalian harus membayar denda Rp 10 juta, apa itu masuk akal? Jelas tidak kan?!, bukannya membawa masyarakat semakin sejahtera tapi justru mensejahterakan para koruptor, rakyat dibuat pusing dengan denda-denda yang tidak masuk akal. Sedang kan koruptor justru dibantu menjalankan aksinya dengan meringankan hukumannya yang terdapat dalam isi revisi UU KPK yang disahkan beberapa waktu lalu. Yang bisa saya lakukan atas kejadian ini bukan aksi di jalan seperti kakak-kakak mahasiswa, tapi saya terus mendukung kakak-kakak mahasiswa untuk menegakkan keadilan, melalui media sosial, dan juga berdoa pastinya untuk pihak-pihak yang berwenang agar pengesahan RKUHP yang sedang ditunda ini untuk dipikirkan ulang, dan kebijakan yang ada nanti akan seadil-adilnya serta semakin mensejahterakan masyarakat indonesia".

3. Kimberley - 16 Tahun

"Dari sudut pandang pelajar saya kontra banget dengan RKUHP, karena menurut saya beberapa pasal tersebut tidak masuk akal dan tidak sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini. Perencanaan perubahan tersebut pun bertolak belakang dengan prinsip Pancasila dan hak asasi manusia (HAM) mengenai kebebasan masyarakat dalam menentukan pilihan. Dengan kondisi saya masih pelajar SMA, saya cuma bisa mendukung mahasiswa dalam aksinya melalui media sosial, dan menyuarakan pendapat ke pemerintah. Saya hanya dapat berharap bahwa pemerintah berpikir lebih logis dan melihat dampak positif serta negatif dari setiap perubahan UU".

Jadi, apakah lo merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan temen-temen di atas? Kalau lo punya pendapat lainnya, bisa komen di kolom bagian bawah, ya. Silahkan menuangkan aspirasi dan pendapat kleaan, wahai anak muda!

Komentar