Cantik Masa Depan

Adalah cantik yang nggak gampang ketebak dan bikin penasaran.

Cantik itu relatif. Cantik juga sangat subyektif. Nggak ada yang berhak menuntut pertanggungjawaban atas pujian lo buat seseorang yang menurut lo cantik.

Misalnya nih, "dari dulu Aurel emang cantik ya," puji lo di akun instagram anak Anang Hermansyah itu. Bukan sebuah keharusan lo menjawab pertanyaan ketika ada orang yang menanyakan alasan lo memuji Aurel demikian. Sebab, Kamus Besar Bahasa Indonesia aja bilang, cantik itu elok, molek. Terus apa itu elok? Elok itu ya cantik. Begitu juga molek.

Nah, dari artinya aja manusia dibebasin buat mendeskripsikan kecantikan. Terus kenapa masih ada aja yang menjustifikasi cantik dengan standar sebuah iklan yang bertebaran di media massa? Harus putih bersinar kayak kain kafan, hidung mancung, rambut lurus hitam panjang kayak dendeng balado, badan harus tinggi tegak kayak penggaris besi, ketek dan dengkul mesti putih mengkilat kayak kertas A4, bibir merah, pipi merona kayak jambu monyet. Malah yang lebih parah lagi sampe ada yang bilang kalo cantik itu sinzui. Itu apa? Obat ketek?

Dengan kata lain, cantik yang kayak gitu adalah cantik mainstream! Cantik yang hanya memenuhi mitos kecantikan yang selama ini diumbar-umbar media massa buat mempengaruhi lo.

Menurut P! ada cantik lain yang seharusnya mulai lo pahami dari sekarang. Cantik revolusioner! Atau P! sebut sebagai cantik masa depan. Cantik kayak gini ada pada orang-orang yang kalo lagi jatuh cinta lebih banyak dengerin lagunya Ava AdoreSmashing Pumpkins daripada All of Me nya John Legend. Cantik yang butuh waktu buat dimengerti.

Lo Butuh Waktu Buat Melihat

Nggak seperti cantik mainstream, cantik yang secara fisik begitu lihat dia pertama kali, lo langsung sadar kalo dia cantik.  Nah, cantik masa depan adalah cantik yang butuh waktu buat lo melihatnya. Lo nggak langsung bilang kalo dia cantik saat lo pertama kali ketemu orang itu, karena mungkin secara fisik dia nggak memenuhi standard mitos kecantikan yang dibuat sama produk – produk kecantikan di media massa. Alias lo nggak usah terburu-buru bilang dia nggak cantik cuma karena dia nggak punya kulit yang putih bersih mengkilat kaya super pel, badannya pun nggak tinggi, dan lemaknya bertebaran di setiap kulitnya, bentuk muka nya nggak oval, rambutnya nggak hitam, nggak lurus juga, dan nggak berkilau.

Tapi setelah lo kenal dia lebih dalam, ketika lo masuk dan tahu kehidupannya, ketika lo tau apa yang dia suka dan apa yang dia nggak suka. Ketika lo tahu perjuanganan dia untuk hidup. Terus apa yang udah dia alami di hidupnya. Apa yang udah dia lakukann untuk dirinya sendiri dan orang lain. Dan ketika lo mulai terbiasa sama dia, baru lo akan sadar bahwa segala kekurangannya tadi, mulai dari kantong matanya, sampe semua selulit di badannya  akan menjadi bagian dari dirinya yang cantik.

Cantik yang membutuhkan waktu inilah yang biasanya akan bertahan lama. Cantik yang membutuhkan waktu inilah yang menjadikan waktu cuma sebagai “point of view”. Cantik yang membutuhkan waktu inilah yang akhirnya merubuhkan mitos – mitos kecantikan tadi.  Cantik yang membutuhkan waktu inilah yang pada akhirnya bikin kita sadar kalo cantik itu nggak ada. Itu cuma nafsu. Itu cuma ambisi.

Dadah cantik!

1412699636953

Komentar