7 soal aksi kamisan yang perlu lo tahu 

Aksi ‘diam’ yang tidak akan diam

Kalo lo lewat daerah Istana Negara dan sekitarnya di hari Kamis sore, maka lo akan menemukan sebuah kerumunan hitam-hitam. Orang-orang berdiri menghadap ke Istana Negara sambil membawa spanduk dan lengkap dengan atribut payung hitam. Kalo lo belum tau, mereka lagi ngelakuin yang namanya Aksi Kamisan.

Mereka berdiri di situ bukan tanpa sebab. Mereka berdiri di situ untuk meminta sebuah pertanggungjawaban. Nah kali ini Provoke! mau ngajak lo semua untuk tahu lebih banyak soal Aksi Kamisan ini. Yuk dibaca!

Setiap Kamis

Nama Aksi Kamisan dipilih karena aksi ini selalu diadakan di setiap hari Kamis jam 16.00 hingga 17.00 WIB. Hari Kamis ini dipilih karena hari luang para pesertanya. Sore hari dipilih pun karena pada jam segitu, lalu lintas sedang rame. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan menarik perhatian dan juga kepedulian dari orang yang lalu lalang.

Aksi ‘Diam’

Kalo biasanya orang-orang memilih untuk aksi dengan turun ke jalan, berorasi bahkan ekstrimnya sampe ngerusak fasilitas umum yang ada, Aksi Kamisan berbeda. Aksi Kamisan memilih untuk diam sebagai bentuk tuntutan bagi pemerintah untuk tidak diam terhadap isu yang mereka bawa. Menurut Aksikamisan.net, “diam” tidaklah berarti telah kehilangan hak-hak sebagai warganegara, dan “berdiri” melambangkan bahwa korban/keluarga korban pelanggaran HAM adalah warganegara yang tetap mampu berdiri untuk menunjukkan bahwa punya hak sebagai warga di bumi pertiwi Indonesia dan sadar bahwa hak itu tidak gratis bisa didapat, terlebih-lebih ketika pemerintah tidak mau peduli.

Menuntut keadilan terhadap pelanggaran HAM

1

Akibat terjadi karena sebuah sebab. Aksi Kamisan terjadi karena para pesertanya menuntut keadilan pemerintah terhadap pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia. Seperti Tragedi Semanggi, beberapa mahasiswa ditembak oleh aparat ketika turun ke jalan. Juga kasus meninggalnya Munir yang sampai sekarang belum tuntas.

Beberapa kasus lainnya seperti penembakan Semanggi 1, Semangi 2, dan penembakan Trisaksi, serta penghilangan paksa aktivis. Juga kerusuhan Mei 13 dan 15 1998, Talangsari Lampung, Tanjung Priok 1984, tragedi 1965, pembunuhan aktivis HAM Munir dan tragedi Wasior-Wamena.

2

Aksi Kamisan juga menyoroti sikap pemerintah terhadap hal ini. Pemerintah dinilai abai terhadap penjaminan HAM warga negaranya. Pemerintah juga dinilai tidak serius dalam menangani kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi. Bahkan beberapa nama-nama yang diduga sebagai orang di balik layar pelanggaran HAM yang pernah terjadi duduk di kursi pemerintahan tanpa pernah diadili dan dijatuhi hukuman.

Sepuluh tahun berjalan

Aksi Kamisan pertama diadakan pada 18 Januari 2007 di Istana Negara. Sejak saat itu, setiap Kamis aksi ini berlangsung. Terhitung dari pertama kali aksi dilakukan maka Aksi Kamisan sudah berlangsung selama 10 tahun di depan Istana Negara yang jatuh pada 19 Januari 2017.

Bayangin, coy, selama 10 tahun lo melakukan aksi tapi pemerintah menanggapi sekenanya aja? Hem!

Dapet rekor MURI

MURI menganugerahi Aksi Kamisan penghargaan untuk aksi tergigih dalam memperjuangkan penegakan hukum terhadap pelanggaraan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia. Agak bingung kita harus bangga atau justru sedih terhadap rekor ini. Atau mungkin kita harus ngerasain keduanya. Bangga karena kita konsisten membela keadilan. Tapi juga sedih karena udah selama itu tidak ada tindak lanjut dari pemerintah untuk turut menegakan keadilan.

Banyak yang turut Aksi

3

Kota lain juga turut melakukan Aksi Kamisan ini seperti Bandung, Malang, Jogja, dan Surabaya. Tuntutan yang sama disuarakan oleh Aksi Kamisan di kota-kota tersebut. Nggak cuma itu, beberapa public figure turut buka suara dan turut ikut dalam Aksi Kamisan. Misalnya Arie Kriting, Melanie Subono dan Pandji Pragiwaksono hadir pada peringatan 10 Tahun Aksi Kamisan, pekan lalu.

4

Melawan Lupa

Aksi Kamisan juga menjadi bentuk gerakan Melawan Lupa. Bukan berarti kita jadi manusia yang suak ngungkit-ngungkit masa lalu dan nggak maju. Bukan. Melawan lupa dalam artian tragedi pelanggaran HAM di masa lalu jangan sampe terulang lagi. Apalagi sampe kasusnya nggak pernah diadili secara jelas oleh Pemerintah. Jangan sampe!

5

Aksi Kamisan ini juga bisa jadi sebuah gerakan membangun ingatan buat para generasi muda yang nggak pernah ngalamin atau ngeliat langsung tragedi pelanggaran HAM yang pernah terjadi. Ya supaya nggak terulang lagi di masa depan. Dan ke depannya, kita bisa menghormati HAM setiap warga negara dan pelanggaran HAM bisa diadili seadil-adilnya.

Nah itu dia beberapa hal soal Aksi Kamisan. Mungkin aja lo berpikir kalo kasus-kasus tersebut jauh dari tempat lo tinggal sekarang ini. Atau mungkin lo merasa nggak akan ngalamin yang namanya pelanggaran HAM. Isoke! Yang perlu lo tanamin ke diri lo ini soal kemanusiaan dan sebagai manusia lo juga turut peduli akan hal tersebut. Akhir kata, JANGAN DIAM! LAWAN!

Komentar