Musisi sebagai pembuat konten musik acapkali tak tahu akan hak atas apa yang dibuatnya. Gue suka kadang miris kalau melihat musisi yang terus menggerutu karena penghasilan dari bermusiknya dirasanya kurang cukup dan menyalahkan keadaan bahkan perusahaan rekaman tempat mereka di kontrak. Padahal, loe bisa stand-up for your right jika saja loe tau, karena sebagai musisi loe adalah bagian terpenting dari industri musik.
 
Model bisnis terdahulu seakan ‘membutakan’ para musisi ini dengan kontrak rekaman yang semuanya diatur oleh perusahan rekaman. Ini tidak salah koq, hanya ada saja musisi jadi terlena dengan imbalan royalty yang dibayar dimuka sebelum album rekamannya terjual. Royalty yang jumlahnya cukup signifikan ini kadang menjadi racun yang membuat musisi menjadi malas karena sudah menerima penghasilan sebelum bekerja keras. Walaupun ada juga musisi yang cukup cerdas memanfaatkan royalty yang diterimanya lebih dahulu sebagai modal untuk membuat karya yang lebih baik.
 
Kini ketika bisnis model tidak lagi bergantung pada kepemilikan teknologi mereproduksi rekaman dan penguasaan jalur distribusi, musisi dapat lebih leluasa menciptakan dan menyebarkan karya musiknya. Thanks to technology.
 
Bermodalkan laptop dengan soundcard, memori cukup serta software musik, sekarang siapapun dapat membuat lagu. Menyebarkannya pun sekarang sangat mudah dengan bantuan koneksi internet. Ada soundcloud tempat loe bisa memamerkan karya musik loe dan mendapatkan respon dari pendengar karya loe. Kalo loe lebih pede, loe bisa merekamnya lewat video dan menyiarkannya di YouTube. Segalanya jadi lebih mudah.
 
Lalu jika loe berpikir untuk naik level dengan memonetize karya musik loe dan menjualnya secara digital ke iTunes, Google Play ataupun Nokia Music, caranya pun sudah banyak tersedia. Loe bisa mendaftarkan karya musik loe pada aggregator musik seperti: Tunecore, ValleyArms ataupun IODA. Jika loe merasa ngga pede berbahasa Inggris tapi masih ingin bertanya-tanya lebih banyak, kawan-kawan kita di Indonesia ada yang dapat membantu mendistribusikan karya musik loe.
 
Diantaranya ada Anton Kurniawan, yang dulu sempat menjadi manajer Sheila on 7, beliau dibawah bendera Gotong Royong Music dapat membantu loe. Atau loe juga bisa kontak Mistral Musics yang mana ada DJ Echa, Aria Baja (OZ FM) dan Erie Prasetyo (Personal Manager Anjie). Robin Malau yang kiprahnya bersama Puppen dan sekarang aktif di agency digital juga membuka aggregator bernama Musikator. Dan juga ada Aldo Sianturi yang selain pengajar di SAE Instutute Jakarta, beliau juga konsultan untuk aggregator Believe Digital dan punya reputasi internasional.
 
Di artikel kali ini, gue tidak menyinggung hal yang kompleks seperti bagaimana mengamankan karya musik loe dengan perlindungan copyright. Tapi loe bisa membaca cuplikannya di blog gue disini http://www.widiasmoro.com/2008/01/15/copyright/
 
Kemaren, Project Pop yang albumnya tertunda sejak 3 tahun lalu dan sudah tidak lagi dibawah Musica Studios merilis single barunya dengan bentuk game bernama Power Pop. Album baru Sore yang dirilis secara digital di iTunes mencuri perhatian dengan memuncaki chart. Band emo yang masih fresh Yes It’s You yang juga baru merilis debut albumnya juga dapat merajai chart download Nokia Music. 
 
Bukanlah lagi saat untuk loe mengirimkan demo rekaman dan menunggu label memanggil loe. Musisi, loe punya posisi tawar. Karena sesungguhnya musisi adalah komponen terpenting di industri musik

Komentar