Loe pasti sering banget menemukan band-band lawas yang kemudian namanya mendadak muncul lagi untuk melakukan apa yang mereka sebut sebagai ‘konser reuni’. Kabarnya mereka sudah akur dan merindukan kembali saat-saat manggung bareng. Konser tersebut tentunya menyedot perhatian banyak penggemarnya. Apalagi mereka yang memiliki momen kenangan tersendiri terhadap karya-karya musik yang pernah dipopulerkan. Berapapun harga tiket konsernya pasti akan dibela-bela karena ini merupakan momen unik yang mungkin tidak akan terulang lagi.


Gue pun mungkin akan merogoh kocek terdalam demi menyaksikan band favorit gue, Oasis, reuni dan konser di Jakarta. Meskipun mereka sudah tidak muda lagi namun momen ini yang bakal gue kejar. Menyaksikan band lagendaris bersatu kembali dalam satu panggung memainkan karya-karya musik monumental sebelum mereka akhirnya tutup usia.
 
Kadang konser reuni ini dapat dimanfaatkan untuk menjaring penggemar-penggemar baru di usia yang lebih muda. Ini lumrah karena demam untuk menyaksikan sebuah band reuni lagi digaung-gaungkan di berbagai media. Istilahnya orang yang gak mau tau akhirnya jadi kepaksa tau karena semua media ngomongin.
 
Kalau dilihat dari sisi bisnis musik, konser reuni menjadi momen yang juga menggerakkan orang-orang untuk membeli kembali album-album yang pernah dirilis oleh band tersebut. Atau sekedar melengkapi koleksi album yang mungkin dahulu tidak sempat terbeli. Kaos, topi dan berbagai pernak-pernik merchandise pun dibuat demi memenuhi hasrat demam konser reuni. Kebayangkan berapa keuntungan dari bisnis musik akibat dari konser reuni ini.
 
But wait, gue melihat ada yang lebih menarik lagi disini. Ada juga beberapa band yang sebelum mereka reuni, jauh ketika mereka masih bersama, mereka dengan sopan memberitahukan kepada para fans mereka bahwa mereka sudah tak lagi bisa bersama. Atau dengan alasan vokalis band tersebut mau hijrah ke negeri seberang dan menetap disana tak kembali bermusik. Atau dengan alasan muak dengan industri musik yang sarat dengan pembajakan dan tak lagi bisa menggantungkan hidup dari bermusik. Mereka menyerah dan memutuskan mundur dari musik. Untuk itu, mereka akan membuat sebuah konser yang disebut sebagai konser perpisahan. Konser ini pun dilengkapi dengan tur ke berbagai kota dunia.
 
Sama halnya dengan konser reuni, dalam konser perpisahan pun dianggap sebagai momen penting yang mengundang minat orang untuk melihat penampilan mereka terakhir kali. Tiket konser dibandrol dalam harga istimewa menjanjikan sebuah penampilan akhir yang menjadi momen tak terlupakan. Album-album yang pernah dibuat dirilis ulang dan merchandise pun diproduksi demi ajang pamitan ini. Meskipun setelah beberapa tahun kemudian mereka muncul kembali dan melakukan konser reuni.
 
Well, that’s a business. Sah-sah saja menurut gue para musicpreneur melakukan strategi yang demikian. Mungkin memang awalnya pengen udahan bermusik dan pamitan dari industri musik. Tapi pas dilihat animonya masih banyak yah gak jadi pamit. Ya gak papa kok. Karyanya masih bisa dinikmati terus dan ditunggu karya terbarunya.
 
Bahkan buat musisi yang sudah tutup usia pun masih bisa dijual segala komoditasnya baik dari sisi rekaman, merchandise, video manggung, buku, dan juga konser ‘pengalaman’. Kurt Cobain pun tak menyangka Nirvana bakal setenar sekarang. Amy Winehouse pun lebih terkenal ketimbang ia masih hidup. Dan inget kan loe beberapa tahun lalu di Coachella rapper terkenal yang meninggal karena tertembak, Tupac, dihadirkan kembali dalam bentuk hologram dan ngerap bareng dengan Snoop Dog?


Yah, gimmick semacam itu dapat membuat pengalaman dan memberikan momen kenangan tersendiri bagi para penggemarnya.
 
Tetapi apakah membuat konser perpisahan lalu kemudian hari muncul dengan konser reuni yang dijadikan kunci sukses dari bisnis musik? Bukan, bukan itu. Di tulisan gue kali ini gue banyak mengulang kata momen dan pengalaman. Musik adalah soal memberikan pendengar kita yang bakal jadi penggemar kita memiliki momen dalam hidupnya. Musik memberikan arti tersendiri bagi kisah hidupnya bahkan menjadikan soundtrack untuk menegaskan jejak-jejak yang pernah dilalui dalam hidup. Musik memberikan energy yang memberi arti. That’s your mission. Itulah tugasnya musisi untuk memberikan momen lewat karya musiknya. Ini bukan soal berapa banyak keping CD laku terjual, berapa banyak file lagu didownlad dan berapa banyak tiket dibeli. Kami perlu kamu memberi arti, bukan sekedar penghibur dan penghias acara gossip semata!

Komentar