Dalam beberapa minggu terakhir gue mendengar banyak musisi Indonesia mendapatkan penghargaan. Band metal Burgerkill sampai terbang ke Inggris untuk mendapat penghargaan Metal As F*ck dari majalah Metal Hammer. Pemain Biola berusia 12 tahun, Clarissa Tamara, mendapatkan predikat sebagai pemain biola tercepat dari Record Rights Holder. Dan semalem kita baru saja merayakan ajang penghargaan paling bergengsi di Indonesia yaitu Anugrah Musik Indonesia (AMI Awards).

Sebagian orang menganggap ajang penghargaan sebagai omong kosong. Mereka melihat tidak ada keuntungan berupa uang yang didapat secara langsung dari sebuah penghargaan. Malah ada musisi yang sudah jelas-jelas bakal mendapatkan penghargaan menolak untuk datang ke seremoni pemberian penghargaan dan memilih untuk melanjutkan bekerja, manggung, yang lebih menghasilkan duit.

Maka tak heran jika mereka menganggap penghargaan  diterimanya yang paling baik adalah ketika album yang mereka rilis baik itu berupa kepingan cakram ataupun rilisan digital dibeli oleh orang-orang. Itulah penghargaan yang paling masuk akal buat mereka yaitu yang berdampak langsung pada penjualan dan berdampak pada dapur di rumah ngebul. Padahal musik itu gak melulu soal jualan. Mereka yang melihat ajang penghargaan itu ngga ada duitnya gue yakin bukannya tidak mau karyanya dihargai.

Pada dasarnya manusia itu ingin dihargai. Apapun bentuknya, keinginan untuk dihargai atas karya yang telah dibuatnya, rasa pencapaian terhadap jalan hidup yang dipilihnya, ataupun sebuah plakat yang bisa dipajang di ruang tamu agar orang melihat kalau kita sudah melakukan sebuah kerja nyata yang dilegalisir dengan seremonial penghargaan.

Meskipun terkadang ajang penghargaan itu juga tidak luput dari pertanyaan atas kelayakan. Kayak di nominasi AMI Awards 2013 ini pada bidang rock dengan kategori musik Punk terbaik terdapat band bernama Tor. Setelah gue denger-denger musiknya tidaklah terlalu punk malah cenderung funk. Ataupun Nita Aartsen yang mendapatkan nominasi sebagai vocal jazz terbaik untuk lagu Dancing Souls padahal lagu tersebut adalah lagu instrumental. 

Setidaknya musisi tersebut punya sesuatu untuk diceritakan lebih dari sekedar musiknya. Nama musisi atau band dapat terekspos lebih luas lagi dengan adanya ajang penghargaan. Atau setidaknya dari penghargaan tersebut kita bisa meyakinkan sponsor bahwa band kita cukup dikenal khalayak. Dan tidak ada alasan bagi orang lain untuk tidak tau akan band kita atau musik yang kita usung setelah kita mendapatkan penghargaan.

Gue sendiri sih memang belum pernah mendapatkan penghargaan dari merilis sebuah musik atau album. Mungkin itu impian gue berikutnya kalau gue berhasil memproduksi sebuah talenta ke publik. Palingan kalau loe berkunjung ke kantor Sony Music Indonesia di Jl. Johar 13 Menteng Jakarta, loe akan menemukan sebuah plakat di depan pintu masuk ruang meeting besar yang berisikan nama-nama Employee Of The Year dari tahun ke tahun dan loe akan melihat nama Widi Asmoro disana. Plakat tersebut berjajar dengan plakat-plakat platinum dari musisi-musisi rilisan Sony Music. Musisi-musisi yang pernah kerja bareng gue saat menapaki karirnya di industri musik Indonesia. Gue bisa menyombongkan diri kalau gue anak muda satu-satunya di industri musik Indonesia yang namanya diabadikan di tembok kantor perusahaan rekaman terbesar di Indonesia. Haha!

Ajang penghargaan itu bukan omong kosong. Gue merasa sih semuanya itu nggak harus ujung-ujungnya duit. Penghargaan yang kita terima itu tidak ada ukurannya besar atau kecil tetapi itu adalah wujud yang paling nyata atas kerja keras yang sudah dilakukan. Penghargaan itu mengukir sebuah kisah tersendiri buat kehidupan kita seperti kata pepatah harimau mati meninggalkan belang dan gajah mati meninggalkan gading. Kita hidup harus punya legacy, suatu yang ditinggalkan, suatu yang akan diceritakan nanti pada generasi penerus.

 
 

Komentar