Gue yakin loe yang ingin menapaki karir di dunia musik pasti semua punya keinginan untuk segera sukses. Membuat musik seharian, memetik gitar, menulis kata-kata puitis untuk dijadikan lagu dan kemudian merekamnya untuk dijadikan demo rekaman. Lalu mengirimkan demo tersebut ke record label dan berharap suatu hari nanti loe bakal di telpon oleh produser record label tersebut untuk menawarkan loe kontrak rekaman yang bernilai ratusan juta rupiah.


Sayangnya, nggak semuanya berakhir indah seperti itu. Kontrak rekaman yang bernilai ratusan juta rupiah adalah mimpi yang terlalu muluk. Kita melihat bersama-sama saat audisi Indonesian Idol yang lalu, Ahmad Dhani membeli lagu seorang kontestan secara langsung dan hanya membayarkannya hanya dengan 5 juta rupiah.



Manggung mungkin masih bisa diharapkan sebagai pemasukan, namun dengan semakin banyaknya band yang muncul akibat kemudahan membuat lagu rekaman dan juga karena sedikitnya tempat manggung yang layak, maka manggung pun menjadi suatu yang langka. Kecuali band loe menerima job sebagai wedding singer atau acara sunatan.

Nostalgic Income adalah istilah yang gue pinjam dari Robin Malau, gitaris Puppen (iya gue tau kok Puppen itu apaan) tentang pemasukan yang biasa didapat dari musisi dengan model bisnis yang diterapkan dari jaman dulu namun hari ini itu tinggal kenangan. Banyak diantara mereka yang memilih karir bermusik agar dapat segera memiliki kontrak rekaman bernilai tinggi. Hari gini gue haqul yakin tidak ada record label yang berani memberikan uangnya dalam jumlah besar apalagi untuk musisi baru. Selain kontrak bernilai tinggi, gue juga sering menemukan musisi-musisi yang sangat yakin ketika merilis CD ke pasaran bakalan segera ludes dan laku ratusan ribu kopi kayak saat Sheila on 7 pertama kali muncul. Masalahnya jaman sekarang  banyak orang yang sudah tidak lagi mendengarkan musik dari CD. Kalaupun membeli CD biasanya mereka me-rip-nya kedalam file digital dan memutarkannya lewat ponsel atau pemutar MP3. Nostalgic income juga termasuk memori mendapatkan jumlah download atau aktivasi ring backtone dalam jumlah tinggi kayak band Samson atau WALI. Sudah hampir tiga tahun ini all those glory days has come to an end. Dan siapa sih yang beneran mau membayar untuk sesuatu yang dia tidak dapat dengar?

Teknologi membawa kita ke satu level baru dimana kita sudah tidak lagi dapat berpangku pada satu sumber pemasukan: kontrak rekaman, jualan CD, atau jumlah download. Mengapa CD dahulu sangat laku karena satu-satunya cara mendapatkan musik adalah dengan membeli CD. Kehadiran Napster di akhir era 90an meruntuhkan model bisnis musik yang telah ada puluhan tahun. Penyuka musik dapat dengan mudahnya mendapatkan lagu dengan akses Peer-to-peer dan bertukar lagu yang disuka. Teknologi membuat kita harus pintar-pintar mengkombinasikan semua itu agar dapat menguntungkan dan menunjang prestasi bermusik kita.

Di luar negeri kita sering mendengar prestasi musisi yang mendapatkan jumlah download yang besar. Di Australia ada badan chart independen ARIA dan di Amerika Serikat ada Nielsen Soundscan. Sayangnya di Indonesia tidak ada badan independen yang benar-benar menghitung jumlah download. Palingan informasi yang kita dapat adalah informasi dari record label bahwa ada sebuah lagu yang downloadnya sudah 1 juta download misalnya. Yang kebanyakan digunakan untuk kepentingan ‘news-value’ saat meluncurkan album.

Mungkin beberapa dari loe mendengar kabar pekan lalu Thom Yorke dan Nigel Godrich menarik rilisan Atoms for Peace dan album solo Thom Yorke, Eraser dari sebuah layanan musik streaming. Alasan mereka adalah aksi mereka ini sebagai bentuk penentangan terhadap bisnis model yang diterapkan oleh layanan musik tersebut. Yah sah-sah saja sih kalau pemilik lagu tidak setuju dengan proposal model bisnis yang ditawarkan. Tetapi kalau penarikan tersebut dikarenakan ingin mendapatkan kembali bentuk income yang sama dengan model yang terdahulu kayaknya salah sasaran.

Gue bukan bilang kalau bisnis musik tak lagi menjanjikan. Justru sebaliknya, bisnis musik kedepannya semakin mempunyai peluang yang besar. Mengutip istilah yang digunakan oleh Ario Tamat, pengamat musik serta orang yang berada di balik layanan musik Ohdio.FM, saat ini bisnis musik tak lagi berporos pada satu sumber pendapatan melainkan a many small things. Banyak peluang yang dapat digali dari kehadiran teknologi seperti munculnya banyak layanan musik yang memberikan pengalaman mendengarkan musik bagi penyuka musik secara berbeda-beda. Membuat aplikasi musik seperti Blur  atau Indra Lesmana  juga memungkinkan untuk lebih dekat dengan penyuka musik kita untuk paham kebutuhan hiburan mereka. Dan sekarang dengan adanya arus informasi yang deras, musik yang loe buat akan semakin didengar oleh banyak orang.

Jadi pendekatannya sekarang sudah berbeda. Ini tentang bagaimana loe mendapatkan perhatian dari orang banyak yang suka dengan musik loe. Kalau loe tetep keukeuh untuk dapetin kontrak rekaman, mungkin loe bisa baca-baca lagi artikel gue yang ini

Tips dari gue supaya loe tidak terjebak dalam nostalgia kisah lama bisnis model jaman dulu adalah:

1.       Loe musti punya rencana terhadap karir musik yang loe tuju. Banyak-banyaklah bertemu dengan orang-orang yang akan menunjang karir loe. Ini bukan sekedar soal skill bermusik loe, tetapi bagaimana konsistensi loe mengenalkan musik yang loe bawa.

2.       Manfaatkanlah platform sharing musik untuk berinteraksi dengan pendengar musik loe. Disini tujuan loe adalah untuk membangun komunikasi dari lagu yang loe sudah ciptakan. For some reason, gue sarankan untuk menggunakan Soundcloud dan YouTube.

3.       Gunakanlah Ad-funded model dan atau Crowd-funded untuk menunjang pendanaan. Pasang adsense di web official loe juga segera monetize channel YouTube yang loe gunakan. Atau loe bisa kumpulkan fans-fans loyal loe untuk membantu pendanaan produksi album loe. Disini saling belajar menghargai: musisi bakal menghargai tiap uang yang disumbangkan untuk membuat karya bagus dan penikmat musik mendapatkan hak atas apa yang dikeluarkannya dengan kepuasan dari musik yang dibawakan si musisi.

4.       Website profil yang loe punya jadikanlah media komunikasi. Gue sarankan loe punya website dengan domain sendiri ketimbang nyari yang gratisan. Konsisten mengupdate web ini minimal seminggu sekali lalu sebarkan lewat Twitter ataupun Facebook serta newsletter.

5.       Buatlah lagu loe tersedia dimanapun orang ingin mendapatkannya secara resmi. Platform musik yang ada di Indonesia seperti Nokia Music, iTunes, YouTube ataupun Ohdio bisa loe manfaatkan untuk mendistribusikan karya loe. Ketersediaan lagu loe di platform-platform ini lebih baik ketimbang loe menggratiskannya di internet dan tidak mendapatkan apa-apa kecuali ketenaran.

Dunia ini terus berubah dan loe harus dapat beradaptasi atau mati. Gue percaya loe pasti bisa berhasil di bisnis musik!

Komentar