“Gak bisa sewa studio recording? Whatever! Masih bisa pake tape recorder kan?!”
Jadi lo pengen menjadi seorang musisi folk yang handal. Lo gak butuh rekan band. Lo hanya perlu gitar akustik yang sudah menemani lo dari SD. Lo akan membuat demo dan lo akan kirim ke radio…Oh tunggu. Untuk merekam, lo butuh studio rekaman. Harga sewa studio rekaman Rp. 900.000/shift (6 jam). Lo gak punya duit, karena uang bulan ini sudah lo pake buat liburan kemaren. Bagaimana ini?! Apakah impian lo menjadi musisi folk handal sudah berakhir sampai di sini? Tapi kemudian lo melihat sebuah tape recorder usang milik bokaplo. Lo berpikir, “hmm…apa yang bisa lo lakukan dengan tape recorder ini?”.
Ngerekam pake tape recorder? Gak masalah!
Tentu saja lo bisa merekam lagu lo dengan tape recorder itu! Loh, kualitasnya gak bakalan ok dong? Memang, tapi lo bisa merasakan apa yang disebut sebagai lo-fi experience. Malahan, ada banyak banget musisi yang emang sengaja ngerekam lagunya dengan cara sesederhana mungkin supaya soundnya terdengar lo-fi. Kenapa gitu yah?
Lo-Fi sendiri adalah singkatan dari Low Fidelity yang kurang lebih berarti rekaman yang kualitasnya lebih rendah dari standart. Biarpun awalnya lo-fi ini adalah sekedar estetika dalam merekam musik, namun seiring berjalannya waktu, lo-fi menjadi sebuah genre musik tersendiri. Artis-artis lo-fi ini dengan sengaja menurunkan kualitas rekamannya atau justru merekam lagu mereka dengan peralatan yang sangat sederhana. Banyak artis lo-fi yang merekam lagu mereka hanya menggunakan tape recorder murahan. Tuh, mereka aja bisa ngerekam pake tape recorder. Moso lo kalah?
Bukan cuma artis kacangan
“Ah, tapi palingan artis yang ngerekam lagu pake teknik lo-fi cuma artis kacangan yang gak punya duid…” begitu pikir lo. Jangan salah! Artis seperti Buddy Holly dan Bob Dylan juga pernah ngerekam lagunya secara pas-pasan gini loh. Malahan rekaman Lo-Finya Bob Dylan ini bisa dibilang sebagai sebuah pencapaian spesial, karena pada saat itulah rekaman lo-fi mendapat perhatian mainstream. Padahal sebenernya, rekaman si Bob Dylan ini gak direncanain untuk dirilis secara komersil. Bob Dylan ngerekam lagu-lagunya pada saat itu cuma pake alat rekam kelas konsumen biasa dan pake 2 microphone aja. Waw! Musisi Lou Reed juga menggunakan teknik rekaman lo-fi untuk album ketiga bandnya, The Velvet Underground. The Velvet Underground kemudian tumbuh menjadi sebuah band yang sangat berpengaruh di pergerakan musik lo-fi ini.
Sekitar tahun 80an, lo-fi bertansformasi menjadi sebuah genre musik. Hal ini disebabkan karena teknologi perekam dengan menggunakan kaset sudah dijual secara umum dan bisa dibeli dimana-mana. Salah satu artis lo-fi awal yang terkenal adalah Daniel Johnston. Sekarang ini, lo-fi sudah mendapatkan tempat dan memiliki penggemarnya sendiri, akibat banyaknya musisi-musisi yang sukses merekam musiknya ala lo-fi. Sebut saja band/musisi semacam Beck, Blur, Modest House, Liz Phair, Beulah, The Shins, dan The Moldy Peaches.
Jadi kalo lain kali lo mulai berpikir bahwa mustahil bagi lo untuk merekam lagu karena lo gak punya duid, selalu ingatlah artis-artis yang sudah disebutkan di atas. Mau ngerekam pake studio beneran atau cuma pake tape recorder, whatever!!
*as seen on Provoke! ed 43: Whatever
Category: Arts, Common Ground, Feature
Tags: article, bob dylan, edisi 43, lo-fi, online, original, Provoke!, tape recorder, underground, velvet
Like This Articles?
Share it To Your Friends!




