candramarvel

Let’s talk about this.

 

Dua minggu dan semilyar dolar kemudian, Infinity War telah menjadi lebih dari sekedar film. Kehadirannya setara kayak Coldplay, Radiohead, Lady GaGa dan Ki Kusumo mendadak bikin konser di Senayan. Semua orang pengen nonton. Semua orang pengen menjadi saksi. Semua orang pengen menyaksikan bagaimana pahlawan-pahlawan super yang terkenal itu berbagi layar dan saling menerjang lawan dengan sinematik.

Infinity War mendapatkan widespread acclaim atas filmnya. Banyak kritikus yang bilang filmnya “klasik”, “the best thing ever”. Anak-anak gaul bilang filmnya, “Pecah banget.” Pecinta film bilang bahwa filmnya nggak ada duanya. Infinity War adalah sebuah film yang begitu masif, semua orang akhirnya tenggelam di dalamnya. Ending-nya yang kontroversial melahirkan begitu banyak tetesan air mata, keterkejutan yang tak terkira dan meme soal Thanos yang mengalir kayak lumpur Lapindo.

via GIPHY

WE. WANT. TO. TALK. ABOUT. THANOS. ALL. THE. TIME.

via GIPHY

Dan karena filmnya udah rilis selama dua minggu, gue merasa, sebagai bangsa dan pecinta film, kayaknya gue udah boleh untuk membahas Infinity War dengan lebih serius. Dengan lebih mendalam. Obviously, kalo lo belum nonton filmnya, gue sarankan untuk lo nonton filmnya dulu sebelum lo membaca artikel ini.

via GIPHY

Oke. Mari kita obrolkan ini.

Kenapa menurut gue, Infinity War bukanlah film terbaik dari Marvel.

Alasan pertama: film ini nggak punya identitas.

via GIPHY

Sebenarnya ini masalah dengan semua film Marvel. Semuanya diolah dengan sedemikian rupa sehingga kerasa familiar. Sehingga ketika lo nonton, lo langsung berada di rumah. Karena sangat nyaman. Sangat familiar. Lagian, resep sebelumnya berhasil jadi kenapa nggak dibikin sama semua? Ya nggak sih? Pembuat ayam geprek pasti nggak akan ngerubah sambel dia kalo sambel sebelumnya udah terbukti enak.

The thing is, meskipun kebanyakan film Marvel rasanya sama, beberapa film Marvel mencoba untuk keluar dari zona nyaman itu. Salah satu contoh yang paling jelas adalah serial Guardians of the Galaxy dan Black Panther.

via GIPHY

Semua film Marvel emang selalu diselipi dengan jokes-jokes receh yang tak terkira. Bahkan di adegan menegangkan atau dramatis, Marvel nggak bisa nggak untuk becanda. Tapi dalam kasus Guardians of the Galaxy, becandaan itu dipolin sampe ke level ngakak nggak kelar-kelar. Gimana mungkin lo nonton sebuah film superhero dimana di adegan klimaks si superhero-nya ngajakin dance-off? Keputusan Marvel buat hire James Gunn adalah keputusan paling oke. Dia bisa ngemas Guardians of the Galaxy menjadi fresh. Ini bukan pertama kalinya kita nontonin para anti-hero bersatu melawan penjahat. Tapi ini pertama kalinya kita nonton anti-hero versi Marvel bersatu dengan karakter-karakter yang unforgettable. Ada rakun yang demen ngomong kasar, ada pohon baik hati yang cuman tau tiga kata dan ada preman yang bego. Kurang apa lagi? Dan dengan nostalgia 70-an, Guardians of the Galaxy kerasa klasik ketimbang dengan film-film Marvel yang lain.

via GIPHY

Sementara itu, Black Panther hadir dengan kepercayaan diri level dewa. Ini adalah satu-satunya film Marvel yang ketika gue nonton, gue percaya tempat itu ada. Gue percaya bahwa Wakanda exist. Ini nggak gue rasakan ketika gue liat New York di film-film Iron Man atau bahkan Asgard versi Thor. Dalam Black Panther semuanya kerasa real. Gue kebayang rakyat-rakyatnya hidupnya gimana, sistem politiknya gimana, ceng-cengan antar gengnya gimana. Kenyataan bahwa Black Panther punya villain yang paling cool juga membantu film ini jadi fully realized. Dan musiknya… oh musiknya! Musik Black Panther paling bernyawa di antara film-film Marvel lain. Ketika lo nonton Black Panther, dalam sekejap lo lupa bahwa ini adalah salah satu film Marvel.

via GIPHY

Bahkan film kayak Thor: Ragnarok aja lebih punya kepribadian daripada Infinity War. Serial Thor yang berasa kayak buang-buang waktu karena nggak tau maunya apa mendadak menjadi seru gila ketika ganti sutradara. Thor: Ragnarok nggak hanya seru tapi juga kocak parah. Ini adalah hal yang paling mengejutkan karena Thor sangatlah kaku.

via GIPHY

It’s obvious, bahkan dibandingkan dengan tiga film yang gue sebut, Infinity War berasa kurang superior. Film ini terlalu banyak hal yang perlu disampaikan sehingga dia nggak punya waktu untuk tau dia mau jadi apa.

Alasan kedua: semua pahlawan dari film ini powerless.

via GIPHY

Aneh sekali bukan?

Ketika gue nonton Doctor Strange, yang ada di kepala gue adalah… apakah ini orang bisa kalah?

That guy literally bisa manipulasi ruang dan waktu.

via GIPHY

Lalu gimana Doctor Strange dan KAWAN-KAWAN bisa kalah sama seorang Thanos?

Bruce Banner yang kerjaannya marah-marah mulu kenapa mendadak jadi pacifist dan nggak bisa berubah jadi Hulk?

via GIPHY

Black Panther yang ketika gue nonton filmnya Februari lalu begitu sakti mandraguna kenapa jadi kayak kerupuk kena kuah soto?

Oh karena ini semua memang dibuat begitu. Rumus standar film blockbuster: buatlah karakter lo lemah sampai menuju klimaks. Sehingga pas mereka menang, kemenangannya terasa begitu menggelegar.

Gue sebenernya nggak begitu keberatan dengan rumus itu. Hampir semua franchise besar melakukannya. Yang gue paling sayangkan adalah kehadiran begitu banyak superhero ini berasa kayak tempelan karena mereka nggak ada waktu untuk ngobrol selain soal Thanos.

via GIPHY

Kalo lo ngeh, satu film isinya cuman:

Iron Man: Kita harus bunuh Thanos.

Thor: Thanos berbahaya. Bunuh yuk.

Captain America: Gue kesini mau bunuh Thanos.

Black Panther: Thanos sokap?

Black Widow: Ada deh orang jahat pokoknya.

Okoye: Yodah gue bantuin bunuh Thanos.

Doctor Strange: Gawat nih kalo Thanos dapet Infinity Stone. Dunia bisa kiamat.

Spider-Man: IKUT AH BUNUH THANOS.

Wanda: Aduh, tau gini mendingan kita ena-ena di kasur.

Vision: Tau nih emang Thanos bangkek.

Gue tau sih ada masalah durasi tapi hampir semua dialog Infinity War isinya cuman eksposisi dan penjelasan. Kalo nggak eksposisi mereka berantem. Dan itulah dia yang membuat kenapa Infinity War

Alasan ketiga: filmnya nggak ada emosi.

Nggak ada adegan yang substansial mengaduk-ngaduk emosi selain berantem. Ketika ngobrol mereka cuman ngobrolin soal “Thanos mau kesini, Thanos mau menang, Thanos, Thanos, blablabla.”

via GIPHY

Dibutuhkan momen tenang untuk lo bisa meresapi kehancuran atau ancaman yang sedang terjadi. Inget adegan ketika para Avenger ke rumah Hawkeye di Age of Ultron? Di sana lo dikasih momen tenang (meskipun itu kamuflase supaya lo sedih pas di adegan klimaks) supaya lo bisa menyerapi semua kerusuhan yang sedang terjadi. Di sana kita akhirnya melihat betapa sadisnya si Ultron. Kalo dia menang, momen tenang yang penuh intimasi ini nggak akan terjadi.

Infinity War terlalu sibuk untuk memperkenalkan Thanos dan misinya dan upaya Avenger untuk menghentikan dia sehingga dia nggak ada waktu untuk ngasih momen tenang.

via GIPHY

Semua orang bilang ending-nya mind-blowing karena lo menyaksikan lebih dari pahlawan super kesayangan lo mati (atau menghilang?). Gue nggak bilang gue nggak sedih. Ada kesedihan di dada gue saat menyaksikan itu. Tapi gimana gue bisa sedih kalo gue tau line-up film Marvel berikutnya. Gimana gue bisa sedih kalo gue tau akan ada Guardians of the Galaxy Vol 3 dan Avenger 4?

Ini kasusnya sama kayak Superman mati di Batman V. Superman: Dawn of Justice. Gimana gue bisa sedih kalo gue tau akan ada Justice League?

Plus, berapa kali Loki bangkit dari kematian?

via GIPHY

Alasan terakhir: filmnya nggak ada closure.

Man, I need some fucking closure.

Dalam percintaan atau pun film.

Kecuali gue udah dikasih tau kalo ini part one ya, kayak Hunger Games: Mockingjay atau Harry Potter and the Deatly Hallows. Di sana gue udah dikasih tau kalo filmnya bersambung.

Mestinya gue tau bahwa ending film ini kayak Doa Membawa Berkah episode 15 karena waktu itu Kevin Feige bilang bahwa film ini judulnya Infinity War part 1 dan 2. Tapi entah kenapa, mendadak ganti judul.

via GIPHY

Karena filmnya belum selesai, semua masalah gue dengan plot Infinity War jadi terjawab. Kenapa filmnya kerasa nanggung. Kenapa semua dialognya cuman eksposisi. Kenapa semua pahlawan super disini kerasa nggak ada tenaga.

Karena konklusinya belum ada.

via GIPHY

Dan setelah melihat ending-nya, gue mau nggak mau harus mengakui bahwa Marvel sangatlah jago.

Jago dalam memastikan bahwa kita semua akan nonton lanjutannya tahun depan. Ini kayak nonton Game of Thrones di mana lo harus nonton episode terakhirnya tahun depan. Setelah ber-episode-episode penuh intrik dan drama, nggak mungkin banget lo nggak nonton endingnya.

Apalagi setelah semuanya jadi abu.

via GIPHY

Jadi, tahun depan bisa dipastikan semua orang akan mengatakan hal yang sama:

“Wah, Avenger yang baru pecah banget. HACEP, CUY, HACEP.”

Dalam kasus ini, gue berharap tahun depan gue adalah salah satu orang yang ngucapin kalimat tersebut.

Komentar