pengalaman gue nonton film 212 the power of love

I watch this film so you don’t have to.

 

Oke.

Jumat tanggal 11 Mei gue nonton film 212: The Power of Love. Gue sebenernya nggak minat-minat amat nonton film ini. Tapi karena waktu hari pertama dan kedua tayang ke cek m-Tix dan tiketnya habis semua, gue jadi tersulut. Jiwa Taurus gue terbakar. I want something that I can’t get. Eh ternyata pas Jumat, gue cek masih ada yang kosong. Ya udah gue beli lah tiketnya. Walopun gue tau isi filmnya apaan dan gue nggak nonton trailer atau baca sinopsisnya sama sekali. Gue cuman penasaran.

poster 212

Jadi tentu saja, kalo lo pendukungnya 212 atau semacamnya, plis jangan baca. Mendingan kalian nonton filmnya aja. Karena ini akan full on spoiler dari awal film sampai end credits.

Ada banyak cara sebenarnya bahas film ini. Tapi karena suasana negara lagi kisruh dengan banyaknya bom (which is super annoying to say the least) dan kita lagi puasa, gue nggak akan bahas film 212: The Power of Love dari kacamata politik atau pun agama.

Gue akan nyeritain pengalaman gue nonton 212: The Power of Love pure dari kacamata film aja. Seperti layaknya film Marvel atau Disney atau Harry Potter. Gue nggak akan bahas soal agama atau politik meskipun itu sangat menarik buat dibahas.

Okay? Deal? Mari kita mulai.

Layar gelap.

via GIPHY

Kemudian muncul nama PH. Dan kemudian judul filmnya.

Yang mon maap nih, font-nya jelek banget. Kayak undangan pernikahan.

1

Gue nggak bohong kan?

Gue nggak tau apakah tulisan latin dengan kilau-kilau gemas itu memang merepresentasikan #AksiDamai dengan baik atau emang pembuat filmnya nggak punya stok font lain yang lebih asik diliat. Tapi ya udahlah ya. Ini mungkin emang selera gue doang.

Kemudian kita melihat sosok bermotor. Nama dia adalah Adhi (Adhin Abdul Hakim), seorang Muslimin asik yang bentukannya kayak fans-fansnya My Chemical Romance.

2

Adhi kemudian sampai di kantornya. Ternyata dia kerja di sebuah majalah bernama Republik. Dia masuk ke sebuah ruang fotokopi dan ngambil satu majalah kemudian dia marah-marah dan naik ke lantai atas. Di sana dia bertemu dengan Rachmad (Fauzi Baadilla), tokoh utama kita.

3

Disini si Adhi marah-marah sama Rachmad. Karenanya Rachmad nulis tulisan yang ngata-ngatain agama Islam dan pemeluknya di majalah mereka. Adhi marahnya personal banget sementara Rachmad cool as a cucumber. Gue nggak tau apakah ini karena Fauzi Baadilla keliatan lelah atau emang into his character, tapi yang jelas, gue bisa ngerasain kemalasan Rachmad terhadap Adhi.

4

Adhi niatnya baik ternyata. Di balik bentukannya yang kayaknya hapal semua lirik lagunya Lamb of God, dia tuh berharap bahwa Rachmad berhenti nulis tulisan yang memprovokasi supaya dia nggak kenapa-kenapa.

via GIPHY

Kemudian mereka pergi miting. Di miting itu si Adhi marah-marah dan minta untuk nge-cut artikel si Rachmad ke bosnya.

5

Yang membuat gue bertanya-tanya karena itu artikel udah dicetak kenapa si Adhi baru ngamuk sekarang? Bukannya setiap awal edisi selalu miting setiap orang akan nulis apaan ya? Kenapa si Adhi nggak marah-marah ketika si Rachmad bilang di miting awal edisi kalo dia mau ngata-ngatain Islam dan keanarkisannya?

via GIPHY

Oh mungkin emang setiap majalah beda sistem. Dan mungkin si Adhi emang nggak masuk pas miting itu. Yang jelas, miting itu berubah jadi ganas sampe-sampe si Rachmad bilang, “Pergi dari kantor ini sudah saya bayangkan sejak saya masuk kantor ini.”

via GIPHY

Di sini gue makin bingung karena, eh, cuy, kenapa lo udah mikirin resign ketika lo baru masuk kerja? Kalo lo emang nggak demen sama kantornya, kenapa lo nerima kerjaannya? Kan lo bisa tolak.

via GIPHY

Eh tapi ya udahlah. Mungkin penulis skripnya emang butuh dialog yang dramatis untuk menekankan bahwa si Rachmad udah muak sama kantornya. Keluarlah si Rachmad dari ruang miting dan diikuti sama Adhi dan satu mbak jurnalis yang bajunya sepertinya sengaja dibiarkan kebuka dengan makeup full kayak mau kondangan (Echie Yiexcel).

6

Di sini Adhi dan Rachmad debat lagi. Di sini gue tau fungsi Rachmad. Rachmad diposisikan sebagai penonton yang nggak into sama gerakan 212. Alias gue. Dia harus melawan sama ideologi orang-orang yang into 212 which is almost everyone in this film. Namun sayangnya yang nulis skripnya bukan Aaron Sorkin. Jadi tektokan debatnya bukannya menstimulasi otak yang ada malah menyugesti gue untuk berbuat dosa alias ngomong kasar di dalam bioskop, yang mana, on the record, agak susah dilakukan kalo seisi bioskopnya adalah orang-orang alim yang make baju Muslim. Kohcan kan takut.

7

Di sini Adhi nyeramahin si Rachmad. Katanya Rachmad berandalan, intelek nggak guna.

“Yang radikal tuh lo.”

8

Kemudian di sini si Adhi bilang bahwa, “Kalo gue tuh radikalis romantis.”

Dan di sini penonton ketawa ngakak heboh sementara gue noleh kanan kiri.

via GIPHY

Um, mungkin emang jokes-nya terlalu well crafted sampe gue nggak get.

Gue bahkan sampe sebodo amat bahwa ini film hampir dari awal sampe menit ke-sepuluh semuanya di-dubbing ulang. Mending ya dubbing-annya bagus. Beberapa agak kurang sync. IH, TAPI SIAPA YANG PEDULI YA KAN KALO DUBBING-ANNYA JELEK KALO ISI FILMNYA BEGITU SUCI DAN MURNI.

Moving on…

Si Rachmad dan Adhi interview semacam polisi. Di sini Rachmad nanya apakah polisi nggak takut bahwa acara 212 disalahgunakan buat kepentingan politik.

Di sini gue deg-degan. Kalo dia nyebut nama Ahok, I wanna scream.

Ternyata nggak. Si polisi cuman bilang “si penista agama”. Dan dia agak marah kenapa dituduh begitu.

Gue sih nggak masalah. Dokumenter aja mau se-real apapun masih ada fabrikasinya karena semuanya disusun lewat mata si pembuat film. Apalagi fiksi ya kan. Mau based on a true story ditato di jidatnya si Fauzi Baadilla, ini nggak akan menutup kemungkinan bahwa si pembuat film ini emang mau ngegambarin sejarah versi dia sendiri. Buat gue nggak masalah. The Social Network aja melakukan itu.

via GIPHY

Baru aja gue ngadem-ngademin diri supaya gue nggak bete (karena mungkin aja filmnya punya twist jedar, who knows?), eh tiba-tiba terjadi development baru.

Nyokapnya si Rachmad meninggal dunia. Dan Rachmad pun harus pulang ke Ciamis.

9

Si Adhi kemudian, entah kenapa, berargumen lagi sama si Rachmad. Katanya dia nggak profesional atau semacamnya. Kemudian Adhi bilang kayak, “Im your best bro.

Kemudian si Rachmad bilang, “Gue harus balik, nyokap gue meninggal.”

Si Adhi kemudian membalas dengan, “Eh, lo masih punya keluarga.”

via GIPHY

Gue merasa tertipu banget. Kayak beli ayam gepuk udah bilang sambelnya banyakin tapi yang dateng tetep aja secuil. Katanya best bro, kok detil soal si Rachmad sendirian atau punya keluarga lo aja nggak tau, Mz Adhi??? YANG BENER YANG MANA?

via GIPHY

Adhi tapi ternyata emang beneran bro. Karena dia nemenin si Rachmad ke Ciamis. Ikutan berduka dan berfungsi sebagai plot point karena kerjaan dia cuman nyuri denger sambil ngasih dialog penuh eksposisi kepada penonton seperti:

- “Oh dia anaknya kyai."

- “Oh bapaknya udah tua.”

- “Oh dia udah lama nggak pulang ke rumah.”

- “Oh ternyata dia langit dan bumi sama bapaknya.”

Sebenernya ini bukan hal yang baru dalam film. Tapi karena aktingnya si Mas Adhin Abdul Hakim selevel sama adik gue pas pentas tujuh belasan di kampung, semua yang terjadi di layar berasa kayak sinetron Indosiar. Tapi yaudahlah ya. Siapa gue mau menilai akting orang.

Apalagi setelah Adhi bikin ketawa satu penonton setelah bilang, “Neng Yesna, kirain bidadari cuman ada di surga. Eh di Ciamis ternyata juga ada.”

via GIPHY

Di sinilah film mulai nemu first act-nya. Ternyata si Rachmad nggak akur sama bapaknya, Kiai Zainal (Humaidi Abbas). Rachmad yang liberal dan open minded ini nggak mau bapaknya ikutan acara 212. Yang mana acaranya jalan kaki dari Ciamis ke Monas.

Rachmad: Bapak udah tua, kalo sakit gimana.

Kiai Zainal: Ini aksi damai. Bapak mau nunjukin solidaritas.

Gue: Oh wow. War biasa.

Akting si Kiai Zainal lumayan oke walopun treatment sutradaranya agak sinetron. By sinetron maksud gue pake acara tangan tremor mau minum obat trus obatnya berhamburan di lantai kemudian Rachmad bantuin sementara Adhi ada di belakang mereka merhatiin (JANGAN TANYA GUE KENAPA KARENA GUE NGGAK IKUTAN BIKIN!!!!). Sementara itu, makin lama film berjalan, gue curiga Fauzi Baadilla terinspirasi sama Nicolas Cage ketika dia lagi halu dan nambahin unsur anehnya. Jadinya kayak pemadat kehabisan barang. Agak-agak sakau gimana gitu liatnya.

via GIPHY

Nah, Rachmad punya love interest. Namanya Yesna (Meyda Safira). You know the type: nggak punya kepribadian lain selain baik hati, ramah, berperilaku baik, ngajarin anak-anak kecil ngaji, sopan dan berpakaian sopan.

Rachmad kadang ngeliatin Yesna ngajar ngaji dan ngeliatin dia dan murid-muridnya main kembang api setelah ngaji. You know, kayak sinetron tahun 95.

10

Ternyata si Rachmad nggak tega liat bapaknya ikutan 212 sendirian. Dia merasa harus nemenin.

Di sini gue jadi déjà vu. Apakah pembuat filmnya terinspirasi sama film Le Grand Voyage?

Ih tapi mana mungkin. Orang Islam yang baik kan nggak nyuri.

Ternyata kepentingan Rachmad dalam trip ini adalah selain mastiin bapaknya baik-baik aja adalah untuk ngasih tau orang-orang sekelilingnya bahwa dia western educated.

Exhibit A:

11

12

Akan lebih gampang kalo Rachmad pake sweater Harvard kemana-mana. Atau sweater Binus. Biar kalo ditanya orang, “Eh, lo anak Binus?”

Si Rachmad bisa jawab:

12

Atau pas kopi darat Tinder pas ditanya, “Kamu sekolah di mana?”, Rachmad bisa jawab:

12

Selain Rachmad yang suka nyebutin kalo dia lulusan “Harvard, Amerika, tau kan?” ke semua orang yang lewat di jalan, trip ini juga kesempatan bagi drone operator-nya untuk tunjuk keahlian. Karena hampir seperlima film ini isinya drone shot.

13

Lagi.

14

Lagi.

15

Lagi.

16

Dan lagi.

Di sela-sela itu adalah adegan si Rachmad dan bapaknya mara-mara.

17

Sementara si Adhi ngintilin di belakang. Entah kenapa.

18

Sementara itu, di Jakarta, bosnya si Rachmad (Roni Dozer) si pemimpin redaksi yang entah kenapa orang wardrobe-nya maksain dia pake jas di kantor, mungkin untuk nunjukin kalo dia bosnya karena yang nonton nggak paham kali kalo dia pake kemeja sama celana biasa kayak pemimpin redaksi in real life, bilang ke si jurnalis cewek yang ternyata non-muslim kalo dia harus ngeliput 212.

Jurnalis cewe: Gue takut, Bos.

Pemred: Kamu dilindungi negara.

via GIPHY

Jurnalis cewe: Tapi Rachmad gimana? Ini kan bagian dia.

Pemred: Ntar gue yang bilang.

via GIPHY

Dialog antara si bos dan si jurnalis cewe ini (Rara? Nara? Gue lupa namanya dia) membuat gue tersadar bahwa mungkin majalahnya si Rachmad nggak valid-valid amat. Karena wartawannya dikit dan kayaknya koordinasi kerjanya nggak jelas. Jadi nggak salah juga kalo si Rachmad bodo amat waktu si Adhi mara-mara lebay.

Kemudian si Rachmad dan lain-lain sampe Monas.

19

And it was so… glorious.

Bahkan ada Neno Warisman.

20

Neno Warisman siapa? Gue juga nggak tau.

Sementara itu si mbak jurnalis non-muslim ternyata sampe di 212.

Dia agak takut karena dikelilingi sama orang make baju putih.

(IN A WAY, KAYAK GUE DI BIOSKOP DIKELILINGI ORANG-ORANG YANG AGAINST SAMA TATO DAN GAYA HIDUP GUE YANG PENUH KEHEDONAN INI)

via GIPHY

Kemudian, seakan baca pikirannya, ada satu orang pake gamis putih ngeliatin dia.

21

Mas-Mas Random: Hey, Mbak!

Jurnalis Cewe: *takut, kabur*

Mas-Mas Random: *nemuin si mbak jurnalis non-muslim* Mbak, saya mau ngasih nasi kotak. Ini saya bagikan ke semua jurnalis. Selamat meliput, Mbak.

Jurnalis Cewe langsung trenyuh.

Saking trenyuhnya, dia ketemu sama Rachmad dan nyeramahin dia bahwa para umat 212 ini nggak sejahat yang Rachmad pikirkan.

22

Tapi ternyata si Mbak Jurnalis Non-Muslim itu salah.

Ternyata ada yang bete sama si Rachmad terhadap tulisannya. Yang membuat gue heran, kan itu majalah abal-abal, kok ada yang baca?

23

Ada segerombolan mas-mas mau nyerang si Rachmad.

24

Rachmad keukeuh dengan pendiriannya. Mungkin karena dia western educated kali ya?

Eh lupa, lulusan mana tadi?

12

Nah di sinilah si Yesna muncul.

Yesna yang nggak ada kontribusi terhadap plot sama sekali kecuali buat nunjukin kalo si Rachmad dan Adhi itu straight, tiba-tiba muncul dan menyelamatkan si Rachmad dari amukan masa.

25

Akrab banget lho dia sama massa sampe dipanggil, Bro.

26

Dan Yesna, secara tidak langsung nyalahin almamater Rachmad karena telah membuat Rachmad, yang meskipun jadi lulusan terbaik Harvard, nggak bisa nggak suudzon.

27

Baik banget kan Yesna?

Kemudian kita balik ke crowd 212. Yang katanya super damai dan nggak ada yang tereak darah orang kafir halal. Itu semua bohong. Jangan cari buktinya di Youtube. Udah percaya aja. Karena ada salah satu yang bilang kalo mereka semua cinta damai. Nginjak rumput aja nggak lho.

Serius.

Kemudian gambar-gambar beralih ke crowd lain. Yang ternyata berubah menjadi kuis “Tebak Siapa Nama Artis Ini”.

Kayak ini.

28

Atau ini.

29

Atau INI!

30

Di sini juga ada pasangan non-muslim jalan di tengah massa 212 dengan antengnya sementara massa 212 mengelilingi mereka dengan santai. Meskipun mereka non-muslim mereka merasa aman ketika ditanya sama si wartawan non-muslim.

“Kan ini aksi damai,” kata si pengantin wanita.

31

Makeup-nya sih on point banget ya. Gue like.

Ini belum termasuk tiba-tiba Oki Setiana Dewi muncul baca puisi ya.

Kenapa dia baca puisi?

PLIS JANGAN TANYA GUE. GUE NGGAK TAU.

via GIPHY

Nah kemudian balik ke Rachmad dan babenya.

Rachmad dan babenya berantem.

Mereka adu argumen.

Dan seperti yang gue mention di atas, karena argumennya ga ada yang convincing, jadinya kayak ngeliat dua pohon pisang berdiri aja. Tapi entah kenapa, argumen si Kiai Zainal merasuk ke diri Rachmad karena next thing I know, dia ngambil wudhu dan sholat bareng bapaknya. Mungkin ada hubungannya dengan Rachmad yang kecelakaan dan bikin mati dua sodaranya.

via GIPHY

Dan ini sholatnya luar biasa sinematik karena di tengah lapangan luas, ujan pula dan slow-motion.

Gue sih jadi si Rachmad, gue pinggirin bokap gue. Kan sakit-sakitan. Kasian kalo kena air hujan.

Eh baru gue ngebatin, kebeneran si Kiai Zainal pingsan. Di sinilah si Rachmad jadi galau.

Sampai akhirnya dia di ending kembali berbakti sama bapaknya dan stay di Ciamis.

Sebenernya agak membingungkan sih kenapa si Rachmad tiba-tiba berubah haluan 180 derajat. Kalo di Le Grand Voyage kan jelas. Si anak akhirnya bisa ngerti ideologi bapaknya tanpa harus ikut-ikutan kek bapaknya.

But then again, Le Grand Voyage punya skrip sama penyutradaraan yang asik. Jadi…

via GIPHY

Filmnya ditutup dengan si Rachmad dan Yesna DAN ADHI (KENAPA SIH DIA SELALU ADA?) jalan di jembatan.

32

Dan mereka kayaknya ngomongin soal cinta. Dan masa depan asmara mereka.

Gimana gue bisa tau?

Karena ada hiasan love di jembatannya.

33

LIKE… WHY???

via GIPHY

Tapi ya udahlah ya. Filmnya selesai gue mau apa.

In conclusion, filmnya nggak sejelek yang gue kira (I’ve seen worse) tapi ya bukan filmnya oke juga.

Filmnya membingungkan adalah jawaban yang tepat. Karena gue ga tau apa yang mau disampein sama film ini selain fakta bahwa

12

DAH AH…

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA MAN-TEMAN…

via GIPHY

 

Komentar