header queer eye 1 01

We all need this show.

 

Queer Eye adalah sebuah reality show yang ada di Netflix. Season keempatnya sudah rilis di Netflix tanggal 19 Juli lalu. Mungkin lo sempet ngeh soal Netflix di homepage-nya Netflix. Atau ketika lo buka Twitter atau Instagram dan temen lo yang “open minded” bilang dia abis nangis nonton Queer Eye. Tapi banyak orang sini yang sebenernya nggak tau atau mungkin nggak peduli Queer Eye apaan. Bahkan akun resmi Netflix Indonesia pun nggak memberikan tanda-tanda bahwa ada Queer Eye di Netflix.

Kalo lo ngecek Instagramnya, yang mereka promote biasanya program-program yang mainstream. Seperti Stranger Things, Black Mirror, Beyonce, The Umbrella Academy, apapun yang berhubungan sama Noah Centineo, apapun yang berhubungan sama serial Marvel mereka, bocah-bocah tampan dan cantik dalam Riverdale, Sabrina dan sihir-sihirannya atau bahkan Murder Mystery-nya Adam Sandler yang boring banget itu. Lo nggak akan nemu pembahasan atau mention soal Queer Eye di sosial media Netflix Indonesia.

Karena apa?

Karena Queer Eye is so gayyyyy

“Can, itu udah ada di judulnya kali.”

geng 1

And yes. Kalo lo pinter bahasa inggris, lo akan tahu bahwa Queer Eye isinya akan berbau tentang homo-homoan. Sesuatu yang *sangat* haram hukumnya untuk dipromosiin di Indonesia. Apalagi kalo promosiinnya bahwa *plot twist* para homo-homo ini niatnya adalah untuk membuat hidup orang-orang yang mereka temui menjadi lebih baik. HAROM BANGET! Karena homoseksual kan menular. Orang-orang yang biasanya suka suit-suitin cewek di perempatan dengan nafas berat, “Neng, mau kemana kok pake hotpants? Nggak mau pergi sama Abang nih?” bisa langsung pengen megang titit orang lain begitu gaul atau lama-lama deket-deket sama para gay.

Mungkin untuk itulah Netflix Indonesia nggak mempromosikan Queer Eye sama sekali. I don’t blame them untuk menghindari kalimat-kalimat malesin dari netizen yang lagu favoritnya I Love You 3000 yang bilang “Ini pasti adminnya homo nih ahahahaha” atau “adminnya doyan kontol gaes” dengan nggak mention Queer Eye sama sekali. Even though I expect them to have some balls.

Dan karena gue suka ngeladenin orang-orang bego tersebut, maka gue merasa bahwa sudah menjadi tugas gue-lah untuk memperkenalkan (atau mungkin mengingatkan lagi kepada kalian yang terlalu sibuk sehingga lupa kalo season 4 sudah rilis) kalian kepada Queer Eye.

Jadi apa itu Queer Eye?

Queer Eye adalah sebuah reality show di mana lima orang cowok gay datang untuk memberikan make-over kepada para heroes/kontestan setiap episodenya agar mereka hidup lebih baik. Personil Queer Eye disebut Fab Five dan mereka adalah:

1 karamo

Karamo, seorang African-American yang ahli soal budaya. Tugas dia lebih kayak shrink. Dia yang bakalan ngasih tau lo kalo lo mikir kebanyakan atau bagaimana cara menghadapi mimpi buruk lo.

2 bobby berk

Bobby Berk adalah seorang interior designer yang bakalan ngasih lo make-over yang bakalan bikin rumah lo lebih viral dari kosan gue.

3 jonathan

Jonathan Van Ness, yang bentukannya kayak Yesus ini, adalah seorang ahli grooming. Dia yang bakalan ngasih tau lo kalo ternyata selama ini lo salah pake sabun muka yang menyebabkan muka lo kering banget. Dia bakalan yang ngasih tau lo pertama kali siapa Galih Ginanjar dan apa hubungannya sama ikan asin.

4 antoni

Antoni Porowski adalah seorang chef. Tapi kebanyakan dia bakalan bukain kulkas lo dan judging lo kalo ternyata isinya cuman Coca Cola dan sayuran yang harusnya lo buang minggu lalu. Dia juga hobi banget nyium bau sesuatu yang dia tau baunya nggak enak.

5 tan

Dan yang kelima adalah Tan France, blasteran Inggris-Pakistan yang bekerja sebagai spesialis fashion di geng ini. Dia yang bakalan ngasih tau lo cocoknya pake apa dan dia bakalan maksa banget untuk bilang bahwa french tuck is good for you.

geng 2

Kelima cowok homo inilah yang bakalan dateng ke rumah satu kontestan kemudian dalam beberapa hari hidupnya akan diubah. Dari fashion, grooming, pola makan, feng shui rumahnya sampe hal-hal yang nggak sadar adalah alasan kenapa dia… misalnya… nggak ngelarin kuliah.

To be honest, gue lumayan skeptis ketika Queer Eye muncul. Bukan karena isinya adalah lima cowok homo yang suka teriak-teriak dan keliatan ngondeeeeeeyyykkkkk bingits. No. Gue lebih ke skeptis karena mau gimana pun juga Queer Eye adalah sebuah produk reality show. Yang scripted. Film dokumenter aja mau se-real-real-nya tetep dipersembahkan melalui kacamata si pembuatnya. Apalagi reality show. Pasti ada formulanya. Pasti nggak honest.

Tapi ternyata itu tidak terjadi. Yang terjadi adalah gue mengambil tisu di hampir setiap episode karena gue menangis deras, Saudara-Saudara.

Episode 1 season pertama misalnya. Dengan judul You Can’t Fix Ugly, kita nggak hanya ketemu dengan Fab 5 untuk pertama kalinya tapi kita juga ketemu dengan kontestan pertama. Namanya Tom, seorang duda berumur 57 tahun yang hidup sendirian. Rumahnya berantakan, dia nggak punya pacar dan sepertinya dia masih baper sama mantan istrinya. Datanglah Fab 5 yang akhirnya mengubah hidupnya. And yes, ngedekor rumah yang berantakan jadi bagus emang kayak Bedah Rumah, cuman di sini lo akan ngeliat bagaimana cara memperbaiki diri dari luar dan juga dari dalam.

episode 1

Di sini Tom tersadar bahwa dia butuh kepercayaan diri. Dia ngaku terus-terusan bahwa “gue jelek, gue jelek, makanya nggak ada yang mau sama gue” dan lima orang asing ini datang kemudian meyakinkan dia “nggak nggak, lo nggak jelek”. In a way, gue bisa relate itu. Ada hari-hari di mana gue ngerasa bapuk banget dan I wish gue punya Fab Five yang bisa datengin gue, meluk gue dan bilang, “No, you’re not ugly. Lo harus mandi tiap hari. Bukan buat orang lain. Buat diri lo, Can."

Kemudian ada episode 4 dengan judul To Gay Or Not Too Gay. Seorang engineerumur 32 tahun yang sukses baik secara profesional maupun personal ternyata punya rahasia terpendam. Dia gay dan dia belum ngaku sama nyokapnya dan dia nyesel dia belum sempet coming out ke bapaknya yang sudah meninggal. Di sinilah Fab 5 datang dan mengubah itu semua.

episode 4

Fab 5 nggak hanya mengajarkan AJ untuk lebih comfortable dengan dirinya sendiri tapi juga bagaimana caranya agar dia bisa lebih open terhadap orang karena orang-orang di sekelilingnya begitu menyayangi dia. Ending episode ini bikin gue nangis kayak Aisyah setelah dia mau diperkosa sama orang-orang jahat di Ayat-Ayat Cinta 2.

Gue mengira bahwa magic Queer Eye hanya bertahan di season pertamanya. Tapi ternyata enggak. Season kedua dibuka dengan episode berjudul God Bless Gay yang bikin gue nangis nggak berenti. Episode ini bercerita tentang Mama Tammye yang rajin ibadah ke gereja dan dia nggak pede secara looks karena dia kemarin gundul setelah abis didiagnosa kanker. Nggak hanya itu dia juga punya anak yang gay yang udah lama nggak ibadah lagi karena dia males ngadepin orang-orang relijius yang suka ngatain dia.

episode 1 season 2

Di sinilah penonton yang nggak pernah ngerasain struggle-nya jadi homosekual dikasih liat betapa pahit hidup menjadi gay. Sementara anaknya harus hadapin berbagai macam bully-an, nyokapnya juga jadi trenyuh karena anaknya harus menghadapi berbagai macam siksaan batin tersebut. Hal ini semakin ditambah dengan personal experience Bobby yang juga ngerasain hal yang sama seperti yang dirasain sama anaknya Mama Tammye. Bedanya, apa yang dilakukan Bobby sangat ekstrim: dia memutuskan untuk kabur dari rumah. Ketika lo ngerasa nggak diterima di rumah lo sendiri, opsi apa lagi yang lo punya?

Gue nggak pernah nangis seheboh itu sampe akhirnya episode lima season dua. Episode lima dengan judul Sky’s The Limit membuat gue melihat perspektif tentang struggle-nya menjadi seorang transexual dengan lebih clear. Di sini gue ngeliat seorang laki-laki yang terjebak di tubuh wanita memutuskan untuk menjadi laki-laki sesungguhnya dan Fab Five membantu si laki-laki ini untuk bagaimana menjadi gentleman. It’s so wonderful.

episode 5 season 2

Magic itu ternyata masih berlangsung sampe season ketiga ketika gue menangis tanpa hentinya (ya, sebenernya judul alternatif tulisan ini adalah Candra Cengeng Liat Queer Eye) di episode lima yang berjudul Black Girl Magic. Di sana gue ngeliat seorang perempuan bernama Jess, cewek berumur 23 tahun yang bekerja sebagai waitress dan berusaha keras untuk hidup karena dia diusir dari rumahnya pas umur 16 tahun ketika dia ketahuan kalo dia ternyata lesbian.

episode 5 season 3

Queer Eye menjadi sangat emosional ketika Fab Five punya keterikatan emosi dengan kontestan yang mereka temui. Dan episode ini memberikan itu. Apalagi kalau menyangkut Bobby Berk karena dia menurut gue adalah salah satu anggota Fab Five yang paling saklek, paling batu dan paling menyimpan luka di dalam hatinya. Ada abandonment issues yang sepertinya belum terselesaikan sampai sekarang. Dan ngeliat dia connecting sama Jess adalah sesuatu yang membuat hati gue melting. Gue nggak bohong ketika mata gue berkaca-kaca nulis dua paragraf ini. Gue langsung teringat experience gue ketika nonton episode ini.

Dan dari contoh-contoh yang gue kasih liat di atas menunjukkan bahwa a. gue orangnya cengeng dan b. Queer Eye bukan sekedar acara yang isinya cuman make-over yang host-nya adalah lima homoseksual yang ganteng-ganteng. Bukan.

Queer Eye menurut gue adalah sebuah terapi yang kita semua butuhkan. Teman yang kita semua layak dapatkan. Hiburan yang kita idam-idamkan. Kapan lagi lo bisa dapetin lima teman yang begitu jago dalam bidangnya masing-masing datang ke tempat dimana pun lo berada nonton Queer Eye dan meyakinkan lo bahwa everything is going to be alright? Dengan begitu banyaknya hal-hal negatif yang ada di sekitar kita, diyakinkan bahwa everything is going to be alright adalah terapi yang sungguh-sungguh gue butuhkan.

Queer Eye nggak hanya membuka mata gue untuk jadi orang yang less judgemental. Untuk jadi lebih open minded. Yang beneran open minded bukan cuman jadi bahan konten Twitter dan memulai thread dengan “gue punya temen gay tapi gue”. Gue nggak akan tahu gimana perspektif orang yang, kayak di acara ini, milih Trump dan bagaimana dia ngeliat dunia. Atau orang-orang yang ngerasa dirinya nggak butuh cinta. Atau orang-orang yang terlalu fokus untuk memberikan cintanya kepada orang lain sehingga lupa untuk memberikan cintanya pada diri sendiri.

Dan yang terakhir, yang paling krusial dan harusnya menjadi alasan utama kenapa lo harus nonton Queer Eye sekarang adalah acara ini mengajarkan gue untuk lebih punya empati terhadap orang lain. Gue akuin, ngatain orang yang nggak lo kenal di sosial media can be very very fun. Tapi sebenernya hal tersebut sangat toxic karena sebenernya… deep down inside, lo projecting all the bad feelings that you already feel to other people. Queer Eye mengajarkan gue untuk menjadi lebih sabar dan mencoba untuk mengerti perspektif orang lain*. Dan kalo ada sebuah tontonan yang bisa ngubah Taurus batu ini menjadi refleksi sama diri sendiri, lo tau bahwa acara tersebut harus wajib ditonton.

*kecuali kalo lo ngatain Parasite1 jelek, gue pasti bakalan ngata-ngatain lo di Twitter

1Atau film-film lain yang gue suka

poster

Queer Eye bisa disaksikan di Netflix

Komentar