header candra

It’s wilder than I thought.

 

Gue bingung mau memulai dari mana.

Karena sejujurnya, ada banyak hal yang bisa diomongin kalo kita mau bener-bener ngebahas soal Livi Zheng. Karena nama doski udah kayak Quentin Tarantino. Atau bahkan mungkin Sofia Coppola (meskipun gue ragu Livi Zheng nonton film-filmnya Sofia Coppola, tbh). Livi Zheng se-iconic itu. Lo nggak bisa google nama Livi Zheng tanpa ada sugesti “Oscar” di belakangnya.

livi zheng google

Dan kalo lo buka IMDB page doi, lo akan melihat bahwa doi punya 10 completed projects sebagai sutradara. Dan ini wow banget. Joko Anwar aja filmnya baru delapan, termasuk Perempuan Tanah Jahanam, dan doi udah berkeliaran di industri perfilman sejak 2002. Belum ada film Livi Zheng yang gue tonton kecuali film yang akan gue bahas di tulisan ini. Tapi, Man, tetep aja itu impresif. Belum lagi kalo lo baca soal pemberitaan-pemberitaan soal Bali: Beats of Paradise yang ada di media. Ngeri. Dan ini promosinya udah muncul sejak akhir tahun lalu.

Seperti namanya yang melekat dengan Oscar, Bali: Beats of Paradise juga udah digadang-gadang bakalan jadi dokumenter yang mengharumkan nama Indonesia di kancah perfilman internasional. Dan media-media Indonesia yang emang demen banget berita-berita yang ada kata “harum” dan “internasional”, langsung gegap gempita menyebarkan berita ini dengan semangat nasionalis yang berapi-api.

woro woro 1

woro woro 2

woro woro 3

woro woro 4

woro woro 5

Headline-nya sih tergantung media mana yang beritain walopun benang merahnya sama: saking luar biasa  bagusnya ini film, film ini “sepertinya bisa” masuk Oscar. Dan tentu saja semua berita itu ya sebenernya… sumbernya ya dari si PH-nya sendiri.

woro woro 6

Which menurut gue make sense-make sense aja. Namanya juga jualan film ya kan. Mau jualan prestasi kayak Bali: Beats of Paradise atau 27 Steps of May atau pake nama bintangnya kayak Once Upon A Time In Hollywood atau pembuat filmnya kayak Tenet-nya Christopher Nolan ya nggak masalah. Fair game. Walaupun kalo dalam kasus 27 Steps of May, filmnya beneran masuk nominasi awards-awards yang emang dia mention ya. Bukan karena “gue daftar buat award ini tapi ya gak tau keterima apa nggak, kita doa aja dulu”.

Jadi sebenernya gue nggak ada niatan buat nonton apalagi mengulas film ini. Karena apa? Ya karena gue nggak ada ketertarikan sama sekali. Tapi karena GeoTimes dengan jeniusnya menulis empat artikel yang menggemparkan dunia persilatan (lo bisa baca dari sini, sini, sini dan sini), jiwa kepo gue langsung terbakar. Apalagi Livi Zheng kemudian merilis press release dan bilang bahwa itu semua hoax dan ketika ditanya dia justru memilih tidak menjawab seperti yang dia lakukan ketika diwawancara sama IDN Times, kekepoan gue makin maksimal.

Dan nafsu gue untuk menonton filmnya semakin tinggi ketika gue mengetahui bahwa dokumenter yang durasinya nggak ada sejam ini dapet critical acclaimed dari media-media luar negeri. Seperti:

pujian 1

pujian 2

pujian 3

Siapa Yorma Madus, Candy Washington dan Nicole Mucci mungkin emang cuman Livi Zheng dan timnya aja yang tau. Tapi pujian tetap pujian. Emang bukan David Ehrlich yang muji tapi a praise is a praise. Apalagi Los Angeles Times muji filmnya dengan:

pujian 4

Yang membuat gue langsung buka site-nya untuk baca review lengkapnya yang berikut ini:

pujian la times

Dan di situ ada deskripsi “feels manufactured” yang menurut gue merupakan frase haram kalo kita ngomongin film dokumenter, tapi ya mungkin orang LA Times emang bener-bener terhibur sama filmnya meskipun dokumenter yang harusnya real ternyata rasanya kayak pabrikan. But it’s okay. That review alone, membuat gue untuk, “Mari kita ke Lotte Fatmawati dan menonton.”

4

And off we go.

1

2

3

Bali: Beats of Paradise dibuka dengan orang-orang bule main gamelan diantara sisipan shot-shot pemandangan Bali. Dan bagaimana orang-orang Amerika ini sangat takjub saat denger musik gamelan untuk pertama kalinya. Mereka semua kayak, “What is this music?”

Sama ketika pertama kali gue dengerin Kanye West untuk pertama kalinya pas lagi kenceng.

Di trailer versi Indonesia (ada dua versi trailer Bali: Beats of Paradise di Youtube channel Sun and Moons film, stills adegan yang ada di artikel ini diambil dari sana), Livi Zheng berdiri sama Pak Jusuf Kalla dan beliau mengajak warga untuk menonton film ini karena film ini akan “memberikan kebanggaan tersendiri”. And I get it. Ngeliat warga Twitter yang nasionalismenya langsung berkibar-kibar saat Niki nyanyi Indonesia Raya di konser Head In The Clouds di Los Angeles, gue paham kenapa ngeliatin random bule belajar gamelan Bali untuk pertama kalinya bisa bikin penonton Indonesia bangga. Gue sih biasa aja. Mungkin karena gue nggak kenal sama si bule yang belajar gamelan tersebut. Coba kalo yang belajar gamelan Bali tersebut adalah… katakanlah… Tiffany Haddish. Mungkin gue akan sedikit impressed.

5

6

7

8

Kemudian setelah prolog itu kita bertemu dengan Nyoman Wenten dan istrinya, Nanik Wenten. Mereka adalah seniman gamelan Bali yang sudah bertahun-tahun tinggal di Amerika. Mereka di Amerika nggak hanya memperkenalkan tentang gamelan Bali tapi juga ngajarin orang-orang bule ini. Di sini gue mulai berharap bahwa Livi Zheng akan membahas gamelan Bali lebih mendetail via Nyoman Wenten.

Karena itu kan sebenernya yang pengen lo dapetin ketika nonton dokumenter. Knowledge. Sesuatu yang nggak lo dapetin di filmnya Anggy Umbara atau film fiksi lainnya. Lo belajar sesuatu yang baru. Gue pengen tau tentang sejarah gamelan Bali, gue pengen tau signifikansinya, gue pengen tau transformasi musik ini di Bali dari sejak pertama kali muncul sampe sekarang. Tapi ternyata nggak ada.

9

10

11

12

Karena yang terjadi berikutnya adalah seorang Grammy winner musician bernama Judith Hill muncul dan pengen berkolaborasi dengan Nyoman Wenten. Ya karena gue dengerinnya Miley Cyrus dan Billie Eillish jadi make sense kalo nggak kenal sama si Judith Hill. Dan gue mikirnya ya si Judith Hill ini mungkin big deal di genre musiknya dia. Karena dia se-random itu menurut gue.

Gue mencoba nggak mempertanyakan keanehan kenapa tiba-tiba si Judith Hill pengen kolaborasi dengan Nyoman Wenten. Kenapa dia tiba-tiba pengen ada musik gamelan Bali di musiknya. Tapi yang jelas, next thing I know, Nyoman Wenten ngomong ke kamera kalau dia pengen bikin video klip dan semoga… sutradara kelas Hollywood macam Livi Zheng mau membantu untuk membuatnya.

15

Dan saat itulah tiba-tiba film berubah.

Tiba-tiba muncul footage Livi Zheng jadi sutradara, Livi Zheng jadi filmmaker, Livi Zheng jadi artist dengan editing super cepat. Kayak pow, pow, pow, pow. Dia berdiri di samping kamera mengarahkan kru. Dia jumpalitan di depan kamera sebagai aktor. Dia ada di Amerika. Dan kemudian Livi Zheng muncul di depan kamera sebagai narasumber dan berbicara bahwa bikin video klip ini akan menjadi tantangan untuk dia karena ini pertama kalinya dia bikin bentuk audio visual yang kayak begini. Karena dia biasanya bikin film naratif yang ada ceritanya.

16

To be honest, sutradara dokumenter masuk ke dalam filmnya bukan barang baru. Hampir film-filmnya Michael Moore ada dia nongol di filmnya. Dan justru kehadiran dia dan bagaimana cara dia berfikir dan cara dia nyampein informasi yang bikin filmnya menjadi enak ditonton. Yang nggak bisa lo dapetin di tempat lain. Ada begitu banyak dokumenter soal tragedi 9/11 tapi cuman Fahrenheit 9/11 yang akan bisa membuat lo ketakutan soal teori yang dipaparkan Michael Moore sepanjang film.

Dan kehadiran Livi Zheng di film ini sejujurnya membuat gue bertanya-tanya. Nggak hanya karena dia dandan cantik banget pake riasan Fenty Beauty (mungkin yaa… gue menerka-nerka kan dia lagi di Amerika ceritanya), tapi karena di sebuah film yang durasinya cuman 56 menit, Livi Zheng dengan cerdasnya memasukkan 1 menitan footage dia lagi kerja di proyek lain. Di pikiran gue sih, “Ini kenapa waktunya nggak dipake buat bahas yang lain ya? Kayak struggle-Nyoman Wenten jadi imigran atau apa gitu…”

Ini ketika gue masih berpikir bahwa dokumenter ini tentang gamelan Bali ya.

17

Tapi ternyata emang bukan.

HAHAHAHAHA…

Sori gue nggak bisa nggak ketawa.

Ternyata Bali: Beats of Paradise adalah sebuah behind the scene Livi Zheng yang bikin video klipnya Nyoman Wenten sama Judith Hill. Judul lagunya Queen of the Hill. Dan lo harus tau berapa kali gue ngakak di bioskop karena Livi Zheng at some point nggak hanya membandingkan video klip ini dengan Snoop Dogg (KENAPA HARUS DIA?) tapi dia juga menjelaskan kesulitan dia bikin video klip ini dan yang dia jelaskan adalah hal-hal yang emang harusnya dia siapin dari awal.

Dia bilang bahwa susahnya bikin video klip yang syutingnya di gurun ini adalah dia harus bikin musiknya (like duh), bikin koreografinya dan harus syuting secara efisien karena mereka cuman punya sehari. Dan gue nggak bisa ngakak karena… YA ITU EMANG KERJAANNYA, KAK.

Kemudian pas syuting dia juga cerita bahwa ketika talent-nya ganti kostum, makeup-nya juga harus ganti. Dan dia ketar-ketir karena jadwalnya mepet. Lol. Dapat salam dari anak-anak agency yang photo shoot fashion cuman dapat waktu 12 jam sementara harus dapet 15 look.

18

Yang juga bikin gue ngakak ketika liat dokumentasi Livi Zheng syuting video klip adalah kenyataan bahwa syutingannya bernuansa amatiran. Gue paham bahwa mungkin syuting video klip ini pake kru kecil. Tapi doski kan dari awal, ketika dia muncul nih di film, Livi Zheng pamer bahwa dia udah lama berkecumping di dunia perfilman dan bisa menaklukkan Hollywood. Jadi ya gue expect produksi kelas Hollywood dong. Yang proper. Yang craft service-nya bisa bikin chef-nya Bistecca pulang kampung. Tapi yang terjadi adalah… nggak hanya gue nggak liat Livi Zheng duduk di monitor sambil ngarahin kayak sutradara kelas Hollywood (misalnya kayak Tom Ford yang walopun jadi sutradara di lokasi dia pake kemeja dan jas yang proper), tapi doski juga jadi clapper di syutingan.

BIG LOL.

Tapi yaudahlah ya. Mungkin Livi Zheng emang lagi humble. Bahwa meskipun dia udah go international tapi dia masih bisa syuting santai tanpa perlu kru banyak-banyak. Bahkan clapper aja juga dia yang ngerjain. Walopun agak bikin gue mikir, nggak pake clap kan bisa toh nggak ada dialog yang perlu di-sync-in. Tapi mungkin sekali lagi… mungkinnnn… Livi Zheng emang baik supaya nggak bikin editornya pusing.

Gue masih belum berhenti ketawa dan Livi Zheng kembali menghibur gue dengan adegan Nyoman Wenten yang sedih karena view video klipnya cuman 4 biji. Kemudian orang-orang mulai nyebarin info dan tiba-tiba video klipnya viral dan akhirnya cita-cita Nyoman Wenten bahwa video klipnya ditonton sejuta orang terkabul (like kenapa cuman sejuta view? Kenapa nggak 10 juta view? Sejuta view Ria Ricis bisa dapetin dalam dua jam mungkin). Dan Nyoman Wenten pun happy. Gue nggak menuduh bahwa adegan video klipnya viral itu bikinan ya cuman… gue ngerasa-nya kayak kata LA Times. Agak manufactured. Jadi ketika Nyoman Wenten bernafas lega karena kerja kerasnya diapresiasi masyarakat, guenya nggak ikutan happy. Karena gue nggak ngerasa hasil tersebut real. Yang ada gue ngeliat jam dan mikir kapan film ini kelar.

Di akhir film, setelah end credits Livi Zheng menunjukkan hasil video klipnya yang dapat sejuta penonton di Youtube itu. Dan mengingat film ini ternyata cuman behind the scene pembuatan video klip itu, video klip ini adalah klimaksnya dong. Jadi tidak seperti penonton satunya yang memutuskan untuk cabut begitu tulisan “directed by Livi Zheng” muncul di layar, gue memilih untuk stay.

Setelah nonton video klipnya, gue akhirnya sedih. Livi Zheng berhasil membuat gue terharu. Tapi gue sedih bukan karena perjuangan Nyoman Wenten yang sangat keras tapi karena video klipnya nggak bikin gue terpesona sama sekali. Ada banyak video klip yang lebih gue melongo yang nggak harus syuting di gurun di Amerika. Gue bahkan nggak bahas video klip artis luar negeri ya.

Contoh nih ya: Agnes Monica aja untuk opening sinetron Ku Tlah Jatuh Cinta nyeburin mobil ke dalam kolam renang lho. Ngerti nggak maksud gue? Wow factor opening sinetron Indosiar ternyata lebih tinggi dari video klip sutradara kelas Oscar. Dan kalo mau ngomongin musik yang ada influence eastern dan western, intro Ku Tlah Jatuh Cinta-nya Agnes Monica lebih dari cukup untuk memenuhi persyaratan itu. Dan gue lebih rela bayar 50 ribu buat bayar behind the scene pembuatan video klipnya Agnes Monica.

Atau kalo mau ngomongin soal syuting di gurun, gue justru lebih pengen tau pembuatan klip Agnes Monica yang Godai Aku Lagi. Gue pengen tau bagaimana caranya Agnes Monica joget di gurun bersama para dancernya DAN dia masih harus berantem sama Richard Kevin. Dan Agnes Monica nggak hanya ngasih gue dia adegan fight, tapi juga para dancer yang didandanin macam drag dan dia berjoget di sebuah kamar di psychiatric hospital. Dibandingkan dengan video klipnya Judith Hill yang cuman selow bae berdiri di gurun sama pemain gamelan, Agnes Monica JAUH lebih kerja keras. Dan ini gue ngomongin Agnes Monica 10 tahun yang lalu. I’m like, thank you Dimas Djay.

Gue sempet mikir bahwa mungkin dokumenter bukanlah kekuatan utama Livi Zheng. Mungkin dia lebih jago bikin naratif. Mungkin kalo dia bikin film fiksi, dia akan lebih mengejutkan gue. Tapi gue nggak yakin. Karena dalam Bali: Beats of Paradise, Livi Zheng bikin pengadeganan sendiri setiap kali Nyoman Wenten bercerita tentang masa lalunya. Dan hasil visualisasi interview Nyoman Wenten tersebut sama sekali nggak menarik. Dan nggak ada sinematik-sinematiknya sama sekali.

Cara ini, me-visualisasikan cerita narasumber, bukan cara yang curang dalam dokumenter. Karena banyak film dokumenter melakukannya. Salah satu dokumenter favorit gue, The Imposter, melakukannya dengan sangat baik sampe gue mojok saking takutnya pas nonton. Sutradara The Imposter berhasil ngegambarin cerita narasumbernya dengan baik dan feelnya kek nonton film thriller yang sinematik abis. Livi Zheng on the other hand, gak mampu bikin gue transport ke masa lalunya Nyoman Wenten karena pengadeganan dia se-boring itu. Treatment visualnya aja nggak ada bedanya ketika dia nge-shoot bagian dokumentasi. Nggak dibedain. Se-bland itu.

Jadi yaaa… begitulah.

Mungkin Livi Zheng bisa aja claim bahwa film ini memenuhi syarat buat masuk Oscar dan dapat pujian dari Yorma Madus, Candy Washington dan Nicole Mucci (PLIS, GUE PENGEN TAU SIAPA MEREKA SEBENERNYA), tapi at the end of the day apakah filmnya emang sesuai klaim itu, ya lo harus buktikan sendiri.

Karena keliatan kok, karya yang emang beneran bagus dan diapresiasi sama kritikus beneran dan festival yang emang prestisius macam Marlina si Pembunuh Empat Babak atau film-filmnya Edwin atau film-filmnya Garin Nugroho atau film-filmnya Joko Anwar atau film-filmnya Yosep Anggi Noen atau film-filmnya Kamila Andini, sama orang yang cuman bisa klaim sana sini karena dia tau dia nggak punya hal lain yang bisa ditawarin ke penonton.

Dan gue percaya, penonton Indonesia pinter-pinter.

poster

Bali: Beats of Paradise tayang serentak di seluruh bioskop di Indonesia mulai 22 Agustus 2019

Komentar