gundala by candra aditya 02 story

Kala is. And I will explain.

 

Kalo lo nggak tinggal di Papua yang akses internet bahkan listriknya diputus, lo mungkin tau bahwa Gundala, film ketujuhnya Joko Anwar rilis ke bioskop tanggal 29 Agustus 2019 lalu. Sampai gue nulis tulisan ini gue udah nonton tiga kali. Gue nonton hari Kamis, hari Sabtu dan hari Minggu. Dan gue sampai di kesimpulan bahwa I enjoyed the movie but it’s not Joko Anwar’s finest film.

Sebagai fans Joko Anwar sejak 2005, seperti yang gue tulis di artikel ini soal peringatan dua tahun film Pengabdi Setan, gue selalu merasa bahwa storytelling Joko Anwar sangat rapi dan tersusun dengan baik. Tentu saja ketika dia ngetwit bahwa “skenario adalah tulang punggung dari sebuah film”, dia tau apa yang dia omongin. Dari Janji Joni sampai Pengabdi Setan, gue merasa bahwa dia adalah pembuat film yang tahu benar bagaimana cara bercerita. Entah mau straight-forward kayak Janji Joni atau sengaja dibuat labirin kayak Pintu Terlarang, he knows how to tell a fucking story. Ditambah dengan skill penyutradaraan dia yang diatas rata-rata, jadilah dia salah satu sutradara yang paling bersinar di negeri ini.

Tapi gue merasa ada yang janggal ketika nonton Gundala untuk pertama kalinya. Rasanya kayak ada sesuatu yang aneh. Nggak biasanya nonton filmnya Joko Anwar dan gue mempertanyakan soal cerita setelah filmnya selesai. Meskipun feeling seusai nontonnya membaik setelah nonton kedua dan ketiga kali karena gue bisa memperhatikan detil-detil lainnya (dan gue sarankan lo untuk melakukan hal yang sama), tapi tetap ada sesuatu yang mengganjal. Dan ternyata hal itu disebabkan oleh begitu banyak hal yang terjadi dalam Gundala.

Oke ini cuman teori gue tapi menurut gue salah satu hal yang membuat Gundala rasanya kurang asoy dibandingkan dengan film-film Joko Anwar yang lain adalah karena durasi filmnya dipaksakan dua jam. Durasi ini ngaruh banyak terutama ke potensi mendapatkan cuan. Karena kalo film lo lebih dari dua jam, jam tayang lo nggak bakalan dapet 6 kali pemutaran di bioskop. Bisa jadi malah cuman 5 atau bahkan 4 kali kayak kasus Bumi Manusia. Dan dalam waktu dua jam tiga menit, Gundala harus menceritakan origin story tentang Sancaka menjadi Gundala dari ketika bocah sampe gede dan juga harus establishing dunia Bumi Langit Cinematic Universe. It’s a lot. Dan itu mungkin menjelaskan kenapa tempo filmnya ngebut banget kayak pas lo cuman waktu pacaran lima belas menit sama pacar lo sebelum bonyoknya pulang ke rumah. Gas terus, Pak.

Dan ini anomali (get it?) karena Joko Anwar tau banget tempo karena film-film doi biasanya sangat well-edited to perfection sementara Gundala menurut gue editingnya agak choppy. Kayak nggak dikasih nafas gitu rasanya.

Tapi bukan itu yang gue mau tulis di sini. Gue mau nyeritain tentang betapa Gundala mengingatkan gue atas film Joko Anwar lain yang membuat gue pengen bikin film. Film tersebut judulnya Kala.

poster kala

Kala dirilis tahun 2007 ketika gue kelas 2 SMA. Waktu itu gue internship di sebuah toko komputer, bukan di desa penari. Dan karena gue suka banget sama Janji Joni, ketika gue tau Kala tayang hari itu, gue langsung nonton. Lengkap dengan bekal mie ayam yang udah dingin di tas gue karena gue beli jam 4 sore. Bekal ini penting karena waktu itu gue masih alim. Gue masih puasa senen-kamis. Gue literally buka puasa dengan makan mie ayam dingin di dalam bioskop pas adegan Fachri Albar dan Shanty cipokan.

bts 1

Gue nonton bersama tiga couple di Dieng Plaza kota Malang. Karena gue cuman liat posternya dan nggak nonton trailernya, gue bener-bener nggak tau apa yang akan gue saksikan. Dan alangkah terkejutnya gue ketika gue nonton Kala yang tenyata campur-campur. “Ini film apaan?” pikir gue waktu itu yang informasi soal film hanya tau dari IMDB dan majalah M2.

Even sampe sekarang gue nggak tau mau nyebut Kala sebagai film dengan genre apa.

bts 2

Apakah ini noir? Apakah ini thriller?

Dan setelah gue nonton Gundala, satu pertanyaan muncul di kepala gue: apakah Kala sebenernya superhero film?

bts 3

Kalo lo belum nonton Kala, gue sarankan lo untuk nonton Kala sekarang karena gue akan menjelaskan Kala secara mendetail.

Dan lo gak bisa marahin gue “Can, spoiler banget” karena filmnya udah berumur 12 tahun soo…

bts 4

Kala dibuka dengan Eros (Ario Bayu) dan Hendro (August Melasz) berdiri di sebuah tempat dengan mayat yang kebakar. Mereka berdua adalah detektif yang tentu saja lagi memecahkan misteri siapa-yang-bakar-orang ini.

2 eros

On the other hand ada jurnalis namanya Janus (Fachri Albar) yang lagi proses cerai dengan Sari (Shanty). Sari nyeraiin Janus karena Janus penderita narkolepsi. Dia kalo lagi terlalu bakalan ketiduran. Terlalu marah, terlalu sedih, terlalu emosional, terlalu kaget sampe terlalu sange dia bakalan bobo. Sebagai bini, Sari tentu saja bete karena dah lama nggak diservis Janus. Makanya dia ceraiin.

1 janus

Janus kemudian mencoba untuk wawancara istri korban yang dibakar di awal film tadi. Dia nggak jawab. Makanya si Janus diem-diem naruh tape recordernya di dekat situ. Satu-satunya yang ibu bilang di tape itu adalah sebuah lokasi. Bukit Bendonowongso, depan Candi Tujuh Anak Tangga. Masalahnya si Janus ngedengerin hasil rekamannya ini sama sohibnya, Subandi (Tipi Jabrik) yang mau pindah ke Tenggara. Malamnya Tipi Jabrik meninggal dengan kepala terbelah setelah sebelumnya dia dikejar-kejar sama makhluk berambut panjang berkulit putih yang jalannya merangkak. Gue satu-satunya orang yang tereak ketika sequence ini muncul dan membuktikan bahwa enam orang lainnya yang nonton di bioskop waktu itu sepertinya nggak nonton film.

4 bandi

Janus dan Eros akhirnya bertemu karena Subandi yang tewas. Dan di kantor polisi ternyata Janus ketemu dengan polisi-polisi aneh yang nanyain dia soal lokasi tersebut. Keadaan mulai menjadi aneh karena investigasi Eros dan Janus membawa mereka ke Ranti (Fahrani), adik ipar si mayat terbakar di awal film.

3 ranti

Sementara Eros terus mencari tahu soal misteri ini, Janus diculik politikus dan dibakar. Anehnya Janus tetap selamat dan Sari tiba-tiba balik ke kehidupan Janus. Yang tentu saja punya motif lain. Karena Sari sebenernya cuman pesuruh politikus yang ingin tahu lokasi tersebut. Baik Sari dan politikus tersebut meninggal. Tragedi ini bikin Janus memutuskan untuk bunuh diri dan tentu saja, karena dia mempunyai peran lain yang dia belum tahu, dia masih diselamatkan. Tapi satu hal yang pasti: semua orang yang tahu rahasia soal lokasi ini akan mati, kecuali si Janus.

5 sari

Seolah semua kegilaan ini belum juga bikin pusing, Eros baru aja dapet info soal Ramalan Jayabaya. Ramalan ini katanya akurat. You see, dalam Kala, dunia yang ada adalah dunia yang suram. Rakyat-rakyat miskin semua, sementara yang kaya tetap kaya. Yang menderita makin suffering dan yang kaya makin sering makan tenderloin. Dan menurut Ramalan Jayabaya, keadaan ini akan terus berlanjut sampe akhirnya negara akan menemukan Ratu Adil, pemimpin yang katanya bisa handle this situation.

6

Sementara itu, Janus diculik oleh para politikus karena lokasi tersebut ternyata adalah sebuah lokasi yang dicari-cari semua orang. Lokasi tersebut adalah lokasi harta karun peninggalan presiden pertama. Harta yang ada disini katanya tak bernilai. Fungsinya adalah sebagai simpenan kalo-kalo negara ini nantinya butuh dana. Politikus-politikus ini akhirnya tahu bahwa mitos soal siapapun yang tahu rahasia lokasi ini akan mati itu benar adanya dan bahwa ya, harta karun tersebut ada.

10

Dan di bukit tersebut semuanya bertemu dan semua misteri terpecahkan. Janus, Eros, politikus-politikus itu dan…. si pembunuh yang membunuhi orang-orang yang tahu rahasia lokasi tersebut. Ternyata orang yang membunuhi orang-orang tersebut adalah Ranti yang memang merupakan utusan turun temurun untuk menjaga rahasia lokasi harta karun ini. Dan makhluk halus yang selama ini muncul di sepanjang film itu ternyata “asistennya” Ranti saat dia beraksi.

9

Lo harus liat ekspresi gue ketika pertama kali Ranti muncul dengan Wonder Woman mode on-nya. Goosebumps can't even describe my experience. Sumpah gue tepuk tangan di bioskop saat adegan ini muncul (yang tentunya bikin tiga couple yang nonton bingung, “Nih apaan bocah tepuk tangan?”). Makin hardcore si Ranti bunuhin para politikus ini dengan pedangnya, gue makin hepi.

Kemudian kita sampai di narasi terakhir Kala. Narasi yang menurut gue mengkonfirmasi argumen gue bahwa Kala adalah sebuah film superhero pertamanya Joko Anwar:

“Sang Penidur (Janus) akan menyampaikan harta kepada Sang Ratu Adil (Eros), pemimpin yang membawa bangsa ke pintu kemakmuran. Di sebelah bukit ketiganya akan bertemu. Tapi pertemuan adalah awal dari sebuah perjuangan yang berat karena sejak saat itu kejahatan juga akan bersatu untuk membuat mereka gagal. Perang, penyakit, bencana akan datang silih berganti menguji perjuangan mereka.”

7

I mean, that’s like major cliffhanger right there. Introduction sudah dilakukan. Lo tau siapa karakter-karakternya. Lo tau dimana settingnya. Lo tau apa stakesnya. Lo tau siapa yang jahat, siapa yang baik. Dan lo tau ancaman yang akan datang. It’s exactly like the end of Gundala.

“Tapi Can, film superhero kan harusnya nyeritain tentang orang-orang yang punya kemampuan super?”

bts 5

Well, memang benar bahwa di Kala bahwa baik Janus maupun Eros mereka nggak punya kemampuan super yang bisa bikin mereka jadi superhero per se. Satu-satunya karakter yang mempunyai kemampuan super di film ini cuman Ranti. Tapi bukankah ini masih film pertama dari trilogi yang dijanjikan Joko Anwar? We never know what’s going to happen to them di film-film berikutnya (kalo jadi dibuat). Mungkinkah Janus akan bisa bikin orang tidur juga? Atau bahkan mungkin si Eros akan punya kekuatan maha dahsyat kayak Superman? Fakta bahwa makhluk halus kayak Pindoro aja nyembah ke Eros mengindikasikan bahwa dia punya kemampuan super yang belum diasah dong? Ya nggak? There’s a lot of possibility.

bts 6

Selain unsur fantasinya yang nggak sedikit, Kala juga nyeritain tentang orang-orang yang berjuang melawan ketidakadilan dan politikus-politikus korup yang jahat. That’s like Batman premise right there. And also Gundala. Ya kan? Kebetulan aja Kala karakter-karakter utamanya nggak ada yang berantem heboh atau punya gadget-gadget canggih.

bts 7

Jadi yes, Gundala bisa jadi film pertamanya Bumi Langit Cinematic Universe tapi menurut gue Kala adalah film superhero pertamanya Joko Anwar. Gue suka daydreaming apa yang terjadi kalo misalnya Kala dibuat dengan bujet segede Gundala. Atau apa yang terjadi kalo ada orang yang bilang ke Joko Anwar, “Yaudah, Jok, lanjutin trilogi Dead Time lo.”

It will be a fucking riot.

Dan gue akan mengakhiri artikel ini dengan statement ini: gue percaya bahwa dunia di Kala dan dunia di Gundala adalah dunia yang sama. Kalo lo udah nonton keduanya, let’s discuss. Mungkin next time gue akan tulis lebih panjang.

Kala bisa disaksikan di Hooq

poster gundala

Gundala tayang serentak di seluruh bioskop di Indonesia mulai 29 Agustus 2019

Komentar