pretty boys 1

Menilik lebih dalam film terbaru Desta dan Vincent.

 

Kalo lo belum tau, Indonesia sekarang lagi ada masa di mana dia kayak komputer temen gue yang lagi kena virus Trojan. Buka Microsoft Word aja nggak bisa saking erornya itu komputer. Nah Indonesia lagi kayak gitu sekarang. Kasus Papua belum kelar, kemudian ada asap bikin Kalimantan dan Sumatra sesak nafas dan pemerintah malah ngerilis campaign #SawitBaik. Itu ibaratnya kayak lo kesandung batu dan bukannya pergi beli plester malah ambil batu yang lebih keras dan lo jatuhin ke bekas luka lo.

Oh dan itu semua belum cukup. Karena masih ada kekacauan mengenai KPK yang bikin banyak pejabat gabut jadi lebih gampang untuk korupsi dan lebih susah untuk ditangkap dan RKUHP lain yang sepertinya bakalan bikin lo susah untuk ngentot sama pacar lo (plis editor jangan sensor kata ini karena gue lagi marah). Gue nggak ngerti kenapa para pemimpin bangsa ini lebih terobsesi ngurusin kehidupan seks warganya daripada menjamin keselamatan dan keamanan warga-warganya. Seperti yang gue bilang tadi, Indonesia lagi kayak komputer temen gue dulu yang kena virus Trojan.

Dan dengan begitu banyak hal yang bikin kepala ini mumet, nonton film komedi adalah salah satu cara paling jitu untuk bikin kita jadi relax. The best way to unwind. Pretty Boys langsung menjadi pilihan yang pas. Dengan Desta dan Vincent sebagai pemeran utamanya, film ini sepertinya bisa jadi obat mujarab untuk bikin ketawa. Fakta bahwa ini film merupakan debut penyutradaraan dokter/penyanyi, Tompi, juga bikin gue makin penasaran buat nonton.

Pretty Boys menceritakan tentang persahabatan dua orang, Anugerah (Vincent) dan Rahmat (Desta). Mereka berdua asalnya dari kampung dan sekarang struggle berdua di Jakarta. Keduanya kerja di sebuah restoran jadi chef. Atau lebih tepatnya tukang masak.

1

Mereka melakukan ini untuk bertahan hidup meskipun passion mereka sebenarnya adalah menjadi bintang televisi yang bersinar. Dari kecil mereka sudah pengen terkenal. Mereka terkesima nonton Famili 1000 (ya, 1000 bukan 100) dan beranggapan bahwa menjadi host televisi sepertinya cara paling mutakhir untuk menjadi sukses. Itu sebabnya ketika Asty (Danilla) bilang bahwa ada bos TV datang ke restoran tempat mereka bekerja, mereka langsung bersemangat untuk tampil.

2

Anugerah dan Rahmat melakukan segala cara untuk dapet gig gig yang sesuai dengan cita-cita mereka. Termasuk menjadi penonton sebuah acara televisi talk show bernama Kembang Gula.

3

Dan di sanalah sebuah kesempatan muncul. Anugerah dan Rahmat setelah sebuah pertunjukan heboh ditawari untuk menjadi co-host acara ini. Dan akhirnya mereka pun bersinar. Sementara Rahmat diam-diam menikmati kehidupan barunya sebagai bintang, Anugerah diam-diam merasa bahwa semua hal yang ia lakukan di Kembang Gula bertentangan dengan ideologi ayahnya (Roy Marten).

4

Untuk ukuran sebuah film debut, Pretty Boys bisa dibilang cukup berhasil untuk menjadi sebuah film yang proper. Tompi tahu bagaimana mengarahkan pemain. Dia tahu beat film sehingga editingnya cukup oke. Jokes dan dramanya berjalan dengan seimbang. Dan yang menjadi kekuatan Tompi adalah visualnya sangat menarik. Dibandingkan dengan banyak sutradara film Indonesia, bahkan yang udah bikin film lebih dari lima, Pretty Boys is so nice to look at. Komposisi gambar dan color tone-nya enak banget untuk diliatin lama-lama. Tompi bisa bikin set yang itu-itu aja bisa jadi nggak bosenin.

5

6

Dan sebagai penonton MTV Bujang gue tau apa yang gue dapatkan dari Vincent dan Desta. Pretty Boys adalah jenis film yang didesain berdasarkan kedua pemain utamanya. Ibaratnya kalo misalnya film ini dimainkan sama pemain lain, rasanya nggak akan sama kayak gini. Dalam Pretty Boys, lo bisa merasakan persahabatan Anugerah dan Rahmat yang penuh dengan history karena Vincent dan Desta juga punya history itu. Mereka nggak perlu nyari lagi untuk dapetin chemistry. Semuanya udah ada dari awal. Dan ini adalah senjata utama Pretty Boys.

7

8

Tapi bukan Vincent dan Desta yang mau gue bahas secara mendalam di tulisan ini. Nggak. Gue mau bahas soal bagaimana film ini menggambarkan bagaimana laki-laki dan perempuan seharusnya berperilaku.

Dalam Pretty Boys, setelah si Anugerah dan Rahmat memutuskan untuk keluar dari restoran tempat mereka bekerja, Rahmat mendapatkan ajakan untuk menjadi penonton acara televisi. Si Rahmat sih bilang bahwa jadi penonton bayaran ini gampang karena yang penting bisa joget sesuai dengan acara tersebut. Kalo lo sering nonton acara TV, lo tau acara mana yang dia maksud. Dan dibawalah kita ke acara taping tersebut.

9

Everything is fun and game sampai akhirnya muncul koordinator penonton acara tersebut yang menyambut Anugerah dan Rahmat. Dan karakteristik dari koordinator penonton acara tersebut dibikin kemayu. Rahmat dan Anugerah langsung meng-address ini. Mereka juga menambahkan bahwa kaget juga mereka melihat laki-laki yang gahar, tatoan dan brewokan ternyata kemayu.

Di sini perasaan gue mulai nggak enak.

Kemudian Rahmat dan Anugerah dibawa ke ruang make-up. Dan si tukang make-upnya langsung duduk di pangkuan Rahmat. Rahmat yang kaget langsung bilang, “Ini nggak apa-apa nih?” Dan si tukang make-up yang lagi-lagi kemayu bilang, “Nggak akan menular kok, kan bukan cacar.”

10

Sementara semua orang di studio 2 Blok M Square pada ketawa ngakak, gue makin merosot dari kursi gue.

Kemudian Rahmat dan Anugerah yang udah didandani jadi agak cakepan dibawa ke tribun penonton. Disana mereka akhirnya notice bahwa hampir semua penonton bayaran acara tersebut juga kemayu. Rahmat dan Anugerah meng-address ini lagi. Tentu saja sebagai jokes.

Kemudian karakter host acara Kembang Gula yang diperankan oleh Ferry Maryadi muncul dan dia mengejutkan Rahmat dan Anugerah karena dia, seperti halnya koordinator acara, tukang make-up dan penonton bayaran acara Kembang Gula tersebut, juga kemayu.

11a

11b

Dan kita belum masuk ke turning point act pertama film ini. Ini semua masih set-up. Turning pointnya adalah ketika Anugerah dibawa ke depan sebagai peserta kuis (ini setelah sebelumnya Ferry Maryadi yang berperan kemayu bilang ke koordinator penonton untuk dicarikan penonton yang “cucoyk” yang bisa “dibungkus”) dan akhirnya ikut menjawab pertanyaan karakter Ferry Maryadi juga dengan kemayu. Dan untuk menambah jokes, Rahmat juga ikut ke panggung dan mereka bertiga mulai bebancian di depan kamera.

Dan setelah itu, Rahmat dan Anugerah langsung ditawari untuk jadi co-host sama pemimpin kreatif acara tersebut, Bayu atau Mas Bay (Imam Darto). Dan apa karakteristik dari Mas Bay? Ya, dia juga dibikin kemayu.

12

Jadilah si Anugerah dan Rahmat harus berpura-pura kemayu di depan kamera bersama karakter Ferry Maryadi setiap hari secara live. Dan ini jadi masalah karena bapaknya Anugerah, Jono, adalah jenis tentara super kaku yang pengen anaknya melakukan hal-hal yang tidak memalukan nama keluarga. Bebancian di depan kamera termasuk hal tersebut.

Tentu saja masih ada plot yang berhubungan dengan cinta segitiga antara Anugerah, Rahmat dan Asty dan juga manager artis yang jahat. Tapi hal yang paling bikin gue mengkeret di dalam bioskop adalah semua hal yang berhubungan dengan penggambaran karakter-karakter kemayu itu.

13

Don't get me wrong, gue get banget soal pesan film ini bahwa “in order for you to survive and thrive in television, you have to sell your soul”. Gue get banget soal itu. Yang nggak gue get adalah betapa hitam putihnya Pretty Boys memandang gender roles.

“Can, it’s a jooookkkkkkeeeeee…”

Yes, I know. Tapi it’s a kinda uncomfortable kalau lo mau menelaah lebih dalam seperti yang gue lakukan sepanjang perjalanan dari Blok M Square ke kosan.

Dalam Pretty Boys, berulang-ulang kali karakter Rahmat dan Anugerah membuat komen atau bereaksi yang negatif terhadap karakter-karakter kemayu yang ada di sekitar mereka. Dan ini kemudian di-amplify dengan betapa kerasnya respon bapak Anugerah ketika melihat anaknya dandan jadi perempuan di depan televisi.

14

Yang gue dapet dari ini semua adalah seolah-olah kalo lo cowok, lo harus macho, manly dan nggak boleh nangis waktu nonton The Fault In Our Stars. Dan ini semakin di-confirm dengan celetukan Asty di akhir film ketika Rahmat dan Anugerah bertemu. Dalam adegan ini Asty bilang (kalo nggak salah ya, gue nggak gitu hapal, “Kalian nih cowok bukan sih? Jangan-jangan yang ada di panggung itu bukan akting lagi?”

I mean, dude it’s 2019. Bentar lagi 2020 dan bentar lagi kita semua mati karena hutan udah nggak ada dan global warming is coming. Masih ada aja yang mikir cowok nggak boleh nunjukin sisi vulnerable-nya. Cowok juga manusia kali.

15

Ada momen di mana gue mikir mungkin kegalauan karakter Anugerah ketika makin lama dia harus menjual harga dirinya demi rating karena dia tersadar bahwa dia nggak mengerti struggle yang dialami oleh para trans people. Bahwa dia adalah heterosexual guy yang nyari duit dengan pretending to be trans or acting like a gay people di depan televisi. Tapi kemudian gue melihat bagaimana Anugerah dan Rahmat bereaksi ketika mereka interaksi dengan karakter kemayu. Dan gue tersadar bahwa karakter Anugerah nggak se-woke itu. Apalagi ketika dia bertemu dengan karakter trans prostitute yang diperankan oleh Tora Sudiro.

16a

Ini *mild spoiler* (jangan dibaca kalo lo nggak mau ke-spoil, lo bisa langsung skip ke paragraf berikutnya). Ada momen dimana Anugerah di saat tergalau dia bertemu dengan trans prostitute yang diperankan oleh Tora Sudiro. Awalnya karakter Tora menggoda Anugerah tapi kemudian mereka berduaan dan ngobrol. Disana yang tadinya karakter Tora flirting dan kemayu berubah menjadi tegas setelah mereka menghabiskan waktu ngobrol bersama. Dan tentu saja ada jokes di mana karakter Tora yang memakai full make-up dan dress, tereak kenceng nyeremin ke pengamen yang ganggu. Tapi yang bikin gue gelisah bukan itu. Yang bikin gue gelisah adalah ketika si Anugerah pamit ke karakter Tora untuk balik ke kampung, karakter Tora bilang, “Jangan kayak gue ya.”

Hmmm…

16b

Ini guenya aja mungkin yang terlalu over sensitive tapi ini beneran mengkonfirmasi bahwa dalam dunia Pretty Boys, menjadi sesuatu yang di luar norma patriarki adalah hal yang salah. Ini terbukti dengan penggambaran karakter Tora yang digambarkan bahwa dia menjadi trans prostitute karena dia menjadi kepala keluarga. Ya jadi dia sebenarnya straight cuman dia harus menjadi trans prostitute karena itu mata pencaharian dia. Dalam arti lain terjemahannya adalah “walaupun dia melakukan pekerjaan yang berdosa, dia melakukannya demi kebaikan karena dia masih ayah dan suami yang bertanggung jawab”.

Which is kinda sad karena begitu banyak trans people yang memang merasa bahwa mereka nggak belong dengan tubuh mereka sendiri dan struggle mereka cuman dianggap becandaan dalam film ini. Gue bahkan belum bahas soal penderitaan para trans prostitute beneran ya. Itu udah gue nggak bisa bahas lagi.

17

Ketika film berakhir, gue akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan bahwa seperti dua karakter utamanya, cara berfikir Pretty Boys mengenai gender roles masih analog. Di sebuah zaman digital seperti jaman sekarang, Anugerah dan Rahmat masih bercita-cita menjadi bintang televisi. Dan jadi cowok harus macho. And I don't know which one is worse: ngeliatin Anugerah dan Rahmat ngetawain para cowok-cowok yang nggak sesuai dengan ekspektasi dunia patriarki atau ngeliat penonton tertawa setuju dengan statement ini.

poster pretty boys

Pretty Boys mulai tayang di seluruh bioskop di Indonesia mulai tanggal 19 September 2019

Komentar