tokyo international film festival 2019 part 10

Foxtrot Six masuk di seksi Crosscut Asia Tokyo International Film Festival

 

Foxtrot Six, salah satu film Indonesia termahal yang pernah ada dengan bujet yang mencapai (katanya) 70 milyar, tayang di Indonesia pada Februari 2019. Film berbahasa Inggris yang disutradarai oleh Randy Korompis tersebut dimainkan oleh bintang-bintang papan atas Indonesia seperti Oka Antara, Chiko Jerikho, Julie Estelle dan masih banyak lagi.

Kali ini dalam gelaran Tokyo International Film Festival (TIFF) yang ke-32, gue mendapatkan kesempatan untuk interview sutradara dan penulis Foxtrot Six sekaligus pemeran utama dalam film tersebut, Oka Antara. Berikut adalah hasil interview gue sama mereka. Check this out:

Provoke: Nulis skrip kan gampang ya...

Randy: Oh gampang banget wooo...

Provoke: ...dibandingkan dengan bikinnya. Pertanyaan saya adalah ketika skripnya udah jadi apa yang paling susah untuk divisualisasikan?

Randy: Yang paling susah divisualisasikan dari skrip?

Provoke: Iya.

Randy: Terbalik sih. Visualisasi dulu baru nulis skrip. Jadi... I don’t know... bisa jawab nggak ya tuh ya?

Provoke: Maksud gue...

Randy: Oh realisasinya? Bukan visualisasi. Merealisasikan? Kalo realisasi, banyak sih yang susah. Karena saya mimpi dulu kan? Untuk bikin mimpi itu jadi kenyataan. Karena film Indonesia masih jarang yang, yang futuristic. Jarang banget gitu kan. Kita semua rame-rame tuh bekerja sama, “Gimana nih cara kita...?” Kita belum ada kayak, mungkin kalo kayak disini, di Jepang, misalnya kayak baju, suit. Mereka udah bikin dari jaman Kamen Raider. Kotaro Minami jaman dulu kan. Udah berpengalaman kan? Tinggal tanya senior-seniornya aja kan. Kalo sekarang karena kita belum terlalu ada, kita harus ada research sendiri gitu kan. Dan visual efek juga masih jarang. CGI juga. Jadi learning by doing sih. Nanya-nanya orang. Coba-coba.

mvimg 20191031 173737

Provoke: Sutradara film action kan biasanya lebih gampang untuk nge-hire aktor yang punya basic training di martial arts daripada dramatic actor kayak Mas Oka. Pertanyaan saya adalah apa alasan Mas Randy untuk milih Mas Oka sebagai lead di Foxtrot Six?

Randy: Ya karena mungkin saya dari pertama film ini bukan mau bikin film action. Basic dari film ini adalah drama sebenernya. Ini sebenernya adapah cerita tentang karakter yang berkonflik gitu. Action hanyalah letupan dari drama yang terjadi. Film-film action yang saya suka tuh kurang lebih seperti itu. Bukan hanya action saja. Jadi sangat penting buat saya untuk karakter dulu. Aktor profesional dulu itu paling penting. Lalu fight scene-nya itu bisa dipelajarin karena saya yakin sama Oka sejak pertama kali ketemu dari 8 tahun lalu, dari pertama kali Foxtrot Six mulai. Kita bikin short movie udah sama Oka, Mike Lewis dan Verdi Solaiman dan kawan-kawan. Jadi saya udah tau bahwa mereka udah pasti bisa excel di aktingnya tapi untuk kalo belajar fighting mereka juga pasti bisa.

Oka: Kita pengen ngasih vibe yang profesional, yang bagus terhadap perfilman Indonesia. Ketika seorang filmmaker mau bikin film action itu apa sih yang dia butuhkan? Jadi harus ada drama experience, human conflict. Yang harus bisa dimainkan oleh orang-orang yang sudah memiliki mileage di bidang film, drama. Sama seperti ketika filmmaker bikin film tentang orang buntung kakinya, dia di kursi roda, veteran perang. Apakah yang main harus orang handicapped? Ada film tentang martial arts tapi yang main apakah harus orang yang jago silat? Kalau karakternya matanya buta, apa harus dimainkan sama orang-orang yang matanya buta? Itulah makanya sesama rekan profesi itu, seperti sutradara, sinematografer, aktor, itu semua saling mempengaruhi satu sama lain. Karena kita belajar dari nol. Dan memang dengan cara ini, Randy dan sutradara seprrti Joko Anwar, memberikan message yang baik kepada kita para aktor. Kalo ada film seperti itu dan kita nggak bisa di bidang martial arts ya kita harus belajar. Dan ini semua untuk kepentingan sinema.

Randy: Dan kita selalu kerja sama sama orang-orang yang terbaik di bidangnya...

Oka: Belajar ilmu bela diri yang terbaik di bidangnya... Dari sang ahli.

Randy: Kita bekerja sama dengan Uwais Team. Mereka yang hebat, sangat profesional sekali. Cara melatihnya tuh salut.


Provoke: Mas Oka kan mau main film drama atau film action kan selalu ada persiapannya. Walaupun mungkin beda-beda cara persiapannya. Setelah bermain di berbagai macam genre, Mas Oka lebih suka main di film seperti apa?

Oka: Drama. Karena drama buat saya... Saya bisa mendapatkan sesuatu yang saya petik. Secara pelajaran akting. Karena akting buat saya adalah pelajaran hidup yang sangat panjang yang tidak akan ada habisnya. Kalo martial arts, gun training dan militer itu kan sifatnya teknis. Tapi kalo akting tuh kita bisa pake kapan saja ketika kita mau mengaspirasikan diri kita untuk main di film lagi di usia berapalah itu. Dan... Seru aja sih untuk berada di sebuah kesempatan di-set, beradu akting dengan lawan main atau sendiri namun kita bisa unjuk kebolehan bahwa kita sedang hanyut di dalam sebuah adegan. Kalau di action kan kayak, "Iya sih seru juga," kalo lagi adegan berantem. Tapi kalo adegan berantem tuh berapa lama sih? Kayak lo kan sering nonton film kayak Fast and Furious. Bahkan lo sendiri misalnya, "Eh lo udah nonton film Fast and Furious belum?" "Gue udah nonton." Kenapa gue nonton ya? Karena kita suka menemukan diri kita kayak, "Kenapa kita nonton ini ya?" Banyak banget film-film yang nggak ada sinematis-sinematisnya sama sekali.

mvimg 20191031 173732

Provoke: Pertanyaan terakhir, Mas Oka kan main banyak karakter dari Rasus di Sang Penari, Hari di Hari Untuk Amanda, Farish di Aruna dan Lidahnya sampai Heli di Mencari Hilal. Menurut Mas Oka, apa yang menarik dari karakter seorang Angga di Foxtrot Six?

Oka: Ah yang paling interesting dari dia berkutat di area yang abu-abu. Dan dia orangnya sangat arogan. Padahal dia berasal dari nobody. Dia bukan siapa-siapa. Tapi dia bisa sampe ada di sebuah state of mind bahwa dia tuh untouchable. Nggak ada yang bisa ngalahin dia. Apa sih yang bisa bikin manusia sampe segitu sih, searogan itu, sesombong itu? Bahkan dia nggak mau level-headed, nggak mau grounded, nggak mau membumi gitu lho. Itu yang bikin saya tarik kesimpulannya ketika saya mengambil film ini bahwa hampir setiap karakter itu memiliki gejolak abu-abu sendiri gitu lho.

Interview ini sudah disingkat dan diedit.

mv5bnme0mdyxnjmtnze3os00mjqxlwfkodctyjlinji0mdrizjqzxkeyxkfqcgdeqxvynji3mdyxmjg. v1

Foxtrot Six masuk di seksi Crosscut Asia Tokyo International Film Festival

Komentar