20190315194010_img_9133.JPG

Salah satu filmnya sempat masuk Top 10 Indonesia Short Film Festival SCTV 2019, lho!

Yayyyy! Akhirnya Provoke! Flick hadir lagi, nih. Kali ini Provoke! Flick diadain di Visma Coworking Surabaya pada Jum'at (15/03). Berkolaborasi sama Kinne Komunikasi Surabaya, sebuah kelompok media perfileman yang berasal dari program studi Ilmu Komunikasi Universita UPN Jawa Timur, Provoke! Flick memutarkan tiga film karya dari kawan-kawan Kinne. 

20190315190504_img_9113.JPG

Tiga film yang diputarkan di Provoke! Flick adalah Bias karya dari Dwi Setiaji, Ambigu karya dari Aldy Solehudin, dan Welas Asih karya dari Ryan Nur Pratama. Habis nonton film bareng nih, para penonton yang udah dateng diajak untuk diskusi bersama filmmaker dari setiap film. Salah satu film yang cukup menyita perhatian adalah Bias karya dari Dwi Setiaji, film ini memiliki keunikan tersendiri yakni nggak memiliki ending alias akhir cerita. Dwi Setiaji mengatakan bahwa film ini sengaja dibuat dengan tanpa ending alias akhir yang jelas. "Lebih tepatnya film ini nggak ada ending-nya alias nggak ada akhirnya. Saya membiarkan penonton dan penikmat film sendiri yang menilai dan memberikan presepsi terhadap film ini," ujar Dwi Setiaji.20190315191106_img_9129.JPG

Provoke! Flick beruntung juga karena kali ini bisa memboyong salah satu film yang berhasil masuk ke Top 10 Indonesia Short Film Festival SCTV 2019. Adalah Welas Asih yang disutradarai oleh Ryan Nur Pratama. "Waktu itu tim Kinne summit untuk ajang tersebut. Nggak nyangka dari 800 film, terpilihlah kami tersaring menjadi 100 hingga 10 besar. WAH banget rasanya bisa kepilih, sebuah apresiasi bagi kami yang udah bikin film. Tapi dari hal ini kami nggak berpuas diri, kami ingin bisa ikutan kompetisi atau ajang film lagi biar lebih produktif," kata Ryan Nur Pratama. Welas Asih sendiri merupakan sebuah film pendek yang mengangka cerita mitos mistis di Indonesia yakni Wewe Gombel. Ryan dan tim film mengatakan mereka memiliki alasan tersendiri kenapa memilih mengangkat Wewe Gombel untuk menjadi film. "Sebenernya Wewe Gombel yang selama ini dianggap ngeri itu ada sisi baiknya. Ia adalah hantu perempuan yang menculik anak-anak tapi dipilih dulu yakni yang tidak diperdulikan oleh keluarga atau anak-anak kurang perhatian. Kami ingin menunjukan sisi lain dari Wewe Gombel ke penonton," imbuh Ryan. 20190315194010_img_9133.JPG

Selepas diskusi, nggak lupa P! juga sempat memberikan hadiah ke penonton yang udah sempat bertanya, nih! Lumayan sebagai tanda kenangan habis nonton Provoke! Flick lha yaaa, hehe. 

20190315200040_img_9147_1.JPG

Di akhir diskusi, para filmmaker juga sempat memberikan sebuah harapan untuk kemajuan film independen. "Semoga bukan cuma anak muda yang nonton film independen, tapi generasi sebelumnya juga bisa menikmati film indipenden," ujar Dwi Setiaji, sutradara film Bias. Wuhuuu, semoga keinginan ini bisa tercapai dan didengar oleh seluruh penonton di Indonesia.

20190315200351_img_9154.JPG

Nggak lupa nih, sebelum pulang ke rumah masing-masing semua penonton diajak foto bareng dong yhaaa biar inget kalau pernah ke Provoke! Flick, hehe. Thank you buat yang udah dateng dan sampai ketemu di event berikutnya!

Photo by Debby Utomo (Redaksi Provoke! Magazine)

Komentar