745x489 img 43053 pendar artwork kota ingatan

Sebuah nomor sarat pesan.

Enam bulan pasca merilis bonus track berbentuk video footage "Memoar" yang diambil dari debut album mereka, "Kurun", Kota & Ingatan melempar nomor "Pendar" dalam format video klip di Youtube pada 14 April 2019.

"Pendar", seperti halnya catatan lain dalam album mereka yang puspa warna, memancing rasa penasaran dengan bagan musik repetitif pada melodi gitar maupun tema utama vokal yang berulang-ulang, berkelindan dengan departemen teksnya yang begitu kuat.

Eksperimentasi Kota & Ingatan yang luas dan berani, juga terdengar pada segmen poliritmik, multi ketukan yang saling bersahut di sepanjang lagu, dipagari ambiens yang disusun dari komposisi musiknya yang lamat, perlahan menginterpretasikan kesemrawutan hari ini di bagian outro.

Bait, ''Tetaplah terjaga, kita masih di keramaian yang sama,'' yang tegas dihadirkan sebagai topik utama pada awal video, memberikan bocoran pada pendengar berkenaan dengan apa catatan dan video ini dirancang.

pendar artwork

Hanya beberapa hari setelah perilisan klip "Pendar", pemilihan umum capres dan cawapres di Indonesia diadakan serempak. Ketegangan pendukung masing-masing kubu kian meninggi dari awal tahun 2019 hingga jelang pemilihan umum dilaksanakan.

Saling sikut dan tikam saat bertatap langsung maupun di media sosial tak terhindarkan dari kedua kubu. Politik identitas khas parade lima tahun sekali digaungkan, pupur kedua calon di kedepankan, dan masyarakat saling dibenturkan, di antara hiruk pikuk jargon siapa yang paling mulia, paling manis janjinya, paling sederhana, paling agamis, paling tegas, dan segala 'paling' yang memperkeruh keadaan sesungguhnya.

Tragis, hal-hal subtil dari parade ini kian bias, tatkala pembicaraan soal penegakan HAM yang tak kunjung usai, hingga kasus pembangunanisme tak masuk akal yang mengorbankan alam dan manusia, absen dari debat kusir di televisi, di manapun, di kehidupan sehari-hari.

Ketegangan tersebut diterjemahkan Kota & Ingatan melalui "Pendar".

Pada bait, ''Seperti kejenuhan yang paling jenuh dalam kerumunan yang paling riuh, kita berdiri di pinggir jalan yang sama,'' atau deretan teks macam, ''Kebohongan yang paling satir dalam kemurungan yang paling kapir,'' lalu ''Kekalahan yang paling amis dalam kesombongan yang paling lamis,'' lantas ditegaskan dengan bait repetitif ''Kita (masih) berdiri di pinggir jalan yang sama. Tetaplah terjaga, kita masih di keramaian yang sama,'' berturut-turut mengajak pendengar menyimak potret hari ini dengan keterjagaan yang seharusnya.

Ya, pemilu akan selalu dilaksanakan lima tahun sekali, roda 'politik berbagi kekuasaan' pun terus berputar, janji penuntasan kasus HAM pun hanya sebatas jargon lima tahun sekali tatkala deretan jenderal yang paling bertanggung jawab pada rentetan tragedi paling kelam di Indonesia masih melanggeng di pemerintahan. Kota & Ingatan mewanti-wanti situasi ini dalam deretan teks, ''Tetaplah terjaga, kita masih di keramaian yang sama.”

Sementara penegakan HAM tak kunjung usai, percepatan pembangunan tak lagi masuk akal ketika tidak lagi berpihak pada alam dan manusia, tatkala reklamasi di Teluk Benoa, pembangunan bandara dan tambang pasir besi di Kulonprogo, hingga pembangunan pabrik semen di Rembang, serta berbagai konflik agraria di Indonesia tetap berjalan betapapun tidak memenuhi syarat uji kelayakan AMDAL (Analisis Dampak Lingkungan).

Melalui catatan "Pendar", Kota & Ingatan menyelipkan alarm betapa nasib sesungguhnya tak hanya ditentukan lima tahun sekali, sebab perjuangan dan perwujudan janji harian jauh lebih penting ketimbang euforia tahunan tersebut. Maka, ''Tetaplah terjaga, kita masih di keramaian yang sama.”

Bekerja bersama videographer, Dhani Phantom, serta dua aktor, Muhamad Rizal Kurniadi dan Muhammad Ayodya Putra, catatan "Pendar" divisualkan melalui video hitam putih nan menerjemahkan deretan ketegangan tersebut; yang kian mengeras jelang dan sesudah pemilihan umum dilaksanakan.

Komentar