thumb thepanturas 2017

Dengerin lagu-lagunya berasa diajak ke pantai.

Musik bernuansa surf rock kembali eksis nih dunia musik tanah air. Kali ini, giliran The Panturas yang berhasil merebut hati para pendengar muda khususnya pecinta musik surf rock yang kini semakin dikenal lagi.

The Panturas yang terbentuk di Jatinangor sejak tahun 2016 ini mencoba mendobrak sistem geografis dalam sebuah band. Terbentuk di dataran tinggi, tidak menjadi penghalang untuk The Panturas dalam menciptakan band dengan genre yang bericiri khas pantai ini.

The Panturas mengangkat tema-tema yang dekat dengan kehidupan masyarakat dalam tiap lagunya dan dikemas secara unik dengan adanya sentuhan metafora laut di dalamnya.

Buat bisa tau lebih dalam lagi nih tentang The Panturas, P! dapet kesempatan buat wawancara The Panturas secara langsung agar dapat menjawab segala rasa penasaran yang ada dalam di dalam hati dan jiwa kalian. Ceilaaaaah.

Langsung aja deh nih simak hasil wawancaranya:

P!: Halo The Panturas! Kenalan dulu dong. Jadi, personil The Panturas itu siapa aja sih sebenernya?

The Panturas: Jadi, The Panturas tuh berisi 4 orang remaja tanggung bernama Abyan, Gogon, Rizal sama Kuya.

P!: Kalo boleh tau untuk formasi bandnya sendiri gimana tuh?

The Panturas: Oh iya! Abyan itu sebagai vokalis, Kuya main drum, Rizal di gitar dan Gogon di bass.

P!: Kenapa kalian milih nama The Panturas? Kalian emang suka nonton dangdut Pantura apa gimana?

The Panturas: Nggak juga sih. The Panturas tuh awalnya karena kita awalnya pingin bikin project surf rock gitu. Jadi, ada salah satu band panutan kita banget yaitu The Ventures yang merupakan band dari Amerika tahun 60-an. Terus, karena sebelumnya kita belum punya nama, jadi kita kepikiran nyari nama buat project ini. Pas itu pernah kepikrian buat kasih nama Onta atau Arabian Spring, cuma ya karena kita butuh cepet, jadi aja kita bikin nama awalnya Project Ventures. Nah, dari situ lama-lama kita kepikiran punya nama The Panturas yang sebenernya hasil plesetan dari The Ventures yang dikasih sentuhan kearifan lokal. Lagian The Panturas ini bisa jadi singkatan juga dari Pantai Utara Selatan terus bisa juga jadi Pantai Batu Karas, hahaha.

P!: Nah, cerita dong awal kebentuknya The Panturas sendiri gimana sih?

The Panturas: Jadi, awalanya Rizal dan Kuya punya project musik tapi nggak jalan. Nah, karena masih ada sisa orang dari project tersebut, akhirnya kita bikin lagi project musik yang beda. Kuya yang awalnya ngusulin buat bentuknya surf rock. Kemudian, 2 orang personil awal kita keluar terus abis itu kita ketemu Abyan dan Gogon deh.

P!: Awal kebentuknya The Panturas ini kan dari Jatinangor, sedangkan daerahnya sendiri ada di gunung, tapi kenapa sih kalian memilih untuk bikin band dengan genre surf rock yang biasanya identik dengan daerah pantai? Padahal Jatinangor sama pantai kan jauh banget.

The Panturas: Ya, alasan utamanya sih karena kita bosen, kepingin ke pantai berujung dengan ngayal-ngayal bikin lagu dengan suasana kaya di pantai. Lagian sekarang kan udah zaman internet kan jadi musik itu udah nggak berdasarkan geografis gitu loh. Jadi nggak selalu di gunung ada band folk atau di dataran rendah selalu ada band surf rock.

P!: Kalo dari hasil P! baca-baca, kan lagu kalian yang judulnya "Fisherman’s Slut" tuh terinspirasi dari bentuk prostitusi yang berada di laut. Kenapa sih kalian memilih tema prostitusi ini? Padahal di Indonesia prostitusi itu menjadi tema yang sensitif.

The Panturas: Awalnya lagu ini tuh bikinan Kuya yang masih ngawang-ngawang gitu. Kita tuh suka liat banyak supir truk yang suka mondar-mandir ke warung-warung remang. Nah, kita tuh kaya mempertanyakan kalo di laut dengan keadaan nelayan yang berhari-hari nggak pulang terus buat mengatasi hawa nafsunya gimana. Setelah itu kita coba buat searching di internet ternyata ada berita buat kasus prostitusi di laut Indonesia itu.

Sebenernya kita pingin gambarin aja sih bahwa di Indonesia tuh ada bentuk fenomena kumpulan perempuan yang pergi ke laut buat memperdagangkan dirinya ke kapal-kapal asing gitu. Dari sudut pandang The Panturas atas fenomena ini sendiri sih ada di bagian reff lagu "Fisherman’s Slut."

P!: Kalian kan juga punya lagu yang judulnya Gurita Kota, sebenernya lagu itu nyeritain tentangapa sih? Apa kalian sengaja milih tema yang nyeleneh gitu buat lagu-lagu kalian?

The Panturas: Gurita kota sebenernya tuh pengalaman yang dialami oleh orang banyak sih. Jadi kalo kita naik motor posisinya ada di belakang bus Damri, truk, Kopaja atau konvoi motor, biasanya kan mereka suka memonopoli jalan dengan jalan lambat dan juga suka ada asep yang langsung ninju ke muka, nah dari situ kita menggambarkan gurita dengan tangan yang banyak itu seperti asep dan konvoi motor yang memonopoli jalan. Sebenernya, kita tuh mengambil tema yang ada di sekitar kita aja tapi dengan metafora laut gitu.

P!: Kasih tau doong, kira-kira band lain yang menjadi inspirasi kalian dalam bermusik tuh apa aja?

The Panturas: Banyak banget sih. Kalo dari surf rock yang era awal ada dari The Ventures terus Dick Dale. Oh iya, ada juga La Luz. Terus buat band Indonesia ada dari The Southern Beach Terror.

P!: Kedepannya The Panturas mau ada rencana untuk ngeluarin apa aja nih? Ngeliat sekarang kalian kan belum ngeluarin rilisan fisik apapun.

The Panturas: Kita rencananya mau ngeluarin album yang akan dirilis oleh Lamunai Records yang sebelumnya pernah ngerilis ulang album Harry Roesli dan juga ngerilis album dari Kelompok Penerbang Roket.

P!: Masuk ke pertanyaan terakhir nih gaes. Harapan kalian buat The Panturas kedepannya apa sih?

The Panturas: Harapannya jadi keren sih. Terus kalo udah kaya, bikin Organic Records kaya Maliq & D’essentials dengan based-nya di pulau-pulau-pulau terpencil.

Nah, buat kalian yang penasaran nih mau kenal lebih lanjut dengan The Panturas bisa langsung tengok-tengok atau follow Instagramnya di @ThePanturas atau kalo mau dengerin lagu-lagunya bisa cek ke https://soundcloud.com/the-panturas.

(Foto: The Panturas dok.)

Komentar