Buat gue, menekuni bidang musik dan fokus kepada bisnisnya sudah kayak makanan sehari-hari selama lebih dari 10 tahun belakangan. 
 
Pantes aja gue makin ndud yah, karena suka sama makanannya jadinya gak terasa gue sering mengunyah asupan-asupan bergizi yaitu jurnal tentang bisnis musik. Perjalanan gue selama kurang lebih dua minggu kemaren untuk Tur Asia Tenggara dengan Nokia MixRadio mempertemukan gue pada pelaku-pelaku industri musik yang ada di Malaysia, Singapura, Vietnam dan Thailand.
 
Menyenangkan sekali ngobrol-ngobrol bareng mereka. Dan pemikiran mereka tentang masa depan industri musik pun sangat menakjubkan. Mungkin loe sama seperti gue yang memulai terjun ke musik usai menonton sebuah konser musik dan yakin bisa membuat hal yang sama bahkan lebih baik.  Membuat musik, merekamnya dan menjualnya adalah tiga langkah yang keliatannya mudah dan setelah itu akan berbuah sukses yang besar. Apalagi jika kita yakin punya bakat untuk membuat musik, punya modal untuk merekam musik di studio dan menyewa orang-orang yang ahli serta punya koneksi ke label rekaman untuk dapat membantu menjualnya ke pasaran.
 
Sukses di musik ternyata memerlukan faktor lain daripada tiga faktor yang gue sebut diatas. Bisa itu keberuntungan atau juga konsistensi dalam melakukan ini. Gue mencoba untuk tidak terlalu berharap kepada keberuntungan karena everything happen not by accident. Harus ada usahanya coy! Banyak yang merasa setelah punya karya musik maka kesuksesan akan mudah menghampiri mereka. Nggak salah sih, tapi sejauh pengalaman gue, hanya sebagian kecil saja yang dapat keberuntungan tersebut.
 
Berbisnis musik itu harus punya tujuan. Bisa itu untuk albumnya laku, terkenal atau jadi istri pejabat yang penting itu adalah juga tujuan loe. Mantapkanlah diri serta konsisten untuk mencapai tujuan dari bermusik yang loe jalanin.
 
Ada hal yang menarik yang gue pelajari selama gue berada di bandara-bandara tersebut selama gue dalam Tur Asia kemaren. Kebanyakan pintu masuk bandara hingga gerbang keberangkatan berjarak berkilo-kilo meter dan ini memerlukan waktu yang cukup panjang. Untungnya, bandara modern paham betul bahwa waktu yang dimiliki oleh para calon penumpang ini sangatlah berarti tiap detiknya. Terlambat sedikit untuk mencapai gerbang boarding maka bisa jadi kita tertinggal pesawat terbang.
 
Bandara modern melengkapi dirinya dengan ‘walkway’ atau lantai berjalan yang membantu percepatan perjalanan dari pintu masuk menuju gerbang keberangkatan. Pengamatan gue di bandara ini mendapati bahwa ketika orang-orang ini berada diatas walkway, mereka cenderung akan memperlambat langkah mereka atau bahkan berhenti dan membiarkan walkway mengantarkan mereka sampai ke tujuan.
 
Bukan suatu yang salah sih tapi perilaku itu mengindikasikan bahwa ketika kita mencapai suatu fase kenyamanan seperti tadi nyaman diantarkan ke gerbang boarding dengan walkway maka cenderung dari kita melambatkan gerak atau semangat kita. Lihat saja dalam bermusik, band-band atau musisi-musisi yang sukses berat di album pertama maka album berikutnya menjadi sebuah pembuktian bahwa mereka serius. Atau malah gak jarang dijumpai band yang tadinya non-signed yang gotong royong merancang karirnya memiliki musik yang unik dan menarik namun ketika mereka di kontrak oleh label rekaman dan mendapatkan diri mereka dalam kenyamanan rekaman di studio mewah dengan berbagai fasilitas maka tak jarang musik mereka berubah.
 
Bermusik itu udah kayak lari marathon aja. Kita berlari menuju garis finish yang merupakan tujuan kita bermusik. Dan sebuah tujuan itu harus direncanakan serta bisa jadi bukanlah terwujud dalam seketika. Sukses melalui sebuah proses. Bersabar dan teruslah berusaha. Jangan terlalu pedulikan orang-orang yang tidak percaya pada kesuksesan bermusik kamu. Himpunlah energy dari orang-orang yang percaya dan mendukung. Karena itu adalah tenaga kita dalam berlari marathon mencapai sukses berbisnis musik.

Komentar