Akhir tahun 2013 mencuat kabar tentang akan ditutupnya toko CD musik Aquarius di Jl. Mahakam Blok M Jakarta. Banyak orang yang merasa ini pertanda kematian bagi industri musik di Indonesia.
 
Apalagi dengan melihat kenyataan  bahwa jumlah toko yang spesialis menjual CD musik berangsur menurun dari tahun ke tahunnya. Tahun 90-2000an adalah tahun emas penjualan musik melalui medium CD musik dan juga kaset. Namun dengan munculnya teknologi baru yang memudahkan mendapatkan musik, CD musik pun tak lagi banyak diminati. Dan akhirannya Toko CD musik Aquarius kedua yang ada di Jakarta ini harus menghentikan operasi nya menyusul toko CD yang berlokasi di Pd. Indah.
 
Sebetulnya kalau mau jujur, CD musik saat ini sudah tidak lagi di jual hanya di toko yang spesialis menjual musik. Karena kita juga dapat mendapatkannya di restoran ataupun toserba kebutuhan sehari-hari. Emang kadang agak gengsi aja mengakui kalau sampe dijuluki “artis ayam”. Lagian sih kenapa gengsi? Orang mau cari duit halal koq.
 
Menarik jika menilik banyak restoran sekarang ikut menjual CD. Sebutlah Kentucky Fried Chicken yang menjadi pioneer kesuksesan menjual CD dibalut dengan paket makan. Texas Fried Chicken pun mencoba hal yang sama, begitu pula Es Teler 77 dan terakhir adalah resto Ohlala.
 
Gue melihatnya CD disini sudah bukan lagi satu-satunya yang mewakili apa yang disebut industri musik. Karena apa yang dilihat dari resto tersebut adalah untuk mendapatkan prestise bahwa resto nya tempat makan para artis ternama juga. Bukanlah CD yang menjadikan orang tertarik untuk datang ke resto tersebut. Namun penggunaan visual artis dan musik di promo-promo yang dibuat mereka menjadikan pertanda.Kebetulan saja CD adalah gimmick tangible yang dijadikan merchandise untuk itu.
 
Musik adalah sebuah konten yang dapat melebur kemana-mana. Tidak melulu ke bentuk CD. Kita pernah mengalami masa-masa Ringbacktone menjadi populer. Lagu yang dipotong menjadi 30-45 detik itu menjadi mesin uang bagi para produser. Itu padahal bukan lagu utuh tetapi balik lagi, musik menjadi konten yang memperkaya sebuah layanan.
 
Sebutlah yang menurut gue sangat menarik saat ini adalah penggunaan musik lewat synchronization rights, yaitu musik yang digunakan di film. Apalagi saat ini banyak sekali sineas yang membuat film, dan alat monetisasi yang paling gampang adalah dengan Youtube. Sebagai konten, musik lebih leluasa menjelma jadi apa saja untuk dapat menghasilkan uang.
 
Perusahaan alat telekomunikasi pun memanfaatkan musik sebagai konten untuk menaikkan nilai dari alat yang diproduksinya. Sekian jumlah lagu dibenamkan secara gratis demi kepuasaan penggunanya. Sebuah solusi yang saling menguntungkan buat penikmat musik dapat menikmati lagu secara legal, pembuat alat mendapat keuntungan dari penjualan dan musisi mendapatkan royalty dari konten musik yang ada didalamnya. Bukankah itu sangat indah?
 
Musik pun dapat diolah sebagai mash-up atau sebagai ajang unjuk diri selera bermusiknya dengan menyusun playlist. Sehingga penggunaan musik sudah tak perlu lagi kahadiran format CD karena dapat menjelma sebagai konten yang melebur kemana-mana.
 
Sebagai wujud dari pengalaman atau ekspresi emosional pun musik kembali lagi melebur kedalam tempat karaoke. Orang tidak perlu memberi CD, mereka hanya perlu pelampiasan emosi yang dapat disampaikan dengan bengak-bengok di bilik karaoke. Kepuasan yang dirasakan ditukarkan dengan sewa yang dibayarkan membuat peleburan musik sebagai konten di tempat karaoke menjadi suatu hal yang bukan tidak mungkin juga menghasilkan uang.
 
So buat gue, kenapa pesimis sih dengan ditutupnya sebuah toko CD? Karir bermusik loe tidak berhenti karena sebuah toko CD musik tutup. Dan ini pula bukanlah sebagai matinya industri musik karena selama orang masih bersenandung artinya musik masih disukai. Malahan gue melihatnya buat Indonesia tahun 2014 ini adalah kelahiran kembali industri konten dan musik menjadi pucuk terdepannya. Sedap!
 

Komentar